BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata antara Israel dan Hezbollah semakin memanas di medan tempur maupun di meja pemerintahan pada hari Kamis. Pemerintah Lebanon berencana melayangkan pengaduan resmi kepada Dewan Keamanan PBB sebagai respon atas agresi militer Israel yang kian meluas.
Dalam konteks ini, peperangan yang pecah sejak 2 Maret lalu kini memasuki fase penghancuran infrastruktur sipil yang masif. Militer Israel terus berupaya membangun “zona penyangga” di wilayah selatan guna menghentikan serangan roket Hezbollah yang bertujuan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.
Boikot Kabinet dan Protes di Kedutaan Iran
Ketegangan politik domestik di Beirut mencapai puncaknya saat sidang kabinet berlangsung hari ini. Para menteri dari faksi Hezbollah dan sekutunya, Amal, secara resmi memboikot pertemuan tersebut. Oleh karena itu, jalannya pemerintahan Lebanon kini berada dalam kondisi kelumpuhan fungsional.
Selain itu, aksi boikot ini dipicu oleh keputusan pemerintah yang memerintahkan Duta Besar Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Di luar ruang sidang, puluhan demonstran berkumpul di pinggiran selatan Beirut guna memberikan dukungan kepada Teheran. “Menteri Luar Negeri Youssef Raggi tidak mewakili kami. Ia menjalankan keputusan Israel,” tegas Farida Noureddine, salah satu pengunjuk rasa kepada AFP.
Update Medan Tempur: Jatuhnya Korban di Kedua Belah Pihak
Operasi darat Israel di Lebanon selatan terus menunjukkan kemajuan harian yang lambat namun konsisten. Seorang sumber militer menyebutkan pasukan Israel mulai merangsek lebih dalam di dekat kota Taybeh dan Khiam. Meskipun demikian, Hezbollah mengeklaim telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menyasar barak militer di utara Israel hingga kompleks kementerian pertahanan di Tel Aviv.
Sebagai hasilnya, militer Israel mengonfirmasi gugurnya seorang tentara dalam pertempuran di selatan. Di sisi lain, layanan darurat Israel melaporkan satu warga sipil tewas di wilayah Nahariya akibat hantaman roket dari Lebanon. Serangan udara Israel di Nabatiyeh juga meratakan sebuah bangunan dan menewaskan sedikitnya dua orang warga sipil.
Tragedi Kemanusiaan dan Kematian Jurnalis
Biaya manusia dari perang ini sangat mengerikan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 1.116 orang telah tewas sejak awal Maret, termasuk 121 anak-anak. Terlebih lagi, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mendesak penyelidikan atas kematian Hussain Hamood. Jurnalis lepas saluran TV al-Manar tersebut tewas dalam serangan udara di Nabatiyeh pada hari Rabu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam hal ini, militer Israel mengeklaim telah menewaskan sekitar 700 pejuang Hezbollah sejak awal konflik. Namun, kelompok tersebut hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah kerugian personel mereka. Kehadiran Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, di Beirut pekan ini membawa seruan tegas agar Israel segera menghentikan agresinya yang merusak kedaulatan Lebanon.
Menanti Intervensi Dewan Keamanan PBB
Dunia kini memantau langkah diplomasi Lebanon di markas besar PBB di New York. Pada akhirnya, kemampuan perdamaian regional bergantung pada seberapa cepat komunitas internasional merespon pengaduan kedaulatan yang Perdana Menteri Nawaf Salam ajukan. Dengan demikian, tanpa adanya gencatan senjata segera, Beirut berisiko jatuh ke dalam jurang kekacauan politik dan kemanusiaan yang jauh lebih dalam di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















