Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah

Jumat, 27 Maret 2026 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah kongsi di Beirut. Saat militer Israel merangsek masuk ke Lebanon Selatan dan jumlah korban tewas melampaui 1.100 jiwa, pemerintah Lebanon justru menghadapi krisis internal akibat keputusan pengusiran duta besar Iran. Dok: Istimewa.

Pecah kongsi di Beirut. Saat militer Israel merangsek masuk ke Lebanon Selatan dan jumlah korban tewas melampaui 1.100 jiwa, pemerintah Lebanon justru menghadapi krisis internal akibat keputusan pengusiran duta besar Iran. Dok: Istimewa.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata antara Israel dan Hezbollah semakin memanas di medan tempur maupun di meja pemerintahan pada hari Kamis. Pemerintah Lebanon berencana melayangkan pengaduan resmi kepada Dewan Keamanan PBB sebagai respon atas agresi militer Israel yang kian meluas.

Dalam konteks ini, peperangan yang pecah sejak 2 Maret lalu kini memasuki fase penghancuran infrastruktur sipil yang masif. Militer Israel terus berupaya membangun “zona penyangga” di wilayah selatan guna menghentikan serangan roket Hezbollah yang bertujuan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.

Boikot Kabinet dan Protes di Kedutaan Iran

Ketegangan politik domestik di Beirut mencapai puncaknya saat sidang kabinet berlangsung hari ini. Para menteri dari faksi Hezbollah dan sekutunya, Amal, secara resmi memboikot pertemuan tersebut. Oleh karena itu, jalannya pemerintahan Lebanon kini berada dalam kondisi kelumpuhan fungsional.

Selain itu, aksi boikot ini dipicu oleh keputusan pemerintah yang memerintahkan Duta Besar Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Di luar ruang sidang, puluhan demonstran berkumpul di pinggiran selatan Beirut guna memberikan dukungan kepada Teheran. “Menteri Luar Negeri Youssef Raggi tidak mewakili kami. Ia menjalankan keputusan Israel,” tegas Farida Noureddine, salah satu pengunjuk rasa kepada AFP.

Baca Juga :  Tragedi Tumbler Ridge: Polisi Identifikasi Pelaku Penembakan

Update Medan Tempur: Jatuhnya Korban di Kedua Belah Pihak

Operasi darat Israel di Lebanon selatan terus menunjukkan kemajuan harian yang lambat namun konsisten. Seorang sumber militer menyebutkan pasukan Israel mulai merangsek lebih dalam di dekat kota Taybeh dan Khiam. Meskipun demikian, Hezbollah mengeklaim telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menyasar barak militer di utara Israel hingga kompleks kementerian pertahanan di Tel Aviv.

Sebagai hasilnya, militer Israel mengonfirmasi gugurnya seorang tentara dalam pertempuran di selatan. Di sisi lain, layanan darurat Israel melaporkan satu warga sipil tewas di wilayah Nahariya akibat hantaman roket dari Lebanon. Serangan udara Israel di Nabatiyeh juga meratakan sebuah bangunan dan menewaskan sedikitnya dua orang warga sipil.

Tragedi Kemanusiaan dan Kematian Jurnalis

Biaya manusia dari perang ini sangat mengerikan. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 1.116 orang telah tewas sejak awal Maret, termasuk 121 anak-anak. Terlebih lagi, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mendesak penyelidikan atas kematian Hussain Hamood. Jurnalis lepas saluran TV al-Manar tersebut tewas dalam serangan udara di Nabatiyeh pada hari Rabu.

Baca Juga :  Jepang Kirim Utusan Khusus ke Pertemuan Board of Peace

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, militer Israel mengeklaim telah menewaskan sekitar 700 pejuang Hezbollah sejak awal konflik. Namun, kelompok tersebut hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah kerugian personel mereka. Kehadiran Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, di Beirut pekan ini membawa seruan tegas agar Israel segera menghentikan agresinya yang merusak kedaulatan Lebanon.

Menanti Intervensi Dewan Keamanan PBB

Dunia kini memantau langkah diplomasi Lebanon di markas besar PBB di New York. Pada akhirnya, kemampuan perdamaian regional bergantung pada seberapa cepat komunitas internasional merespon pengaduan kedaulatan yang Perdana Menteri Nawaf Salam ajukan. Dengan demikian, tanpa adanya gencatan senjata segera, Beirut berisiko jatuh ke dalam jurang kekacauan politik dan kemanusiaan yang jauh lebih dalam di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar
DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia
Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz
Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz
Kebakaran Hutan Riau Kian Parah, BNPB Catat 2.713 Hektare Lahan Terbakar Sejak 2026
Karyawati Pokemon Center Tewas Ditikam Penguntit di Hadapan Publik
Polisi Bongkar Peredaran Senpi Ilegal, Revolver dan Peluru Diselundupkan via Merak
Polisi Tangkap 2 WNA Liberia di Jakbar, Modus Black Dollar Kembali Terbongkar

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 10:38 WIB

Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:35 WIB

Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:49 WIB

DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:31 WIB

Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Jumat, 27 Maret 2026 - 07:27 WIB

Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz

Berita Terbaru

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem

INTERNASIONAL

Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar

Jumat, 27 Mar 2026 - 09:35 WIB

Blokade dalam kedok regulasi. Garda Revolusi Iran (IRGC) memberlakukan sistem

INTERNASIONAL

Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Jumat, 27 Mar 2026 - 08:31 WIB

Hitungan mundur yang tertunda. Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz hingga 6 April 2026, sementara ribuan pasukan lintas udara Amerika Serikat mulai memasuki zona tempur. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata Buntu: Trump Ulur Ultimatum Selat Hormuz

Jumat, 27 Mar 2026 - 07:27 WIB