Dari F-35 hingga Airbus: Politik di Balik Industri Pertahanan Transatlantik

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Proyek senjata bersama seperti F-35 mengikat AS dan Eropa, namun persaingan sengit antara kontraktor pertahanan raksasa sering kali memicu krisis diplomatik. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Proyek senjata bersama seperti F-35 mengikat AS dan Eropa, namun persaingan sengit antara kontraktor pertahanan raksasa sering kali memicu krisis diplomatik. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Di jantung aliansi militer Barat, terdapat sebuah paradoks yang mendefinisikan hubungan AS dan Eropa. Di satu sisi, kerja sama dalam pengembangan dan pembelian senjata canggih menjadi perekat aliansi. Namun di sisi lain, industri pertahanan adalah bisnis triliunan dolar. Persaingan sengit antara raksasa Amerika dan Eropa sering kali meluap menjadi ketegangan diplomatik.

Setiap kontrak besar, dari jet tempur siluman hingga kapal selam nuklir, bukan hanya transaksi komersial. Ia adalah pernyataan politik yang menguji batas antara kemitraan dan persaingan.

Perekat Aliansi: Proyek Senjata Bersama

Kekuatan NATO terletak pada interoperabilitas. Ini adalah kemampuan pasukan dari berbagai negara anggota untuk beroperasi bersama secara mulus. Hal ini hanya bisa tercapai jika mereka menggunakan peralatan yang kompatibel.

Contoh paling nyata adalah program F-35 Joint Strike Fighter. Program yang dipimpin oleh Lockheed Martin dari AS ini melibatkan beberapa negara Eropa sebagai mitra industri sejak awal. Keputusan banyak negara Eropa—mulai dari Inggris, Italia, hingga Jerman—untuk membeli F-35 telah mengikat angkatan udara mereka dengan teknologi dan logistik Amerika untuk beberapa dekade mendatang. Proyek seperti ini memperkuat fondasi aliansi.

Baca Juga :  WFA Berlaku di DKI Jakarta 29–31 Desember, Pramono Pastikan Pelayanan Optimal

Sumber Perpecahan: Persaingan Bisnis Raksasa

Namun, di balik kerja sama itu, terdapat persaingan brutal. Kontraktor pertahanan AS seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon bersaing langsung dengan konsorsium Eropa seperti Airbus dan Dassault. Persaingan ini sering kali melampaui batas bisnis dan masuk ke ranah politik.

  • Perang Tanker: Selama bertahun-tahun, Boeing dan Airbus terlibat dalam pertarungan lobi yang sengit. Mereka memperebutkan kontrak pengadaan kapal tanker pengisian bahan bakar untuk Angkatan Udara AS. Drama ini melibatkan protes diplomatik dan tuduhan proteksionisme.
  • Pilihan Jet Tempur sebagai Pernyataan Politik: Ketika sebuah negara Eropa memilih jet tempur buatan Eropa seperti Rafale, itu sering kali dilihat sebagai dukungan terhadap “otonomi strategis” Eropa. Sebaliknya, keputusan Jerman memilih F-35 baru-baru ini dianggap sebagai pukulan bagi ambisi pertahanan Prancis.
  • Krisis AUKUS: Ketegangan memuncak dengan pakta keamanan AUKUS. Dalam pakta ini, AS dan Inggris setuju membantu Australia membangun kapal selam bertenaga nuklir. Kesepakatan ini secara tiba-tiba membatalkan kontrak kapal selam konvensional Prancis senilai puluhan miliar dolar. Hal ini memicu krisis diplomatik terburuk antara Paris dan Washington dalam beberapa dekade.
Baca Juga :  Bisnis Perang: Menyoroti Kompleks Industri Militer

Politik di Atas Segalanya

Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa keputusan dalam industri pertahanan jarang sekali murni teknis atau ekonomis. Membeli sistem senjata dari AS sering kali dipandang sebagai cara memperkuat jaminan keamanan Washington. Sebaliknya, memilih produk Eropa adalah sinyal komitmen untuk membangun industri pertahanan Eropa yang mandiri.

Pada akhirnya, industri pertahanan mencerminkan dilema inti aliansi transatlantik itu sendiri. Kebutuhan keamanan kolektif mendorong mereka untuk bekerja sama. Namun, kepentingan ekonomi nasional dan ambisi strategis memaksa mereka untuk bersaing. Mengelola keseimbangan yang rapuh ini akan terus menjadi tantangan utama bagi para pemimpin di kedua sisi Atlantik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi
Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi
20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:54 WIB

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:47 WIB

Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Berita Terbaru

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Mar 2026 - 21:54 WIB

Pemberontakan sipil di seluruh negeri. Gelombang ketiga aksi

INTERNASIONAL

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB