Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

Membongkar narasi perang. Perspektif Keamanan Kritis mengungkap bagaimana konstruksi maskulinitas militeristik mendominasi kebijakan luar negeri dan sering kali mengabaikan kerentanan nyata perempuan di wilayah konflik. Dok: Istimewa.

STOKHOLM, POSNEWS.CO.ID – Studi keamanan global pada tahun 2026 tengah mengalami guncangan intelektual yang hebat. Para pemikir mulai mempertanyakan mengapa wajah perang selalu identik dengan maskulinitas tertentu. Dalam konteks ini, perspektif Keamanan Kritis membongkar cara pandang tradisional yang telah lama mendominasi meja perundingan perdamaian dunia.

Negara-negara menyadari bahwa kebijakan pertahanan yang “buta gender” justru sering kali menciptakan ketidakamanan baru. Oleh karena itu, memahami keterkaitan antara ego maskulin dan pengambilan keputusan militer menjadi kunci untuk memutus rantai kekerasan global.

Konstruksi Maskulin: Pahlawan, Agresi, dan Logika Perang

Dalam kacamata Keamanan Kritis, perang bukan sekadar benturan kepentingan antar-negara. Sebaliknya, perang adalah panggung bagi manifestasi maskulinitas militeristik. Konsep “pahlawan” sering kali pemerintah bingkai melalui kemampuan untuk melakukan agresi dan dominasi fisik terhadap pihak lain.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, bahasa diplomasi internasional sering kali menggunakan metafora yang sangat maskulin. Istilah-istilah seperti “penetrasi wilayah” atau “kekuatan keras” mencerminkan cara pandang yang menempatkan kelembutan sebagai kelemahan. Akibatnya, pemimpin yang memilih jalur kompromi sering kali dicap sebagai sosok yang tidak tegas atau “feminin”. Oleh sebab itu, logika perang di tahun 2026 masih terjebak dalam upaya pembuktian kejantanan politik yang sangat destruktif bagi peradaban.

Baca Juga :  Apakah Kecerdasan Buatan Bisa Memiliki Tanggung Jawab Moral?

Dampak Konflik: Tubuh Perempuan sebagai Medan Tempur

Bias gender dalam keamanan memiliki konsekuensi yang sangat mematikan di lapangan. Salah satu fenomena yang paling mengerikan di tahun 2026 adalah penggunaan kekerasan seksual sebagai senjata perang yang terencana. Dalam hal ini, penyerangan terhadap perempuan bertujuan untuk menghancurkan moral komunitas lawan dan menodai kehormatan kelompok tersebut.

Terlebih lagi, kondisi di kamp pengungsian menunjukkan tingkat kerentanan yang tidak proporsional bagi perempuan dan anak-anak. Ketiadaan infrastruktur keamanan yang peka gender membuat mereka rentan terhadap perdagangan manusia dan eksploitasi ekonomi. Sebagai hasilnya, studi keamanan konvensional sering kali gagal mencatat penderitaan ini karena terlalu fokus pada pergerakan tank dan artileri di garis depan. Keamanan fisik seorang ibu di pengungsian sering kali dianggap kurang penting dibandingkan keamanan perbatasan sebuah rezim.

Redefinisi Keamanan: Mengutamakan Individu di Atas Negara

Menghadapi kenyataan ini, komunitas internasional mulai mendorong redefinisi makna “aman”. Perspektif Keamanan Kritis mendesak agar fokus utama kebijakan dialihkan dari kedaulatan negara yang abstrak menuju perlindungan individu yang nyata. Dalam hal ini, kedaulatan negara tidak ada artinya jika warga negaranya terus hidup dalam ketakutan dan kekerasan domestik.

Baca Juga :  Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun

Secara simultan, pendekatan “Keamanan Manusia” mewajibkan keterlibatan perempuan dalam setiap tahap negosiasi damai. Selanjutnya, kebijakan anggaran pertahanan mulai dievaluasi agar lebih responsif terhadap kebutuhan sosial primer masyarakat. Dengan demikian, negara tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya aktor yang berhak mendefinisikan ancaman. Suara dari kelompok marginal dan korban konflik harus menjadi kompas utama dalam merumuskan tatanan dunia yang baru di tahun 2026.

Masa depan tatanan dunia bergantung pada keberanian kita untuk menanggalkan jubah maskulinitas yang beracun dalam politik global. Pada akhirnya, keamanan sejati tidak akan pernah tercapai melalui akumulasi senjata yang mematikan.

Dengan demikian, dunia memerlukan paradigma baru yang menghargai empati dan kolaborasi sebagai kekuatan diplomatik utama. Jika kita terus membiarkan bias gender mendikte kebijakan keamanan nasional, maka tatanan dunia hanya akan melahirkan siklus kehancuran yang tak berujung. Keadilan gender adalah fondasi mutlak bagi terciptanya perdamaian abadi yang bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki
Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual
Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen
Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS
Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi
Rencana Gaza Trump Tetap Berlaku, Diskusi dengan Israel
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 13 Orang di Nizhnekamsk
Trump Tuntut Kompensasi dari Iran, Perumit Upaya Pembukaan

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:54 WIB

Trump Gunakan Pesawat Rahasia Ketiga Saat Tinggalkan Turki

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:44 WIB

Australia Pertama Kali Tanyakan Orientasi Seksual

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Mahkamah Agung Rusia Coret Yabloko dari Pemilu Parlemen

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Todd Blanche Resmi Dilantik Jadi Jaksa Agung AS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Parlemen Turki Sahkan Amnesti Bersyarat bagi Militan Kurdi

Berita Terbaru