20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mencari napas di Afrika. Pemerintah Korea Selatan mengerahkan utusan khusus ke Aljazair, Libya, dan Republik Kongo guna mengamankan rute pasok alternatif setelah perang Amerika Serikat-Iran melumpuhkan navigasi di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Mencari napas di Afrika. Pemerintah Korea Selatan mengerahkan utusan khusus ke Aljazair, Libya, dan Republik Kongo guna mengamankan rute pasok alternatif setelah perang Amerika Serikat-Iran melumpuhkan navigasi di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Jeritan minta tolong kini terus mengalir dari ratusan kapal yang membuang sauh di perairan Teluk dan Selat Hormuz. Ribuan pelaut sipil terjebak dalam kondisi memprihatinkan akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang melumpuhkan navigasi global.

Dalam konteks ini, Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) melaporkan lonjakan drastis permintaan bantuan darurat. Sejak serangan udara pertama pada akhir Februari, tim pendukung pelaut telah menerima lebih dari 1.000 pesan yang menggambarkan suasana panik dan putus asa di atas kapal.

Darurat Pasokan dan Ancaman Nyawa

Kondisi di atas kapal-kapal yang tertahan kini mencapai titik kritis. Seorang pelaut mengirimkan email pada 24 Maret lalu, melaporkan bahwa kapal mereka kehabisan bahan makanan dan air minum. Oleh karena itu, kesehatan awak kapal mulai menurun drastis di tengah suhu ekstrem dan tekanan mental akibat pengeboman yang terjadi di dekat posisi mereka.

“Kami di sini dibom. Kami tidak ingin mati. Tolong keluarkan kami dari sini,” bunyi salah satu pesan suara yang diterima koordinator ITF, Mohamed Arrachedi. Bahkan, rekaman video dari awak kapal menunjukkan ledakan dahsyat menghantam perairan hanya beberapa ratus meter dari lambung kapal mereka. Akibatnya, trauma psikologis kini menjadi ancaman yang sama besarnya dengan serangan fisik.

Baca Juga :  Di Ambang Perang? Trump Tak Tutup Kemungkinan Serang Venezuela, Armada AS Siaga Penuh

Hak Zona Perang dan Eksploitasi Tenaga Kerja

Secara hukum, International Bargaining Forum (IBF) telah menetapkan wilayah Teluk sebagai zona perang resmi. Sebagai hasilnya, para pelaut berhak atas kompensasi gaji ganda dan opsi repatriasi (pemulangan) atas biaya perusahaan. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya pola eksploitasi yang mengkhawatirkan.

Banyak pelaut melaporkan bahwa operator kapal sengaja mengabaikan permintaan mereka untuk meninggalkan zona konflik. Dalam beberapa kasus, perusahaan memaksa awak kapal untuk terus melakukan operasi pindah muatan (ship-to-ship) di wilayah berbahaya dengan alasan ketiadaan penerbangan keluar. Oleh sebab itu, pelaut pada kapal-kapal yang tidak memiliki perjanjian tenaga kerja kolektif berada dalam posisi paling rentan karena gaji mereka tetap rendah meski risiko nyawa meningkat 100 persen.

Disparitas Gaji di Tengah Pertaruhan Nyawa

Isu kompensasi menjadi pemicu ketegangan utama di internal awak kapal. ITF mencatat sekitar 50 persen korespondensi berkaitan dengan perselisihan pembayaran. Terlebih lagi, ditemukan kasus di mana pelaut hanya menerima upah dasar sebesar $16 per hari di tengah zona tempur.

Baca Juga :  Polisi Amankan 15 Remaja Konvoi Bawa Petasan di Gunung Putri Bogor

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para pemilik kapal sering kali tidak merespon desakan dari organisasi bantuan maritim. Secara simultan, banyak pelaut memilih bertahan karena ketakutan kehilangan sumber penghasilan bagi keluarga mereka di negara asal. Kondisi ini membuktikan bahwa sistem perlindungan maritim global tahun 2026 masih memiliki celah besar bagi kapal-kapal yang tidak teregulasi dengan baik.

Kesimpulan: Menanti Koridor Kemanusiaan

Masa depan 20.000 pelaut ini kini bergantung pada keberhasilan pembentukan koridor maritim aman yang diusulkan oleh IMO. Pada akhirnya, keselamatan warga sipil harus dipisahkan dari kepentingan strategis blok militer yang bertikai.

Dengan demikian, komunitas internasional harus segera memberikan tekanan pada negara-negara bendera (flag states) untuk memastikan operator kapal mematuhi hukum internasional. Tanpa adanya de-eskalasi atau evakuasi sistemik, Selat Hormuz bukan hanya akan menjadi kuburan bagi logistik energi, tetapi juga bagi ribuan tenaga kerja maritim yang tidak bersalah di tahun 2026 ini.

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus
Trump Tegaskan Tak Butuh Bantuan China Akhiri Perang Iran
ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’
Mendag Pastikan Harga Sembako Stabil, MinyaKita di Jawa-Sumatra Sesuai HET Rp15.700 per Liter
Prabowo: 10 Ribu Puskesmas Tak Pernah Diperbaiki 30 Tahun, Dana Sitaan Koruptor Dipakai Renovasi
Polisi Gerebek 2 Apartemen, 37 Cartridge Vape Etomidate Disita dari Sindikat WNA China

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:20 WIB

Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:08 WIB

KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:51 WIB

BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:31 WIB

Trump Tegaskan Tak Butuh Bantuan China Akhiri Perang Iran

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:30 WIB

ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’

Berita Terbaru

Diplomasi penuh percaya diri. Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat mampu memenangkan perang melawan Iran secara mandiri saat harga minyak mentah Brent melonjak melampaui USD 107 per barel akibat blokade Selat Hormuz. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

Trump Tegaskan Tak Butuh Bantuan China Akhiri Perang Iran

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:31 WIB