Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Pelanggaran HAM sistemik. Sebuah laporan terbaru mengungkap skala eksekusi sewenang-wenang di Korea Utara, di mana warga menghadapi hukuman mati hanya karena mengonsumsi konten budaya Korea Selatan atau materi keagamaan. Dok: Istimewa.

Foto, Pelanggaran HAM sistemik. Sebuah laporan terbaru mengungkap skala eksekusi sewenang-wenang di Korea Utara, di mana warga menghadapi hukuman mati hanya karena mengonsumsi konten budaya Korea Selatan atau materi keagamaan. Dok: Istimewa.

PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara langsung memantau uji coba darat mesin jet berbahan bakar padat yang telah ditingkatkan. KCNA melaporkan pada hari Minggu bahwa pencapaian ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan militer strategis negara tersebut secara signifikan.

Dalam konteks ini, uji coba tersebut menandakan keseriusan Kim dalam memodernisasi persenjataan rudal yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat. Oleh karena itu, teknologi baru ini menjadi pilar utama dalam strategi pencegahan nuklir Pyongyang di tahun 2026.

Rekor Daya Dorong dan Inovasi Material

Mesin terbaru ini mencatatkan daya dorong maksimum sebesar 2.500 kiloton. Angka tersebut menunjukkan peningkatan besar dibandingkan uji coba serupa pada September lalu yang hanya mencapai 1.971 kiloton. Selain itu, para insinyur Korut menggunakan material komposit serat karbon untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan mesin.

Lebih lanjut, peningkatan tenaga mesin ini memungkinkan militer untuk menempatkan beberapa hulu ledak pada satu rudal tunggal. Akibatnya, peluang rudal tersebut untuk menembus sistem pertahanan Amerika Serikat menjadi jauh lebih tinggi. Langkah teknis ini merupakan bagian dari tujuan pemutakhiran “sarana serangan strategis” dalam program militer nasional.

Baca Juga :  Polisi Tetapkan 20 Tersangka Judi Internasional T6 hingga 1XBET, Ada Lansia 76 Tahun

Retorika Politik dan Kritik terhadap AS

Laporan uji coba ini muncul hanya beberapa hari setelah Kim menyampaikan pidato keras di hadapan Parlemen Korea Utara. Ia bersumpah untuk menyemen status negara nuklir secara ireversibel. Bahkan, Kim menuduh Amerika Serikat melakukan “terorisme negara dan agresi” di tingkat global, merujuk pada situasi konflik di Timur Tengah saat ini.

Dalam hal ini, penggunaan bahan bakar padat memberikan keunggulan taktis yang besar. Rudal jenis ini lebih sulit dideteksi sebelum peluncuran dibandingkan rudal berbahan bakar cair yang memerlukan waktu pengisian lama. Oleh sebab itu, Korea Utara terus beralih ke teknologi propelan padat guna meningkatkan kesiapan tempur mereka dalam situasi darurat.

Baca Juga :  Trump Rebut Kendali Venezuela Lewat Operasi Militer Kilat

Diplomasi yang Buntu dan Hambatan Teknis

Meskipun menunjukkan kemajuan pesat, beberapa pakar asing menilai Korea Utara masih menghadapi hambatan teknologi. Misalnya, kemampuan hulu ledak untuk bertahan dalam kondisi ekstrem saat memasuki kembali atmosfer bumi (atmospheric reentry). Namun demikian, banyak pihak lain memperingatkan agar tidak meremehkan kapabilitas Pyongyang mengingat durasi riset mereka yang sudah berjalan puluhan tahun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara simultan, Kim Jong Un tetap membuka pintu dialog dengan Presiden Donald Trump. Tetapi, ia mendesak Washington untuk membatalkan tuntutan pelucutan senjata nuklir sebagai prasyarat perundingan. Pada akhirnya, uji coba mesin ini membuktikan bahwa Korea Utara lebih memilih untuk terus memperkuat otot militer strategisnya daripada menyerah pada tekanan diplomatik Barat di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan
Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer
ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan
Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC
Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI
Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:57 WIB

China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:54 WIB

Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:22 WIB

ITW Soroti Kenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Jadi Komjen, Prestasi Dipertanyakan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Berita Terbaru

Diplomasi lintas selat. Pemerintah China memaparkan manfaat budaya dan ekonomi dari penyatuan kembali secara damai, sembari memperingatkan Amerika Serikat untuk menghentikan dukungan militer bagi pasukan separatis di Taiwan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

China Desak AS Hentikan Penjualan Senjata ke Taiwan

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:57 WIB

Etika teknologi di garis depan. Pimpinan Microsoft Israel resmi mengundurkan diri setelah penyelidikan internal membongkar penggunaan platform Azure oleh militer untuk penyadapan massal warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kepala Microsoft Israel Mundur Usai Azure Digunakan Militer

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:54 WIB

Konfrontasi hukum internasional. Senator Ronald

INTERNASIONAL

Senator Filipina Desak Marcos Jr. Tolak Perintah Tangkap ICC

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:49 WIB

Konfrontasi para titan. CEO OpenAI Sam Altman memberikan kesaksian panas di pengadilan, mengungkap ambisi kontrol absolut Elon Musk yang menjadi pemicu keretakan hubungan di raksasa kecerdasan buatan tersebut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sam Altman Sebut Elon Musk Terobsesi Kuasai OpenAI

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:45 WIB