JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Orangtua wajib mengawasi putra putrinya di jaman tekhnologi saat ini. Densus 88 Antiteror Polri membongkar isi grup True Crime Community (TCC) yang diikuti puluhan anak di bawah umur.
Temuan ini mengejutkan publik karena grup tersebut sarat konten kekerasan ekstrem dan berpotensi memicu aksi brutal di lingkungan sekolah.
Densus 88 mengungkap, anggota grup TCC saling berbagi cara membuat bom pipa, merakit peluru, hingga mengubah pipa besi menjadi senjata mematikan.
Polisi juga menemukan bubuk kimia berbahaya, perangkat elektronik, serta klaim kepemilikan bahan peledak.
Tak berhenti di situ, sejumlah anak bahkan membeli replika senjata api, membawa pisau ke sekolah, dan merencanakan penusukan terhadap teman yang dianggap pelaku perundungan.
“Target mereka adalah sekolah. Ini sangat berbahaya,” tegas Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana, Rabu (7/1/2026).
Terinspirasi Game Brutal dan Aksi Kekerasan Global
Selain berbagi senjata rakitan, Densus 88 menemukan pengaruh kuat game bergenre kekerasan dalam pola pikir para anggota TCC.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak-anak ini meniru gaya, simbol, hingga narasi pelaku kekerasan dari luar negeri.
Lebih mengkhawatirkan, polisi mendapati video simulasi serangan yang dibuat seorang anak di Jawa Tengah. Video itu disiapkan sebagai latihan sekaligus pemicu aksi bagi anggota lain.
“Meski sudah diintervensi, yang bersangkutan masih ingin melakukan kekerasan,” ujar Myandra.
Densus 88 juga mendeteksi koneksi daring internasional pada salah satu anggota grup. Anak tersebut terhubung dengan pendiri kelompok ekstrem Barber Nationalist Third Positionist Group (BNTG) yang berbasis di Prancis.
“Ini gerakan nasionalisme ekstrem berbasis daring dengan ideologi kekerasan,” ungkap Myandra.
Pola copycat atau peniruan menjadi benang merah. Anak-anak meniru pose, pakaian, simbol, hingga gaya pelaku kekerasan luar negeri, meski tidak sepenuhnya memahami ideologinya.
“Walau tak bertemu langsung, perilaku mereka sangat mirip dan berbahaya,” kata Myandra.
Densus 88 mencatat 70 anak bergabung dalam grup TCC, tersebar di 19 provinsi. Jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta (15 anak), Jawa Barat (12), dan Jawa Timur (11).
Rentang usia anggota 11–18 tahun, dengan dominasi usia 15 tahun, masa transisi SMP ke SMA.
Perundungan hingga Broken Home Jadi Pemicu
Hasil asesmen mengungkap, 67 anak telah menjalani intervensi melalui konseling dan pemetaan. Faktor pemicu utama antara lain:
- Perundungan di sekolah
- Broken home dan trauma keluarga
- Kurangnya perhatian orang tua
- Akses gadget berlebihan
- Paparan konten kekerasan dan pornografi
“Di grup ini mereka merasa punya ‘rumah kedua’, meski solusi yang dipilih adalah kekerasan,” pungkas Myandra.
Penulis : Hadwan
Editor : Hadwan

















