NIZI, POSNEWS.CO.ID – Konflik sosial menghambat upaya penanganan wabah Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Sebab, warga kamp pengungsian Kpangba mengusir paksa petugas medis yang melacak kontak erat korban.
Penolakan Warga dan Kekhawatiran Penularan
Kamp Kpangba menampung sekitar 30.000 pengungsi korban kekerasan antarsuku dari wilayah sekitar. Sementara itu, kepala wilayah kesehatan Nizi, Jean-Claude Lonzama, memaparkan kesulitan timnya.
Menurutnya, warga menolak memercayai hasil tes medis dua korban perempuan. Akibatnya, tim medis tidak dapat melacak rantai penularan virus secara efektif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penolakan ini menyulitkan langkah pencegahan dari otoritas kesehatan setempat. Sebab, puluhan ribu pengungsi hidup dalam kondisi sanitasi yang sangat buruk.
Lembaga kemanusiaan mengkhawatirkan penularan cepat karena kepadatan kamp. Akibatnya, ratusan orang harus berbagi satu toilet yang sama setiap hari.
Sejarah Ketidakpercayaan dan Pasien Kabur
Meskipun begitu, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah tetap tinggi. Sebab, warga menganggap kampanye kesehatan sebagai kebohongan atau taktik politik.
Laporan kementerian kesehatan menyebutkan korban pertama merupakan wanita lansia. Pasien tersebut melarikan diri sebelum petugas menempatkannya dalam ruang isolasi.
Penolakan warga menyulitkan penghentian wabah ke-17 di Kongo ini. Oleh sebab itu, komite darurat merangkul tokoh adat untuk membantu edukasi.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












