BRIGHTON, POSNEWS.CO.ID – Di tengah kepungan budaya konsumsi yang serba cepat, muncul sekelompok desainer baru yang mengusung misi penyelamatan lingkungan. Jonathan Chapman, dosen senior di University of Brighton, menjadi salah satu pelopor gerakan “desain berkelanjutan” yang ingin mengubah cara manusia memperlakukan barang milik mereka.
Masalah utama saat ini adalah kerusakan lingkungan akibat sampah produk rumah tangga. Banyak orang membeli barang hanya untuk membuangnya dalam waktu singkat. Hubungan yang dangkal dengan benda-benda tahan lama ini menyebabkan pemborosan sumber daya dalam skala yang sangat besar.
Paradoks Bor Listrik: Sepuluh Menit Menuju TPA
Perkakas rumah tangga, seperti bor listrik, menjadi contoh nyata dari pemborosan ini. Kenyataannya, rata-rata pemilik hanya menggunakan bor tersebut selama sepuluh menit sepanjang masa pakainya. Setelah itu, alat tersebut hanya menjadi penghuni rak gudang yang berdebu karena pemiliknya enggan mengakui bahwa mereka telah membuang-buang uang.
Pada akhirnya, benda-benda ini akan berakhir di tempat pembuangan sampah selama ribuan tahun. Padahal, proses desain, manufaktur, pengemasan, hingga transportasinya menghabiskan sumber daya berkali-kali lipat dari berat benda itu sendiri. Ironisnya, masa aktif alat ini lebih pendek daripada umur serangga kecil.
Motivasi Konsumen: Antara Kebahagiaan dan Kebaruan
Chapman menilai bahwa masyarakat saat ini memiliki motivasi yang salah dalam memiliki barang. Orang-orang memiliki sesuatu untuk mengekspresikan jati diri mereka atau menunjukkan kelompok sosial mereka. Namun, di dunia produksi massal, simbolisme tersebut kehilangan kekuatannya.
“Budaya konsumerisme kini mengidolakan kebaruan,” jelas Chapman. Manusia sering kali tergoda untuk membentuk kembali identitas mereka dengan produk-produk baru yang mengkilap. Namun, ketika gairah terhadap benda baru itu memudar, orang-orang hanya akan membeli barang baru lagi untuk mencari sensasi serupa. Fenomena ini yang disebut sebagai “kekonyolan akan hal baru” (schlock of the new).
Solusi: Faktor “Boneka Beruang”
Sebagai solusinya, Chapman menawarkan “desain tahan lama secara emosional”. Ia mengibaratkan hal ini seperti celana jins tua favorit yang terasa semakin nyaman setelah dicuci ratusan kali. Benda tersebut seolah ikut menceritakan kisah hidup pemiliknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Analis industri asal Swiss, Walter Stahel, menyebut fenomena ini sebagai “faktor boneka beruang”. Meskipun sebuah boneka beruang sudah usang dan rusak, pemiliknya tidak akan terburu-buru membeli yang baru. Boneka tersebut menghubungkan pemiliknya dengan kenangan masa kecil, sehingga terlindungi dari status “ketinggalan zaman” (obsolescence). Desain berkelanjutan harus mampu menciptakan keterikatan batin serupa.
Menuju Masyarakat Multi-Lokal dan Ekonomi Layanan
Pakar desain industri, Ezio Manzini dari Politecnico di Milano, menyatakan bahwa perpindahan menuju masyarakat pasca-sekali pakai ibarat “mengganti mesin pesawat di tengah penerbangan”. Ia mengusulkan pembentukan “masyarakat multi-lokal” di mana setiap sumber daya, mulai dari makanan hingga listrik, bersumber dan didistribusikan secara lokal namun tetap terhubung secara global.
Di masa depan, pola konsumsi diprediksi akan berubah drastis:
- Berbagi dan Menyewa: Masyarakat akan lebih banyak menghabiskan uang untuk layanan daripada barang material. Alih-alih membeli mobil kedua, orang akan bergabung dalam jaringan berbagi mobil (car-sharing).
- Siklus Daur Ulang Terencana: Barang elektronik akan terjual dengan rencana pembuangan yang sudah disiapkan. Biaya daur ulang akan ditambahkan ke harga eceran sebagai prabayar.
- Efisiensi Energi: Konsumen akan lebih memilih mesin cuci yang sangat efisien atau bahan makanan lokal dengan kemasan yang minimalis.
Standar Baru Dunia Usaha
Banyak bisnis besar kini mulai mengadopsi prinsip desain berkelanjutan guna memenuhi kekhawatiran konsumen terhadap lingkungan. Langkah ini bukan sekadar upaya memoles citra hijau, melainkan strategi untuk tetap kompetitif di masa depan.
Singkatnya, keberlanjutan bukan hanya soal membuat barang yang kuat secara fisik, melainkan soal merancang sistem dan budaya. Di tahun 2026 yang penuh dengan tantangan sumber daya, kemampuan manusia untuk mencintai kembali benda-benda miliknya akan menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian planet Bumi.












