Diplomasi Mendadak Davos: Trump Panggil Zelenskyy

Kamis, 22 Januari 2026 - 17:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teror di siang bolong. Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone pada jam kerja guna memaksimalkan korban sipil, sementara Presiden Zelenskyy mengeklaim posisi militer Ukraina kini berada dalam kondisi terbaik dalam sepuluh bulan terakhir. Dok: Istimewa.

Teror di siang bolong. Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone pada jam kerja guna memaksimalkan korban sipil, sementara Presiden Zelenskyy mengeklaim posisi militer Ukraina kini berada dalam kondisi terbaik dalam sepuluh bulan terakhir. Dok: Istimewa.

KIEV, POSNEWS.CO.ID – Panggung Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos kembali memanas pada Rabu malam (22/1). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju resor Swiss tersebut secara mendadak.

Keputusan ini mengejutkan banyak pihak. Sehari sebelumnya, Zelenskyy menegaskan tidak akan hadir karena serangan Rusia telah menjerumuskan Ukraina ke dalam krisis energi parah.

“Tidak diragukan lagi, saya memilih Ukraina dalam kasus ini, daripada forum ekonomi,” katanya saat itu.

Namun, situasi berubah cepat setelah Presiden AS Donald Trump tampaknya “memanggil” Zelenskyy. Pengumuman Trump terkesan mendadak, bahkan sempat menyebut pertemuan akan terjadi hari Rabu saat Zelenskyy masih di Kiev. Para pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa pertemuan krusial itu akan berlangsung pada hari Kamis.

Zelenskyy membawa sikap pragmatis. “Pertemuan dengan Amerika harus selalu berakhir dengan hasil konkret untuk memperkuat Ukraina atau mendekatkan pada akhir perang,” tegasnya.

Negosiator dan BlackRock

Mesin diplomasi sebenarnya sudah bekerja sejak Sabtu. Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, melaporkan telah bertemu dengan perwakilan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Davos.

Baca Juga :  Xi Jinping Surati Veteran Perang Zimbabwe

Umerov mengulangi refrain yang akrab: pembicaraan berfokus pada jaminan keamanan dan pemulihan pasca-perang. Tak hanya itu, delegasi Ukraina juga bertemu dengan perwakilan firma investasi raksasa AS, BlackRock, untuk membahas rencana pembangunan kembali negara yang hancur tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Manuver Licin Putin: Aset Beku

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak tinggal diam. Ia mengumumkan akan bertemu dengan Witkoff dan Kushner pada hari Kamis di Moskow, segera setelah mereka bertolak dari Davos.

Agenda Putin sangat spesifik dan strategis: membahas kemungkinan penggunaan aset Rusia yang dibekukan.

Uni Eropa selama ini bergulat mencari cara legal untuk memobilisasi aset Rusia senilai sekitar €300 miliar ($350 miliar) yang ditahan di Belgia untuk membantu Ukraina. Putin tampaknya mencoba memotong usaha Eropa tersebut.

Kantor berita Rusia mengutip Putin yang mengatakan ingin menggunakan dana tersebut untuk memulihkan “[wilayah] yang rusak selama tindakan militer”. Namun, ia tidak merinci apakah itu wilayah Ukraina, Rusia, atau wilayah pendudukan.

Baca Juga :  Rumput Langka Inggris Kembali dari Kepunahan Berkat Dedikasi Philip Smith

NATO: “Waktunya Adalah Sekarang”

Di Brussels, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengeluarkan permohonan yang mendesak. Dalam pesan video kepada para petinggi militer, ia meminta mereka menekan pemerintah masing-masing untuk segera mengirim sistem pertahanan udara ke Ukraina.

“Tolong gunakan pengaruh Anda untuk membantu tuan politik Anda melakukan lebih banyak lagi,” desak Rutte. “Lihat jauh ke dalam persediaan Anda… Waktunya benar-benar sekarang.”

Perang Drone di Selatan Rusia

Di lapangan, pertempuran terus berkecamuk. Pihak berwenang Rusia melaporkan serangan drone Ukraina membakar tangki terminal minyak di Volna, wilayah Krasnodar selatan, pada hari Rabu. Serangan ini diklaim menewaskan tiga orang dan melukai delapan lainnya.

Klaim dan klaim balasan juga terjadi terkait kebakaran di bangunan tempat tinggal dekat kota Krasnodar. Pemimpin wilayah menuduh itu serangan drone Ukraina yang melukai 11 orang.

Sebaliknya, Kepala pusat anti-disinformasi Ukraina, Andriy Kovalenko, memberikan versi berbeda. “Sebuah rudal pertahanan udara Rusia menghantam bangunan tempat tinggal di kota Afipsky,” tudingnya, menyebutnya sebagai tembakan nyasar pasukan Rusia sendiri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB