JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia modern mengubah wajah peperangan secara drastis. Kini, konflik tidak lagi mengandalkan dentuman meriam semata. Sebaliknya, pemimpin negara menggunakan penekanan tombol transaksi keuangan sebagai senjata. Penggunaan sanksi ekonomi sebagai alat kebijakan luar negeri mencapai titik tertinggi pada tahun 2026.
Meskipun publik menilai sanksi sebagai opsi yang lebih “manusiawi” daripada perang terbuka, dampaknya merambat secara instan. Oleh karena itu, studi Hubungan Internasional (HI) menggunakan teori Liberalisme untuk membedah masalah ini. Konsep Interdependensi Kompleks menjelaskan alasan sanksi ekonomi sering kali merugikan pihak pengirimnya.
Logika Interdependensi: Pencegah atau Pemicu?
Robert Keohane dan Joseph Nye mencetuskan teori Interdependensi Kompleks. Teori ini berasumsi bahwa berbagai saluran menghubungkan negara-negara di dunia. Saluran tersebut meliputi perdagangan hingga ikatan sosial. Akibatnya, kekuatan militer bukan lagi satu-satunya instrumen yang dominan dalam sistem ini.
Saat ini, ketergantungan ekonomi yang tinggi seharusnya mencegah perang. Hal ini terjadi karena biaya konflik menjadi terlalu mahal bagi semua pihak. Namun demikian, realita di lapangan menunjukkan bahwa interdependensi justru memicu eskalasi. Kadang sebuah negara merasa terlalu bergantung pada energi atau teknologi rival. Dalam kondisi ini, mereka cenderung menggunakan sanksi. Mereka “mempersenjatai” ketergantungan tersebut (weaponized interdependence). Langkah ini sering kali memicu respons balasan yang melumpuhkan jalur pasokan pangan dan energi dunia secara sistematis.
Peran Krusial Perusahaan Multinasional (MNC)
Salah satu pilar Liberalisme adalah pengakuan terhadap aktor non-negara. Dalam krisis global saat ini, perusahaan multinasional (MNC) memiliki pengaruh besar. Pengaruh tersebut terkadang melampaui otoritas kedaulatan negara.
Sebagai contoh, pemerintah Barat sering memberlakukan sanksi terhadap sektor teknologi. Keputusan perusahaan besar untuk menarik diri secara sukarela memberikan dampak yang menghancurkan. Dampak tersebut bahkan jauh lebih berat daripada kebijakan pemerintah itu sendiri. Bahkan, para pimpinan perusahaan sering melakukan lobi intensif. Mereka ingin memengaruhi kebijakan luar negeri demi menjaga stabilitas pasar. Dengan demikian, MNC bertindak sebagai aktor aktif yang mampu memutus atau menyambung kembali “napas” ekonomi sebuah negara.
Biaya Tinggi bagi Negara Penghasut Sanksi
Liberalisme mengingatkan kita bahwa tidak ada tindakan ekonomi yang terjadi dalam ruang hampa. Amerika Serikat dan Uni Eropa sering meluncurkan sanksi agresif. Namun, mereka kini harus membayar harga yang sangat mahal di dalam negeri sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, pemutusan hubungan dagang secara mendadak memicu gangguan rantai pasok. Kondisi ini kemudian mengakibatkan lonjakan inflasi domestik yang serius. Selain itu, negara penghasut sanksi berisiko kehilangan pangsa pasar jangka panjang. Negara target biasanya segera mencari mitra alternatif. Mereka juga akan berupaya membangun kemandirian industri secara mandiri. Oleh sebab itu, sanksi yang tidak terukur justru memperlemah posisi tawar ekonomi negara pengirim di masa depan.
Menghadapi Kerapuhan Global
Interdependensi kompleks membuktikan satu hal penting. Dunia saat ini adalah sebuah organisme tunggal yang saling terhubung. Sanksi ekonomi memang efektif untuk mengisolasi aktor politik. Namun, instrumen ini juga menguji batas kesabaran sistem ekonomi global.
Pada akhirnya, keberhasilan sanksi tidak hanya bergantung pada kerusakan di pihak lawan. Ketahanan ekonomi domestik pihak pengirim juga menjadi faktor penentu utama. Pemimpin dunia menghadapi tantangan besar dalam menavigasi kebijakan luar negeri. Mereka harus menjaga fondasi kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan tersebut telah tumbuh melalui perdagangan bebas selama puluhan tahun.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















