Jebakan Globalisasi: Siapa Pemenang & Pecundang Perdagangan Bebas?

Jumat, 7 November 2025 - 20:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rantai pasok dalam sekat politik. Perspektif Neo-Merkantilisme mengungkap pergeseran dunia dari pengejaran efisiensi pasar menuju kedaulatan ekonomi melalui strategi friend-shoring dan near-shoring di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Rantai pasok dalam sekat politik. Perspektif Neo-Merkantilisme mengungkap pergeseran dunia dari pengejaran efisiensi pasar menuju kedaulatan ekonomi melalui strategi friend-shoring dan near-shoring di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama puluhan tahun, teori perdagangan bebas adalah janji manis yang para ekonom gaungkan di panggung dunia. Teorinya sederhana dan elegan: jika setiap negara fokus pada apa yang terbaik yang bisa mereka produksi (spesialisasi) dan saling berdagang, maka semua negara akan untung.

Konsumen akan mendapatkan barang yang lebih murah, dan efisiensi global akan meningkat.

Globalisasi, yang perdagangan bebas ini dorong, telah mengubah dunia. Namun, janji manis itu ternyata memiliki realitas yang pahit. Globalisasi tidak menciptakan “semua pemenang”. Sebaliknya, ia secara brutal memisahkan “pemenang” dan “pecundang”, tidak hanya antar negara, tetapi di dalam negeri masing-masing.

Konsumen dan Korporasi

Tidak diragukan lagi, ada pemenang besar dari globalisasi.

  1. Konsumen Global: Kita semua adalah pemenangnya. Kita menikmati smartphone canggih, pakaian fast fashion, dan peralatan elektronik dengan harga yang jauh lebih murah daripada jika pabrik harus memproduksinya di dalam negeri.
  2. Korporasi Multinasional (MNC): Mereka adalah pemenang terbesarnya. Globalisasi memungkinkan mereka memindahkan pabrik (outsourcing) ke negara-negara dengan upah buruh murah (seperti Tiongkok, Vietnam, atau Bangladesh). Mereka memproduksi barang dengan biaya sangat rendah dan menjualnya di pasar negara maju dengan margin keuntungan yang sangat tinggi.
Baca Juga :  Warga Kalibaru Bongkar Open Donasi Ilegal Bermodus Bantuan Korban Puting Beliung

Buruh dan Industri Lokal

Namun, efisiensi ini harus kelompok lain bayar mahal, yang seringkali suaranya tidak terdengar.

  1. Buruh di Negara Maju: Jutaan buruh pabrik di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa menjadi pecundang terbesar. Seluruh kota industri (seperti “Rust Belt” di AS) hancur karena pabrik-pabrik tempat mereka bekerja selama puluhan tahun tutup dan pindah ke Asia. Mereka mengalami PHK massal dan keterampilan mereka tiba-tiba tidak lagi relevan.
  2. Industri Lokal di Negara Berkembang: Di sisi lain, industri lokal di negara berkembang (misalnya, produsen tekstil atau petani) seringkali tidak siap dan “kalah saing”. Barang-barang impor murah menghantam mereka dan membanjiri pasar domestik, membuat mereka gulung tikar.
Baca Juga :  Mulai 15 April 2026, Jalur 6-8 Stasiun Bogor Ditutup - Ini Dampaknya ke Jadwal KRL

Kebangkitan Proteksionisme

Selama bertahun-tahun, elit politik di ibu kota mengabaikan keluhan para “pecundang” globalisasi ini, yang sibuk menikmati keuntungan perdagangan bebas. Kemarahan yang terpendam ini akhirnya meledak menjadi kekuatan politik baru.

Kebangkitan politisi populis seperti Donald Trump di AS (dengan slogan “America First”) atau gerakan Brexit di Inggris, adalah bukti nyata dari dampak ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para politisi ini berhasil merebut kekuasaan dengan memanfaatkan kemarahan para buruh pabrik yang merasa sistem telah meninggalkan dan mengkhianati mereka. Mereka datang dengan janji proteksionisme: menaikkan tarif, “membawa pulang” pabrik, dan menyalahkan negara lain (seperti Tiongkok atau Meksiko) atas hilangnya pekerjaan.

Globalisasi telah membuktikan bahwa mengabaikan “pecundang” di dalam negeri demi efisiensi ekonomi adalah resep jitu untuk memicu ketidakstabilan politik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB