JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lini masa media sosial kita sedang mengalami perubahan drastis. Dulu, kita selalu mendengar kalimat sakti: “TikTok made me buy it!”. Para influencer berlomba-lomba membujuk kita untuk membeli produk terbaru.
Namun, angin segar kini berembus dari arah sebaliknya. Muncul gelombang konten kreator baru yang justru berteriak lantang: “Jangan beli barang ini!”.
Fenomena ini memiliki nama: De-influencing. Tren ini mengajak audiens untuk berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang. Seketika, video-video yang membongkar kualitas buruk barang viral pun meledak di pasaran. Mereka tidak lagi memuja produk, melainkan mengkritiknya dengan pedas dan jujur.
Muak dengan Kebohongan “Endorse”
Penyebab utama fenomena ini sangat sederhana. Audiens mulai merasa muak. Pasalnya, mereka lelah dengan konten flexing dan gaya hidup konsumtif yang berlebihan (over-consumption).
Kita sering melihat influencer memuji setinggi langit sebuah produk. Padahal, kita tahu mereka melakukannya hanya karena bayaran “endorse”. Ulasan mereka terasa palsu dan penuh kepura-puraan.
Akibatnya, tingkat kepercayaan publik terhadap influencer menurun tajam. Penonton tidak lagi menelan mentah-mentah rekomendasi berbayar tersebut. Mereka merindukan kejujuran di tengah lautan iklan yang menyesatkan.
Berburu Barang Tiruan dan Menahan Dompet
Dampak ekonomi dari tren ini cukup signifikan. Konsumen kini menjadi jauh lebih kritis. Alih-alih membeli kosmetik mahal yang viral, mereka justru mencari dupe atau barang tiruan dengan kualitas serupa namun harga miring.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, banyak orang memilih untuk menahan belanja mereka. Mereka menyadari bahwa mereka tidak membutuhkan sepuluh jenis pelembap wajah sekaligus.
Gerakan ini juga sejalan dengan kesadaran lingkungan. Oleh karena itu, menolak membeli barang sampah menjadi bentuk protes nyata terhadap limbah industri fast fashion dan kecantikan.
Brand Wajib Ubah Strategi
Perubahan perilaku ini memaksa brand untuk memutar otak. Tentu saja, strategi hard selling yang agresif tidak lagi mempan. Konsumen bisa mencium aroma ketidakjujuran dari jarak jauh.
Maka, perusahaan harus beralih ke nilai autentisitas. Mereka harus berani menghadapi ulasan jujur, meskipun itu menyakitkan. Kini, nilai guna produk menjadi jauh lebih penting daripada sekadar wajah cantik influencer yang mempromosikannya.
Koreksi Pasar yang Sehat
Pada akhirnya, era de-influencing bukanlah lonceng kematian bagi industri konten kreator. Sebaliknya, ini adalah koreksi pasar yang sangat sehat.
Industri influencer sudah terlalu jenuh dengan kepalsuan. Lantas, tren ini hadir untuk menyaring siapa yang benar-benar jujur dan siapa yang hanya mengejar uang. Kita sedang memasuki era baru di mana kredibilitas adalah mata uang yang paling berharga.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















