Eskalasi Teluk: AS Bombardir Pulau Kharg, Iran Balas Sasar Fasilitas Bisnis Amerika

Minggu, 15 Maret 2026 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perang energi pecah. Amerika Serikat menghancurkan instalasi militer di pusat ekspor minyak Iran, Pulau Kharg, sementara Teheran mulai menyerang kantor perbankan AS sebagai aksi balasan. Dok: Istimewa.

Perang energi pecah. Amerika Serikat menghancurkan instalasi militer di pusat ekspor minyak Iran, Pulau Kharg, sementara Teheran mulai menyerang kantor perbankan AS sebagai aksi balasan. Dok: Istimewa.

TELUK PERSI, POSNEWS.CO.ID – Konflik Timur Tengah kini memasuki babak baru yang berbahaya. Pasukan Amerika Serikat membombardir Pulau Kharg, pusat logistik ekspor minyak paling sensitif milik Iran. Serangan ini memicu ancaman balasan dari Teheran. Kini, Iran secara spesifik membidik fasilitas bisnis dan perusahaan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Presiden Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa serangan udara menghancurkan target militer di pulau tersebut. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa militer AS sengaja menghindari infrastruktur minyak. Langkah ini bertujuan mencegah kehancuran total pasar energi. Komando Pusat AS mengonfirmasi hancurnya lebih dari 90 target, termasuk gudang ranjau laut dan bunker rudal.

Ancaman Retaliasi Iran terhadap Korporasi AS

Pemerintah Iran merespon serangan tersebut dengan keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengecam penggunaan wilayah Uni Emirat Arab (UEA) sebagai basis peluncuran roket HIMARS. Ia menyebut tindakan serangan roket ke Iran tersebut sama sekali tidak dapat diterima.

Sebagai hasilnya, Iran memberikan peringatan baru yang sangat spesifik. Teheran akan menyerang fasilitas perusahaan AS jika pihak lawan menghantam infrastruktur energi mereka. Langkah ini mulai terlihat saat drone Iran menghantam cabang Citibank di Dubai dan Manama. Aksi tersebut merupakan balasan atas pembekuan aset bank Iran sebelumnya.

Baca Juga :  Demam Tulip: Saat Bunga Lebih Mahal dari Rumah

Krisis Selat Hormuz dan Risiko Ekonomi Global

Ketegangan di Selat Hormuz kini mencapai puncaknya. Laporan Lloyd’s Market Association menyebut sekitar 1.000 kapal kargo terdampar di perairan Teluk. Kapal-kapal tersebut membawa muatan senilai $25 miliar. Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa pasukan laut mereka mengawasi jalur tersebut secara penuh. Mereka melarang kapal yang terkait dengan AS atau Israel melintas.

Oleh karena itu, para analis energi memperingatkan dampak sistemik yang sangat parah. Citigroup memprediksi lonjakan harga gas grosir di Eropa jika penutupan berlangsung tiga bulan. Bahkan, Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga hingga 130 persen dalam satu bulan gangguan. Kondisi ini menyulitkan posisi Eropa yang sebelumnya telah mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.

Perpecahan di Gedung Putih

Laporan menyebut pemerintahan Trump di Washington mulai terbelah mengenai langkah selanjutnya. Sebagian penasihat mendorong agar konflik segera berakhir. Langkah ini bertujuan menghindari lonjakan harga minyak yang merugikan Partai Republik dalam pemilu sela. Namun, faksi lain mendesak tekanan militer terus berlanjut hingga kemampuan nuklir Iran hancur total.

Baca Juga :  Mengapa Masalah Dunia Berlari Lebih Cepat dari Solusi Kita?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, Trump menolak proposal gencatan senjata dari beberapa negara penengah seperti Oman dan Mesir. Trump mengeklaim persyaratan yang diajukan Iran tidak cukup baik. Sementara itu, Israel mengeluhkan kekurangan stok pencegat rudal balistik. Hal ini memberikan tekanan tambahan bagi AS untuk segera mengakhiri kampanye militer.

Dampak Regional: Kebakaran di Fujairah

Eskalasi mulai tumpah ke sektor sipil di negara-negara tetangga. Kebakaran besar melanda pusat pengisian bahan bakar kapal di Fujairah, UEA. Peristiwa ini terjadi setelah puing-puing drone jatuh pasca-intersepsi. Secara simultan, ketidakpastian keamanan membuat aktivitas ekonomi di pelabuhan utama Teluk menurun drastis. Dunia kini menanti apakah diplomasi Eropa dapat membuka jalan bagi kapal komersial sebelum krisis energi global meledak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jantung Ekonomi di Ujung Tanduk: Mengapa AS Menghindari Tangki Minyak di Pulau Kharg?
Diplomasi Dagang di Perancis: Mencari Penyeimbang Baru dalam Hubungan AS-China
Kasus Air Keras Andrie Yunus, Kapolri Buka Posko Informasi dan Jamin Perlindungan Saksi
Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai
Prabowo Perintahkan Polri Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Arus Mudik 2026: 459 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jakarta, 3,2 Juta Masih Tertahan
Cuaca Indonesia Minggu 15 Maret 2026, Jakarta hingga Surabaya Berawan dan Hujan
Diplomasi Rel dan Jembatan: Korea Utara Buka Kembali Jalur Logistik dengan China dan Rusia

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:46 WIB

Jantung Ekonomi di Ujung Tanduk: Mengapa AS Menghindari Tangki Minyak di Pulau Kharg?

Minggu, 15 Maret 2026 - 14:43 WIB

Eskalasi Teluk: AS Bombardir Pulau Kharg, Iran Balas Sasar Fasilitas Bisnis Amerika

Minggu, 15 Maret 2026 - 13:32 WIB

Diplomasi Dagang di Perancis: Mencari Penyeimbang Baru dalam Hubungan AS-China

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:44 WIB

Kasus Air Keras Andrie Yunus, Kapolri Buka Posko Informasi dan Jamin Perlindungan Saksi

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:26 WIB

Jakarta Dilanda Cuaca Panas, Dinkes Ungkap Risiko Kesehatan yang Mengintai

Berita Terbaru