Eskalasi Teluk: AS Bombardir Pulau Kharg, Iran Balas Sasar Fasilitas Bisnis Amerika

Minggu, 15 Maret 2026 - 14:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampu hijau perdamaian. Pakistan sukses memediasi gencatan senjata bersyarat selama dua pekan antara Washington dan Teheran, membuka jalan bagi perundingan komprehensif untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Lampu hijau perdamaian. Pakistan sukses memediasi gencatan senjata bersyarat selama dua pekan antara Washington dan Teheran, membuka jalan bagi perundingan komprehensif untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

TELUK PERSI, POSNEWS.CO.ID – Konflik Timur Tengah kini memasuki babak baru yang berbahaya. Pasukan Amerika Serikat membombardir Pulau Kharg, pusat logistik ekspor minyak paling sensitif milik Iran. Serangan ini memicu ancaman balasan dari Teheran. Kini, Iran secara spesifik membidik fasilitas bisnis dan perusahaan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Presiden Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa serangan udara menghancurkan target militer di pulau tersebut. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa militer AS sengaja menghindari infrastruktur minyak. Langkah ini bertujuan mencegah kehancuran total pasar energi. Komando Pusat AS mengonfirmasi hancurnya lebih dari 90 target, termasuk gudang ranjau laut dan bunker rudal.

Ancaman Retaliasi Iran terhadap Korporasi AS

Pemerintah Iran merespon serangan tersebut dengan keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengecam penggunaan wilayah Uni Emirat Arab (UEA) sebagai basis peluncuran roket HIMARS. Ia menyebut tindakan serangan roket ke Iran tersebut sama sekali tidak dapat diterima.

Sebagai hasilnya, Iran memberikan peringatan baru yang sangat spesifik. Teheran akan menyerang fasilitas perusahaan AS jika pihak lawan menghantam infrastruktur energi mereka. Langkah ini mulai terlihat saat drone Iran menghantam cabang Citibank di Dubai dan Manama. Aksi tersebut merupakan balasan atas pembekuan aset bank Iran sebelumnya.

Krisis Selat Hormuz dan Risiko Ekonomi Global

Ketegangan di Selat Hormuz kini mencapai puncaknya. Laporan Lloyd’s Market Association menyebut sekitar 1.000 kapal kargo terdampar di perairan Teluk. Kapal-kapal tersebut membawa muatan senilai $25 miliar. Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa pasukan laut mereka mengawasi jalur tersebut secara penuh. Mereka melarang kapal yang terkait dengan AS atau Israel melintas.

Oleh karena itu, para analis energi memperingatkan dampak sistemik yang sangat parah. Citigroup memprediksi lonjakan harga gas grosir di Eropa jika penutupan berlangsung tiga bulan. Bahkan, Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga hingga 130 persen dalam satu bulan gangguan. Kondisi ini menyulitkan posisi Eropa yang sebelumnya telah mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.

Baca Juga :  Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan

Perpecahan di Gedung Putih

Laporan menyebut pemerintahan Trump di Washington mulai terbelah mengenai langkah selanjutnya. Sebagian penasihat mendorong agar konflik segera berakhir. Langkah ini bertujuan menghindari lonjakan harga minyak yang merugikan Partai Republik dalam pemilu sela. Namun, faksi lain mendesak tekanan militer terus berlanjut hingga kemampuan nuklir Iran hancur total.

Lebih lanjut, Trump menolak proposal gencatan senjata dari beberapa negara penengah seperti Oman dan Mesir. Trump mengeklaim persyaratan yang diajukan Iran tidak cukup baik. Sementara itu, Israel mengeluhkan kekurangan stok pencegat rudal balistik. Hal ini memberikan tekanan tambahan bagi AS untuk segera mengakhiri kampanye militer.

Dampak Regional: Kebakaran di Fujairah

Eskalasi mulai tumpah ke sektor sipil di negara-negara tetangga. Kebakaran besar melanda pusat pengisian bahan bakar kapal di Fujairah, UEA. Peristiwa ini terjadi setelah puing-puing drone jatuh pasca-intersepsi. Secara simultan, ketidakpastian keamanan membuat aktivitas ekonomi di pelabuhan utama Teluk menurun drastis. Dunia kini menanti apakah diplomasi Eropa dapat membuka jalan bagi kapal komersial sebelum krisis energi global meledak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Capcom matikan server Street Fighter V dan hentikan penjualan di PS Store dan Steam akibat masalah keamanan PHP. Simak ulasan perbaikan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Capcom Matikan Server dan Hentikan Penjualan Street Fighter V

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:41 WIB

Raffi Ahmad dan Willie Salim menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

JABODETABEK

Mahasiswa Bayaran di Deklarasi Sumpah Pemuda? Ini Faktanya

Sabtu, 31 Okt 2026 - 13:10 WIB

Epic Games berencana ubah EULA Unreal Engine agar karya game dapat melatih AI. Simak penjelasan Tim Sweeney. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Epic Games Siapkan Perubahan EULA Unreal Engine

Sabtu, 31 Okt 2026 - 12:35 WIB