Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Jumat, 27 Maret 2026 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melumpuhkan jalur alternatif. Kelompok Houthi di Yaman bersiap menyerang Selat Bab al-Mandab guna mendukung Iran, mengancam kehancuran total rantai pasok energi global tahun 2026. Dok: Istimewa.

Melumpuhkan jalur alternatif. Kelompok Houthi di Yaman bersiap menyerang Selat Bab al-Mandab guna mendukung Iran, mengancam kehancuran total rantai pasok energi global tahun 2026. Dok: Istimewa.

SANA’A, POSNEWS.CO.ID – Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan kesiapan mereka untuk melancarkan serangan di jalur pelayaran internasional Laut Merah. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat posisi Iran dalam perang regional yang kian meluas.

Dalam konteks ini, target utama Houthi adalah Selat Bab al-Mandab yang terletak di lepas pantai Yaman. Jalur sempit tersebut merupakan urat nadi utama yang mengendalikan lalu lintas laut menuju Terusan Suez.

Ancaman di Balik Penutupan Selat Hormuz

Kesiapan Houthi muncul saat ketergantungan dunia terhadap Laut Merah meningkat drastis. Hal ini terjadi setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi ekspor hidrokarbon negara-negara Arab Teluk. Akibatnya, Selat Bab al-Mandab kini menjadi jalur alternatif tunggal yang tersisa bagi pasokan komoditas global.

Seorang pemimpin Houthi menegaskan bahwa pasukannya berada dalam status siaga militer penuh dengan semua opsi terbuka. “Kami sedang memantau perkembangan situasi dan akan menentukan waktu yang tepat untuk bergerak,” ujarnya kepada Reuters. Oleh karena itu, stabilitas ekonomi dunia kini berada dalam ancaman ganda dari dua titik sumbat maritim yang berbeda.

Baca Juga :  Gebrakan Fiskal Takaichi: Penundaan Pajak Pangan

Koordinasi Strategis dengan Teheran

Para diplomat menilai bahwa Houthi sedang menunggu momen yang paling menguntungkan untuk mengintervensi konflik. Dalam hal ini, koordinasi dengan Iran bertujuan untuk memberikan tekanan maksimal terhadap blok Amerika Serikat-Israel. Iran sendiri telah memberikan sinyal akan membuka front baru di Bab al-Mandab jika wilayah teritorialnya terus diserang.

Lebih lanjut, kelompok Houthi mengeklaim bahwa saat ini militer Iran masih mampu mendominasi pertempuran. Namun demikian, jika situasi berbalik merugikan Teheran, Houthi bersumpah akan segera meluncurkan serangan balasan secara masif. “Saat Iran paling membutuhkan kami, saat itulah kami akan bergerak,” tegas salah satu petinggi dewan transisi Yaman di Jenewa.

Bab al-Mandab: “Gerbang Air Mata” yang Mematikan

Selat Bab al-Mandab memiliki lebar hanya 29 kilometer pada titik tersempitnya. Kondisi geografis ini membatasi lalu lintas kapal hanya pada dua saluran navigasi yang sangat rentan. Jalur ini sangat vital bagi pengiriman minyak mentah dari Teluk menuju pasar Mediterania dan Asia, termasuk minyak Rusia.

Baca Juga :  Di Balik Pukulan Andy Murray: Rahasia Kustomisasi Raket

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, Houthi memiliki rekam jejak dalam melumpuhkan perdagangan maritim global. Selama perang Gaza tahun 2023-2025, serangan mereka memaksa perusahaan pelayaran besar menghindari Laut Merah. Sebagai hasilnya, biaya logistik dunia melonjak dan memicu inflasi global yang berkepanjangan sebelum akhirnya gencatan senjata tercapai pada Oktober 2025.

Menuju Kelumpuhan Ekonomi Total

Dunia kini menghadapi risiko penghentian arus energi secara total jika front Bab al-Mandab benar-benar pecah. Pada akhirnya, kombinasi blokade Hormuz dan serangan di Laut Merah akan memutus jalur logistik antara Timur dan Barat sepenuhnya. Dengan demikian, keberhasilan diplomasi internasional dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah ekonomi global mampu bertahan dari kiamat energi di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mandat Yaounde: AS Serang WTO Saat Tiongkok Pasang Badan Bela Perdagangan Multilateral
Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah
Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol
Bentrok di Maluku Tenggara Memanas, Wakapolres dan Kasat Reskrim Kena Panah Lerai Massa
Beirut Terbelah: Boikot Kabinet dan Protes Massa Warnai Eskalasi Berdarah
Rezim Toll Booth Hormuz: Iran Legalkan Pungutan Liar
DPO Narkoba Diburu! Rendy Hermawan, Tangan Kanan “Andre The Doctor” Terendus di Malaysia
Iran Izinkan 10 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:53 WIB

Mandat Yaounde: AS Serang WTO Saat Tiongkok Pasang Badan Bela Perdagangan Multilateral

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:50 WIB

Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

Jumat, 27 Maret 2026 - 12:44 WIB

Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:42 WIB

Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:15 WIB

Bentrok di Maluku Tenggara Memanas, Wakapolres dan Kasat Reskrim Kena Panah Lerai Massa

Berita Terbaru

Melumpuhkan jalur alternatif. Kelompok Houthi di Yaman bersiap menyerang Selat Bab al-Mandab guna mendukung Iran, mengancam kehancuran total rantai pasok energi global tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Front Baru di Laut Merah: Houthi Siaga Blokade Selat Bab al-Mandab

Jumat, 27 Mar 2026 - 12:44 WIB

Keadilan di ujung hayat. Noelia Castillo Ramos mengakhiri perjuangan panjangnya melalui eutanasia, menandai pergeseran besar dalam penerapan hak atas kematian yang bermartabat di Spanyol tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kasus Noelia Castillo Ramos Ubah Paradigma Eutanasia di Spanyol

Jumat, 27 Mar 2026 - 11:42 WIB