Gedung Putih Ungkap Kerugian Pajak Rp310-425 Triliun

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintahan Trump merilis laporan yang mengungkap sejumlah negara mengalihkan ekspor mereka lewat negara ketiga untuk menghindari tarif AS. Dok: Istimewa.

Pemerintahan Trump merilis laporan yang mengungkap sejumlah negara mengalihkan ekspor mereka lewat negara ketiga untuk menghindari tarif AS. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Gedung Putih pemerintahan Trump merilis laporan baru pada Kamis yang mengungkap sejumlah negara mengalihkan ekspor mereka lewat negara ketiga. Praktik ini bertujuan menghindari tarif AS dan menimbulkan kerugian pendapatan pajak mencapai $19 miliar hingga $26 miliar per tahun.

Praktik Transshipment China sejak 2018

Laporan ini secara khusus menyoroti China yang merespons tarif baru pada 2018 dengan mengirim barang ke negara lain, mulai dari Meksiko hingga Malaysia, untuk pengemasan dan perakitan terbatas. Praktik ini dikenal sebagai transshipping.

Pola ini membuat impor AS dari China tampak menurun secara statistik. Namun, langkah ini justru memungkinkan Beijing terus mengembangkan sektor manufakturnya dengan cara yang berpotensi menantang pabrik dan lapangan kerja AS.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tuduhan Navarro terhadap China

Penasihat dagang Gedung Putih, Peter Navarro, menyampaikan kepada wartawan lewat panggilan konferensi bahwa China mencuci ekspornya lewat lebih dari 40 negara. Ia menegaskan isu dalam laporan ini sebenarnya lebih berkaitan dengan negara-negara lain yang memfasilitasi penghindaran tarif tersebut.

Baca Juga :  Trump Ancam Serang Oman Jika Bantu Iran

“Selama bertahun-tahun, skema transshipment besar-besaran ini memungkinkan China komunis mencuci ekspornya,” kata Navarro.

Konteks Kunjungan Xi Jinping ke AS

Laporan ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang. Presiden Donald Trump sebelumnya menggambarkan Xi dengan kata-kata memuji saat kunjungannya sendiri ke Beijing pada Mei.

Pemerintah China menggambarkan hubungannya dengan AS sebagai “stabilitas strategis”. Namun, kebijakan pemerintah China yang mendukung ekspor barang manufaktur justru mengguncang sektor otomotif, logam, dan elektronik di Amerika, Eropa, Jepang, dan negara lain.

Ancaman Penalti bagi Negara Lain

Navarro menyebut negara lain seperti India juga berpotensi melakukan transshipment untuk menghindari tarif baru. Ia menegaskan kerangka dagang baru yang pemerintahan Trump kejar akan memuat ketentuan penalti bagi mitra dagang yang terlibat praktik tersebut.

Pemerintahan Trump menerapkan tarif tinggi terhadap sebagian besar negara di dunia dengan harapan melindungi produsen AS. Kebijakan ini menghantam sekutu maupun rival dengan pajak impor yang sama beratnya. Di saat bersamaan, tarif ini justru menciptakan tekanan inflasi baru di dalam negeri.

Baca Juga :  Guncangan Global di Afrika: Menlu Afsel Peringatkan Ancaman Krisis Pangan dan Energi

Estimasi Skala Transshipment Global

Laporan ini mencantumkan rentang estimasi skala transshipment untuk menghindari tarif, mengutip data pemerintah dan sektor swasta. Estimasi tersebut mencapai kisaran $34,2 miliar hingga $303 miliar barang yang mengalami transshipment setiap tahun.

Laporan ini menggunakan angka tengah sebesar $75 miliar untuk memperkirakan jumlah kerugian pendapatan pajak. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS kini mulai menggunakan kecerdasan buatan lewat program percontohan untuk menghentikan praktik transshipment ini, menurut Navarro.

Navarro menambahkan bahwa jika petugas menemukan seorang importir memalsukan asal barang, otoritas dapat mengenakan tarif retroaktif hingga sekitar satu tahun ke belakang.

Tantangan Hukum dan Neraca Dagang AS

Kebijakan tarif Trump selama periode kedua kepemimpinannya menghadapi berbagai tantangan hukum. Mahkamah Agung membatalkan sebagian kebijakan tersebut pada Februari.

Amerika Serikat terus mengimpor lebih banyak dibanding ekspornya ke negara lain di dunia. Meski begitu, ketidakseimbangan dagang tahun ini mencapai $371 miliar, turun sekitar $189 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

Penumpang di stasiun kereta api PT KAI.
(Posnews/Net)

JABODETABEK

Jangan Salah Naik, 12 Perjalanan KRL Dibatalkan 7-30 September

Senin, 7 Sep 2026 - 07:24 WIB

Polisi mengungkap korban  Mozza Axillia dibunuh MDVA setelah cekcok akibat cemburu lalu jasadnya dibuang ke jurang Tol Jangli. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Misteri Mozza Terbongkar, Pelaku Ditangkap Saat Nonton Voli

Senin, 7 Sep 2026 - 06:05 WIB

Ilustrasi, Commuter Line tetap beroperasi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
(Posnews/KAI)

JABODETABEK

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Commuter Merak Tetap Jalan

Senin, 7 Sep 2026 - 05:51 WIB

Ilustrasi, cuaca cerah mendominasi Jabodetabek Senin 7 September 2026 dengan suhu hingga 35 derajat Celsius.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Senin 7 September, Jabodetabek Cerah tapi Suhu Bisa Menyengat

Senin, 7 Sep 2026 - 05:41 WIB