Gelembung Transfer Pemain: Sampai Kapan Industri Sepak Bola Bertahan?

Minggu, 16 November 2025 - 20:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Harga pemain bola (Neymar 222jt Euro, Enzo 121jt Euro) semakin gila. Uang TV dan investor negara mendorongnya, kapan gelembung ini pecah? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Harga pemain bola (Neymar 222jt Euro, Enzo 121jt Euro) semakin gila. Uang TV dan investor negara mendorongnya, kapan gelembung ini pecah? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Harga pemain sepak bola telah meledak gila-gilaan. Dalam satu dekade terakhir, terutama sejak rekor transfer Neymar ke PSG (222 juta Euro) pada 2017, harga pemain seolah kehilangan akal sehat.

Dahulu, harga 100 juta Euro adalah angka khusus untuk pemain terbaik dunia di puncak kariernya. Namun, kini, klub-klub rela membayar angka yang sama (bahkan lebih) untuk pemain bertahan atau gelandang muda yang baru menunjukkan potensi (seperti Enzo Fernandez atau Moises Caicedo ke Chelsea).

Akibatnya, banyak pihak bertanya: apakah ini gelembung ekonomi yang tidak berkelanjutan dan siap meledak?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Uang TV, Investor Negara, dan Agen

Tentu saja, inflasi liar ini tidak terjadi tanpa sebab. Secara umum, ada tiga pendorong utama yang menyuntikkan dana secara masif ke dalam industri:

  1. Hak Siar TV yang Fantastis: Pertama, kontrak hak siar televisi domestik dan global terus memecahkan rekor, terutama untuk liga seperti Liga Premier Inggris. Uang ini mengalir langsung ke kas 20 klub pesertanya. Hal ini memberi mereka daya beli yang luar biasa besar dibandingkan liga lain.
  2. Masuknya Investor Negara (Sportswashing): Kedua, dan yang paling merusak pasar, adalah masuknya investor yang negara dukung. Seperti yang kita bahas dalam sportswashing, negara (seperti Qatar di PSG, UEA di Man City, dan Arab Saudi di Newcastle) tidak melihat sepak bola sebagai bisnis untuk mencari untung. Sebaliknya, mereka menggunakannya sebagai alat soft power. Oleh karena itu, mereka bersedia membayar harga berapa pun untuk mengamankan talenta (seperti transfer Neymar atau Mbappe). Tindakan ini pada gilirannya merusak standar harga bagi semua pemain lain.
  3. Peran Agen Super: Terakhir, ada peran “Agen Super”. Agen memiliki insentif finansial langsung untuk memicu perang penawaran. Semakin tinggi harga transfer dan gaji klien mereka, semakin besar potongan komisi yang mereka terima. Maka, mereka secara aktif mendorong perpindahan pemain demi mendapatkan cuan.

Financial Fair Play (FFP) dan Celahnya

Sebenarnya, otoritas sepak bola (UEFA) telah mencoba mengendalikan pengeluaran ini. Mereka memperkenalkan aturan Financial Fair Play (FFP). Secara teori, FFP mengharuskan klub untuk hanya membelanjakan uang sesuai pendapatan operasional mereka.

Baca Juga :  Polisi Buru Pelaku Penganiayaan Sejoli di Koja, Korban Dipukul Usai Tegur Motor Terobos Banjir

Akan tetapi, dalam praktiknya, aturan ini penuh celah. Klub-klub yang negara miliki dapat mengakali FFP. Caranya, mereka menggunakan “kesepakatan sponsor” yang telah mereka gembungkan (inflated sponsorship). Kesepakatan ini berasal dari perusahaan-perusahaan yang juga memiliki kaitan dengan negara pemilik (misalnya, maskapai penerbangan nasional).

Meskipun UEFA telah memperketat aturan (menjadi Profit and Sustainability Rules), namun klub-klub kaya selalu menemukan cara baru. Contohnya, mereka menawarkan kontrak amortisasi jangka panjang (misalnya, 8 tahun) untuk menyebar biaya transfer agar terlihat kecil di pembukuan tahunan.

Baca Juga :  Sportswashing: Alat Diplomasi Pembersih Citra

Kesenjangan Klub Kaya dan Miskin

Dampak paling nyata dari gelembung ini adalah kesenjangan yang semakin melebar. Kini, hanya ada sekelompok kecil “klub super” (sekitar 10-15 tim) yang secara finansial mampu bersaing memperebutkan talenta terbaik.

Sementara itu, klub-klub menengah dan miskin, termasuk klub-klub bersejarah (seperti Ajax), tidak bisa lagi bersaing. Mereka terpaksa menerima nasib sebagai “klub penjual” (feeder clubs). Tugas mereka hanya mengembangkan pemain muda untuk kemudian dijual kepada klub kaya dengan harga tinggi demi bertahan hidup.

Akibatnya, tim yang itu-itu saja semakin mendominasi liga-liga top dan membuatnya tidak kompetitif.

Apakah Gelembung Ini Akan Pecah?

Lalu, apakah gelembung ini akan pecah? Jawabannya mungkin tidak dalam waktu dekat, terutama selama dua faktor utama masih ada.

Selama kontrak hak siar TV terus meningkat, dan selama negara-negara kaya masih melihat sepak bola sebagai alat soft power yang efektif (seperti yang sedang Arab Saudi lakukan dengan Liga Pro-nya), uang akan terus mengalir masuk.

Maka, yang kita saksikan mungkin bukan “pecahnya gelembung” yang kolaps seperti dot-com bubble. Sebaliknya, kita akan menyaksikan inflasi yang terus meroket hingga sepak bola benar-benar menjadi olahraga eksklusif milik para miliarder dan negara. Sementara itu, klub-klub bersejarah lainnya akan jauh tertinggal di belakang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Ini Praperadilan Andrie Yunus Segera Diputus, Bukti CCTV Jadi Sorotan
500 Jiwa Terdampak Kebakaran Pasar Jiung, Polisi Masih Selidiki Penyebab
BMKG Prediksi Hujan Ringan Guyur Jakarta Utara dan Jakarta Selatan Hari Ini
Gegara Charger Hilang, Tiga ART di Bogor Diduga Aniaya Rekan Kerja hingga Tewas
Kemendag Tetapkan HPE Emas Baru, Koreksi Harga Global Capai 1,43 Persen
Polisi Bongkar Fakta Baru WO Marwah, Pemiliknya Residivis Penipuan Wedding Organizer
Prabowo: Pancasila Harus Jadi Pedoman Bangsa, Bukan Hanya Mantra Upacara
Industri Halal Indonesia Makin Moncer, Kemendag Bidik Pasar Afrika dan Amerika

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:28 WIB

Hari Ini Praperadilan Andrie Yunus Segera Diputus, Bukti CCTV Jadi Sorotan

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:03 WIB

500 Jiwa Terdampak Kebakaran Pasar Jiung, Polisi Masih Selidiki Penyebab

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:48 WIB

BMKG Prediksi Hujan Ringan Guyur Jakarta Utara dan Jakarta Selatan Hari Ini

Senin, 1 Juni 2026 - 16:58 WIB

Gegara Charger Hilang, Tiga ART di Bogor Diduga Aniaya Rekan Kerja hingga Tewas

Senin, 1 Juni 2026 - 14:03 WIB

Kemendag Tetapkan HPE Emas Baru, Koreksi Harga Global Capai 1,43 Persen

Berita Terbaru