Geopolitik Nikel: Perebutan Sumber Daya di Balik Revolusi Energi Hijau

Minggu, 30 November 2025 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nikel kini menjadi

Nikel kini menjadi "emas baru" dunia. Indonesia berada di tengah pusaran konflik dagang global. Simak analisis perebutan sumber daya baterai listrik ini. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Dunia sedang berlomba menuju masa depan yang lebih hijau. Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) menjadi primadona baru untuk menggantikan mesin bensin. Namun, di balik kilap mobil masa depan itu, terjadi pertarungan sengit memperebutkan satu bahan baku vital: nikel.

Logam berwarna perak ini memegang peran krusial sebagai komponen utama baterai EV. Tanpa nikel, revolusi energi hijau akan jalan di tempat. Oleh karena itu, negara-negara maju kini menempatkan nikel dalam daftar prioritas keamanan nasional mereka.

Posisi ini menempatkan Indonesia di panggung utama. Pasalnya, tanah air kita menyimpan cadangan nikel terbesar di dunia. Kita memegang kunci dari rantai pasok energi masa depan.

Hilirisasi: Nyali Indonesia Melawan Dunia

Pemerintah Indonesia menyadari potensi besar ini. Lantas, Presiden Joko Widodo mengambil langkah berani dengan melarang ekspor bijih nikel mentah sejak 2020.

Kebijakan hilirisasi ini mewajibkan perusahaan asing untuk membangun pabrik pengolahan (smelter) di dalam negeri. Tujuannya jelas, Indonesia ingin mendapatkan nilai tambah, bukan hanya menjual tanah air dengan harga murah.

Baca Juga :  Tagih Uang Rp400 Ribu, Pria di Banten Nyaris Tewas Dihantam Tabung Gas

Akan tetapi, langkah ini memicu kemarahan mitra dagang. Uni Eropa (UE) merasa terancam pasokannya. Akhirnya, mereka menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka menuding kebijakan ini melanggar prinsip perdagangan bebas yang adil.

Strategi Barat: “Critical Minerals Act”

Negara-negara Barat tidak tinggal diam melihat dominasi Indonesia yang semakin kuat. Terlebih lagi, investasi China membanjiri sektor pertambangan nikel di Sulawesi dan Maluku.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Amerika Serikat (AS) dan Eropa khawatir akan ketergantungan ganda pada Indonesia dan China. Maka, mereka merancang strategi pertahanan diri.

AS meluncurkan Inflation Reduction Act (IRA), sementara Eropa merilis Critical Minerals Act. Intinya, aturan ini bertujuan mengamankan pasokan mineral kritis dari negara-negara “sahabat” saja. Mereka ingin memutus rantai ketergantungan dari dominasi Asia.

Wacana “OPEC Nikel”

Di tengah tekanan tersebut, muncul wacana menarik dari pemerintah Indonesia. Kita mengusulkan pembentukan organisasi mirip OPEC, tetapi khusus untuk negara penghasil nikel.

Baca Juga :  Tawuran Berdarah Antar-Remaja di Cipinang Besar Utara, Satu Orang Luka Bacok

Idenya sederhana. Negara-negara produsen bersatu untuk mengontrol pasokan dan harga nikel di pasar global. Kartel ini akan memberikan posisi tawar yang sangat kuat di hadapan negara konsumen seperti AS dan Eropa.

Meskipun ide ini masih dalam tahap awal, wacana tersebut telah membuat negara maju ketar-ketir. Mereka takut harga baterai akan melambung jika kartel nikel benar-benar terbentuk.

Sumber Daya Sebagai Senjata Politik

Pada akhirnya, nikel bukan lagi sekadar komoditas tambang. Ia telah berubah menjadi alat tawar politik (political leverage) yang ampuh di panggung internasional.

Indonesia harus memainkan kartu ini dengan cerdas. Kita menghadapi dilema antara menarik investasi asing dan mempertahankan kedaulatan sumber daya alam.

Ingatlah, sejarah mencatat bahwa kekayaan alam bisa menjadi berkah sekaligus kutukan. Kita harus memastikan nikel membawa kemakmuran bagi rakyat, bukan sekadar menjadi bahan bakar bagi konflik dagang negara adidaya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas
Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:07 WIB

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB