Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Meta mengumumkan telah menghapus lebih dari 750.000 akun Facebook dan Instagram yang diduga milik warga Australia. Dok: Istimewa.

Meta mengumumkan telah menghapus lebih dari 750.000 akun Facebook dan Instagram yang diduga milik warga Australia. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, SYDNEY — Meta, pemilik Facebook dan Instagram, mengumumkan pada Kamis telah menghapus lebih dari 750.000 akun. Perusahaan ini menduga akun-akun tersebut milik warga Australia di bawah 16 tahun. Meta menjanjikan tindakan lebih lanjut di tengah ancaman intervensi regulasi.

Rincian Angka Penghapusan Akun

Meta menonaktifkan 462.000 akun Instagram dan 294.000 akun Facebook yang mencurigakan. Perusahaan melakukan ini sejak menjelang larangan media sosial Australia berlaku pada Desember hingga Juni.

Angka ini meningkat signifikan dari 331.000 akun Instagram dan 173.000 akun Facebook yang perusahaan hapus hingga Januari. Meta menegaskan ingin mematuhi undang-undang yang sebenarnya mereka dan platform lain tentang secara vokal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan ini muncul tepat saat regulator internet Australia mempertimbangkan gugatan penegakan hukum. Regulator menyasar sejumlah platform, termasuk yang Meta miliki, karena menilai platform tersebut belum mengambil langkah memadai untuk patuh.

Kesenjangan antara Klaim dan Realitas Lapangan

Belum ada platform lain yang merilis data kepatuhan dengan rentang tanggal serupa milik Meta. Namun, data pemerintah Australia dan sejumlah studi independen menunjukkan temuan berbeda.

Baca Juga :  Sakral vs Viral: Dilema Pelestarian Upacara Adat di Era Konten Digital

Lebih dari delapan dari sepuluh remaja di bawah 16 tahun masih aktif di media sosial pada tiga bulan pertama larangan berlaku. Pemerintah Australia mengusulkan undang-undang bersejarah ini atas kekhawatiran soal dampak media sosial terhadap kesehatan fisik dan mental anak-anak serta remaja muda.

Undang-undang ini resmi berlaku sejak 10 Desember.

Penguatan Sanksi bagi Platform yang Tidak Patuh

Sejumlah negara lain di dunia kini mempertimbangkan pembatasan usia serupa. Australia menuduh berbagai platform sengaja merancang larangan ini agar gagal.

Karena itu, negara tersebut memperkenalkan undang-undang baru yang menggandakan denda maksimum ketidakpatuhan menjadi A$99 juta atau sekitar $69,75 juta. Undang-undang ini juga memberi regulator kewenangan lebih besar dalam penemuan dokumen.

Perwakilan Meta, TikTok, pemilik YouTube Google, dan Snapchat milik Snap dijadwalkan memberikan keterangan dalam dengar pendapat parlemen pada Jumat. Pejabat regulator dan pemerintah turut hadir dalam sesi tersebut.

Pernyataan Resmi Meta

“Penegakan hukum ini terus berlangsung, dan angka-angka ini akan terus bertambah,” demikian pernyataan Meta. Perusahaan menambahkan bahwa mereka berbagi tujuan yang sama dengan pemerintah Australia.

Baca Juga :  Vivo V80 dan Vivo S2 Muncul di Database IMEI: Sinyal Kuat Peluncuran Global

Tujuan tersebut adalah memastikan pengalaman daring yang aman dan sesuai usia bagi generasi muda. Meta menegaskan telah memenuhi kewajibannya di bawah undang-undang tersebut.

Teknologi Verifikasi Usia yang Digunakan

Sebuah uji coba teknologi verifikasi usia Australia pada 2025 menemukan hasil menarik. Produk yang tersedia di pasar mampu secara efektif mendukung larangan ini.

Sebagian besar platform besar, termasuk milik Meta, meluncurkan perangkat lunak estimasi usia berbasis foto. Namun, platform-platform ini menyebut biasanya lebih dulu menerapkan inferensi usia.

Inferensi usia berarti memperkirakan usia seseorang berdasarkan aktivitas daringnya. Meta menjelaskan pihaknya menggunakan AI untuk menganalisis profil pengguna.

AI ini mencari petunjuk kontekstual seperti perayaan ulang tahun atau penyebutan tingkat kelas sekolah. Petunjuk tersebut mengindikasikan sebuah akun kemungkinan milik seseorang di bawah 16 tahun.

Perusahaan juga menggunakan AI untuk menganalisis laporan soal akun yang diduga milik anak di bawah umur. Meta menambahkan bahwa pihaknya telah menghapus opsi bagi seseorang untuk mencoba membuat akun baru berulang kali jika akun sebelumnya telah dihapus.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang
E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah
Qualcomm Snapdragon C Resmi Diumumkan untuk Laptop
TECNO Resmi Perkenalkan POVA 8 Pro 5G
Xbox Luncurkan Controller Limited Edition Gears of War
Harga Kartu Grafis AMD Radeon RX 9000 Series Resmi Naik
Modder Ubah Nubia Z70 Ultra Menjadi PC Linux
Commodore Hidupkan Kembali Joystick Legendaris Suncom TAC-2

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 16 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:00 WIB

E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Qualcomm Snapdragon C Resmi Diumumkan untuk Laptop

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:35 WIB

TECNO Resmi Perkenalkan POVA 8 Pro 5G

Berita Terbaru

Meta mengumumkan telah menghapus lebih dari 750.000 akun Facebook dan Instagram yang diduga milik warga Australia. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Meta Hapus Lebih dari 750.000 Akun Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 16 Agu 2026 - 09:00 WIB

Komunitas kolektor komputer vintage terus berkembang di berbagai negara, melestarikan mesin-mesin klasik seperti Atari, Commodore, dan IBM. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Komunitas Kolektor Komputer Vintage Kian Berkembang

Minggu, 16 Agu 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi, kaca retak. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Diduga Flare Jatuh, Kaca Mobil Warga Retak Saat Gladi Demo Udara

Minggu, 16 Agu 2026 - 07:05 WIB

Peneliti tengah mengembangkan tekstil elektronik pintar yang mampu memantau kesehatan tanpa sumber daya eksternal. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

E-Textile Diklaim Revolusioner, Namun Ancam Limbah

Minggu, 16 Agu 2026 - 07:00 WIB