Prahara PBNU Memanas: Gus Yahya Tegas Tolak Mundur, Sebut Desakan Syuriyah Tidak Sah

Minggu, 23 November 2025 - 12:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PBNU Gus Yahya memberikan keterangan kepada media terkait kasus dugaan korupsi kuota haji yang menjerat Gus Yaqut. (Posnews/UGM)

Ketua Umum PBNU Gus Yahya memberikan keterangan kepada media terkait kasus dugaan korupsi kuota haji yang menjerat Gus Yaqut. (Posnews/UGM)

SURABAYA, POSNEWS.CO.ID – Gelombang panas sedang melanda tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, akhirnya angkat bicara merespons desakan mundur yang menimpanya.

Secara tegas, Gus Yahya menyatakan tidak akan meletakkan jabatannya. Pernyataan ini ia sampaikan usai menggelar rapat koordinasi tertutup dengan jajaran Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Minggu (23/11/2025) dini hari.

“Saya katakan, saya tidak terbesit sama sekali untuk mundur. Pasalnya, tidak ada alasan kuat untuk itu,” tegas Gus Yahya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, beredar dokumen risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang digelar di Jakarta, Kamis (20/11/2025). Rapat yang dipimpin Rais Aam KH Miftachul Akhyar itu memberikan ultimatum keras. Isinya, jika dalam tiga hari Gus Yahya tidak mundur, Syuriyah akan memecatnya secara formal.

Baca Juga :  Nahdlatul Ulama Tegaskan Kepemimpinan Kolektif-Kolegial, Bukan Kewenangan Tunggal

Mandat Muktamar vs Ultimatum Syuriyah

Gus Yahya memiliki alasan kuat untuk bertahan. Menurutnya, ia memegang mandat resmi dari Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021 lalu. Mandat tersebut berlaku selama lima tahun hingga 2027.

“Saya mendapat mandat 5 tahun dan akan saya jalani selama 5 tahun. Insya Allah saya sanggup,” ujarnya penuh keyakinan.

Selain itu, ia mengklaim mendapatkan dukungan penuh dari para pengurus wilayah. Faktanya, PWNU khawatir jika kepemimpinan berhenti di tengah jalan.

“Mereka dulu memilih saya. Tentu saja, mereka akan kecewa kalau saya mundur,” tambah kakak kandung Yaqut Cholil Qoumas tersebut.

Sorotan Isu Zionisme dan Keabsahan Surat

Desakan mundur ini bermula dari sejumlah poin evaluasi serius. Salah satunya adalah tuduhan kontroversial terkait program Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).

Syuriyah menuding Gus Yahya mengundang narasumber yang terafiliasi dengan jaringan Zionisme Internasional. Akibatnya, tindakan ini dianggap melanggar Maqashidul Qanun Asasi NU dan garis perjuangan kemanusiaan organisasi.

Baca Juga :  Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api

Menanggapi hal itu, Gus Yahya justru mempertanyakan keabsahan dokumen desakan tersebut. Hingga Minggu dini hari, ia mengaku belum menerima surat fisik resmi apa pun.

Bahkan, ia menyoroti format surat yang beredar di media sosial. “Dokumen resmi itu tanda tangannya harus digital agar bisa dipertanggungjawabkan,” kritiknya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa secara AD/ART, rapat harian Syuriyah tidak memiliki wewenang memecat ketua umum. “Jika rapat harian Syuriyah membuat implikasi pemberhentian ketua umum, maka itu tidak sah,” tandasnya.

Optimisme Penyelesaian Konflik

Meskipun situasi memanas, Gus Yahya tetap optimis badai ini akan berlalu. Ia mempersilakan PWNU untuk berkoordinasi secara independen dalam menyikapi dinamika ini.

Rapat di Surabaya berlangsung ketat dengan penjagaan personel Banser. Pada akhirnya, Gus Yahya berjanji akan mencari jalan keluar terbaik.

“Insyaallah akan ditemukan jalan keluar yang baik untuk kemaslahatan bersama, bangsa, dan negara,” pungkas Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Rembang tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Setelah Tetapkan Wamen Imipas Tersangka, KPK Kini Periksa 11 Saksi Kunci
Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
Polda Metro Didesak Periksa Mantan Kabais TNI dalam Kasus Andrie Yunus
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
Anggaran Polri 2027 Kurang Rp66 Triliun, Remunerasi hingga Pemilu Jadi Alasan
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:26 WIB

Setelah Tetapkan Wamen Imipas Tersangka, KPK Kini Periksa 11 Saksi Kunci

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:38 WIB

Polda Metro Didesak Periksa Mantan Kabais TNI dalam Kasus Andrie Yunus

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB