Kematian Migran di AS Melonjak, Taktik Keras ICE Tuai Kecaman

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

Duka di perbatasan. Pemerintah Meksiko meluncurkan protes diplomatik keras setelah seorang warganya tewas di penjara Louisiana, menyoroti kegagalan standar hak asasi manusia di pusat penahanan Amerika Serikat tahun 2026. Dok: VCG.

MINNEAPOLIS/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Taktik konfrontatif Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) kini berada di bawah mikroskop nasional. Pemicunya adalah penembakan fatal terhadap demonstran Renee Nicole Good di Minneapolis, Minnesota, pada 7 Januari lalu.

Selanjutnya, berbagai laporan berita menyoroti tren yang mengkhawatirkan. Kematian di antara migran yang ditahan oleh ICE melonjak drastis di bawah pemerintahan kedua Presiden Donald Trump. Oleh karena itu, situasi ini memicu kritik keras dari kelompok advokasi, pembuat undang-undang, dan aktivis.

Angka-angka terbaru melukiskan gambaran suram. Sebagai contoh, setidaknya empat orang tewas dalam tahanan ICE hanya dalam 10 hari pertama tahun ini. Bahkan, agensi mengumumkan tiga kematian di antaranya antara 9 dan 10 Januari.

Tahun sebelumnya pun mencatat rekor buruk. Data agensi menunjukkan setidaknya 30 orang meninggal dalam tahanan ICE sepanjang tahun 2025. Secara statistik, ini mencapai tingkat kematian tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Ambisi Deportasi dan Fasilitas Penuh Sesak

Pemerintahan Trump berambisi meningkatkan deportasi secara masif. Mereka telah menambah jumlah migran dalam penahanan. Statistik ICE per 7 Januari menunjukkan agensi tersebut menahan 69.000 orang.

Baca Juga :  Kemhan RI Tegaskan Isu Akses Udara Militer AS Masih Draf, Belum Final dan Tak Mengikat

Lebih jauh lagi, para ahli memprediksi jumlah ini akan terus naik. Hal ini terjadi karena Kongres AS tahun lalu telah meloloskan infus dana besar-besaran untuk ICE.

Para advokat dan kelompok hak imigran membunyikan alarm bahaya. Mereka berpendapat ekspansi penahanan yang cepat ini memperburuk kondisi di lapangan. Akibatnya, fasilitas menjadi terlalu padat dan perawatan medis menjadi tidak memadai. Pada akhirnya, faktor-faktor ini berkontribusi pada kematian yang sebenarnya dapat mereka cegah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setareh Ghandehari, direktur advokasi di Detention Watch Network, angkat bicara. Ia menyebut tingginya jumlah kematian sebagai sesuatu yang “benar-benar mengejutkan”. Kemudian, ia mendesak pemerintah untuk segera menutup pusat-pusat penahanan tersebut.

Krisis Kesehatan di Balik Jeruji

Selain itu, analisis eksternal menyoroti masalah lain di luar kepadatan. Penurunan pelepasan tahanan atas dasar kemanusiaan dan kebijakan penegakan yang lebih ketat membawa dampak serius.

Konsekuensinya, individu yang rentan secara medis tetap berada dalam tahanan. Ini termasuk mereka yang memiliki penyakit kronis atau masalah ketergantungan zat. Seharusnya, pihak berwenang merawat mereka di lingkungan komunitas, bukan di balik jeruji.

Baca Juga :  Bencana Sumatera Makan Korban 846 Jiwa, 326 Sekolah Rusak dan Ribuan Rumah Hancur

Sementara itu, pengamat eksternal menyatakan keprihatinan mendalam atas tingkat pengobatan medis bagi para tahanan. American Civil Liberties Union (ACLU) merilis laporan menyengat pada tahun 2024. Mereka menyimpulkan bahwa perawatan yang tepat sebenarnya dapat mencegah hingga 95 persen kematian di pusat penahanan ICE.

Laporan tersebut menganalisis kematian dalam tahanan ICE antara 2017 dan 2021. Secara spesifik, peneliti memeriksa ribuan halaman dokumen dari permintaan catatan publik.

Para ahli medis menemukan banyak kejanggalan. Mereka mencatat banyak kasus pengobatan yang salah atau tidak tepat. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan penundaan yang signifikan dalam pemberian layanan medis.

Pembelaan Pemerintah

Di sisi lain, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menepis tuduhan tersebut. Mereka mempertahankan posisi mereka. Pejabat mengklaim bahwa tingkat kematian tetap konsisten dengan norma historis. Mereka berargumen bahwa angka kematian terlihat tinggi hanya karena populasi tahanan yang jauh lebih besar. Selain itu, DHS bersikeras bahwa para tahanan menerima perawatan medis yang komprehensif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bangunan Ambruk di Tugu Selatan Koja, Wanita 50 Tahun Tewas Tertimbun Reruntuhan
Pelaku Copet iPhone Dikalungi Tulisan “Saya Copet” di Arak Keliling Tanah Abang
Kontak Tembak di Papua! Buronan KKB Dilumpuhkan Saat Melawan Aparat
Pabrik Vape Narkoba di Apartemen Tangerang Digerebek, Ribuan Cartridge Disita
Pragmata: Revolusi Sad Dad Capcom di Bulan dan Keajaiban Teknologi 2026
iPhone 17e, Standar Baru Ponsel Entry-Level Apple di Tahun 2026
Xi Jinping dan MBS Desak Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz
Mafia Energi Digulung, Ribuan Tabung LPG dan Ratusan Ribu Liter BBM Subsidi Disita

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 20:29 WIB

Bangunan Ambruk di Tugu Selatan Koja, Wanita 50 Tahun Tewas Tertimbun Reruntuhan

Selasa, 21 April 2026 - 20:15 WIB

Pelaku Copet iPhone Dikalungi Tulisan “Saya Copet” di Arak Keliling Tanah Abang

Selasa, 21 April 2026 - 19:51 WIB

Kontak Tembak di Papua! Buronan KKB Dilumpuhkan Saat Melawan Aparat

Selasa, 21 April 2026 - 17:54 WIB

Pabrik Vape Narkoba di Apartemen Tangerang Digerebek, Ribuan Cartridge Disita

Selasa, 21 April 2026 - 16:57 WIB

Pragmata: Revolusi Sad Dad Capcom di Bulan dan Keajaiban Teknologi 2026

Berita Terbaru