MINNEAPOLIS/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Taktik konfrontatif Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) kini berada di bawah mikroskop nasional. Pemicunya adalah penembakan fatal terhadap demonstran Renee Nicole Good di Minneapolis, Minnesota, pada 7 Januari lalu.
Selanjutnya, berbagai laporan berita menyoroti tren yang mengkhawatirkan. Kematian di antara migran yang ditahan oleh ICE melonjak drastis di bawah pemerintahan kedua Presiden Donald Trump. Oleh karena itu, situasi ini memicu kritik keras dari kelompok advokasi, pembuat undang-undang, dan aktivis.
Angka-angka terbaru melukiskan gambaran suram. Sebagai contoh, setidaknya empat orang tewas dalam tahanan ICE hanya dalam 10 hari pertama tahun ini. Bahkan, agensi mengumumkan tiga kematian di antaranya antara 9 dan 10 Januari.
Tahun sebelumnya pun mencatat rekor buruk. Data agensi menunjukkan setidaknya 30 orang meninggal dalam tahanan ICE sepanjang tahun 2025. Secara statistik, ini mencapai tingkat kematian tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Ambisi Deportasi dan Fasilitas Penuh Sesak
Pemerintahan Trump berambisi meningkatkan deportasi secara masif. Mereka telah menambah jumlah migran dalam penahanan. Statistik ICE per 7 Januari menunjukkan agensi tersebut menahan 69.000 orang.
Lebih jauh lagi, para ahli memprediksi jumlah ini akan terus naik. Hal ini terjadi karena Kongres AS tahun lalu telah meloloskan infus dana besar-besaran untuk ICE.
Para advokat dan kelompok hak imigran membunyikan alarm bahaya. Mereka berpendapat ekspansi penahanan yang cepat ini memperburuk kondisi di lapangan. Akibatnya, fasilitas menjadi terlalu padat dan perawatan medis menjadi tidak memadai. Pada akhirnya, faktor-faktor ini berkontribusi pada kematian yang sebenarnya dapat mereka cegah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setareh Ghandehari, direktur advokasi di Detention Watch Network, angkat bicara. Ia menyebut tingginya jumlah kematian sebagai sesuatu yang “benar-benar mengejutkan”. Kemudian, ia mendesak pemerintah untuk segera menutup pusat-pusat penahanan tersebut.
Krisis Kesehatan di Balik Jeruji
Selain itu, analisis eksternal menyoroti masalah lain di luar kepadatan. Penurunan pelepasan tahanan atas dasar kemanusiaan dan kebijakan penegakan yang lebih ketat membawa dampak serius.
Konsekuensinya, individu yang rentan secara medis tetap berada dalam tahanan. Ini termasuk mereka yang memiliki penyakit kronis atau masalah ketergantungan zat. Seharusnya, pihak berwenang merawat mereka di lingkungan komunitas, bukan di balik jeruji.
Sementara itu, pengamat eksternal menyatakan keprihatinan mendalam atas tingkat pengobatan medis bagi para tahanan. American Civil Liberties Union (ACLU) merilis laporan menyengat pada tahun 2024. Mereka menyimpulkan bahwa perawatan yang tepat sebenarnya dapat mencegah hingga 95 persen kematian di pusat penahanan ICE.
Laporan tersebut menganalisis kematian dalam tahanan ICE antara 2017 dan 2021. Secara spesifik, peneliti memeriksa ribuan halaman dokumen dari permintaan catatan publik.
Para ahli medis menemukan banyak kejanggalan. Mereka mencatat banyak kasus pengobatan yang salah atau tidak tepat. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan penundaan yang signifikan dalam pemberian layanan medis.
Pembelaan Pemerintah
Di sisi lain, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menepis tuduhan tersebut. Mereka mempertahankan posisi mereka. Pejabat mengklaim bahwa tingkat kematian tetap konsisten dengan norma historis. Mereka berargumen bahwa angka kematian terlihat tinggi hanya karena populasi tahanan yang jauh lebih besar. Selain itu, DHS bersikeras bahwa para tahanan menerima perawatan medis yang komprehensif.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















