Iran Klaim Kendali Penuh atas Selat Hormuz, Bantah Klaim Trump

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Trump usulkan ganti nama Selat Hormuz jadi

Trump usulkan ganti nama Selat Hormuz jadi "Trump Strait" di tengah bentrokan dengan Iran, lalu klaim usulan itu cuma candaan. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Kepala unit paramiliter Basij Iran yang baru menjabat, Hossein Taeb, menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan manajemen penuh Iran pada Kamis. Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Washington memegang “kendali total” atas jalur strategis tersebut.

Klaim Kemenangan Iran atas AS

Taeb menyatakan AS berupaya mengganggu popularitas Republik Islam di kawasan lewat perang baru di Selat Hormuz. Ia menegaskan AS kembali mengalami kekalahan meski sebelumnya mengklaim Iran tidak memiliki angkatan udara maupun angkatan laut.

“Hari ini Anda melihat Selat Hormuz berada di bawah manajemen dan kendali Republik Islam,” kata Taeb, menurut kantor berita semi-resmi Fars. Ia menambahkan Iran terus melanjutkan langkahnya dalam kondisi sepenuhnya aman.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Latar Belakang Penutupan Selat

Perang ini bermula dari serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian secara efektif menutup selat tersebut, yang sebelumnya mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Baca Juga :  Trump Kembali Tuduh China Campur Tangan Pemilu AS

AS selanjutnya memberlakukan blokade laut terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran. Washington menegaskan akan tetap melindungi kebebasan navigasi bagi kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan non-Iran.

Komando Militer Iran Tegaskan Kendali Penuh

Komando militer gabungan Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, menyatakan pada Kamis bahwa tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin Teheran.

“Klaim tanpa dasar yang AS sampaikan mengenai lintasan normal kapal melalui Selat Hormuz… hanyalah kebohongan dan kepalsuan belaka,” demikian pernyataan komando tersebut, menurut media pemerintah.

Kegagalan Kesepakatan Sementara Juni

Kedua negara mencapai kesepakatan sementara pada Juni. Kesepakatan itu mendeklarasikan gencatan senjata permanen dan menyerukan pemulihan cepat kebebasan navigasi di Teluk.

Kesepakatan tersebut runtuh beberapa minggu kemudian, dengan kedua pihak saling menuduh melanggar perjanjian. Iran melancarkan kembali serangan terbatas terhadap kapal yang menurutnya berlayar bertentangan dengan ketentuan kesepakatan tersebut.

Baca Juga :  Kongres AS Mengamuk Tak Diberitahu Soal Penyerbuan Venezuela

AS pun kembali memulai serangan ke provinsi selatan Iran. Washington menyatakan serangan ini bertujuan melemahkan kemampuan Teheran menargetkan kapal-kapal di Teluk.

Peringatan Perang Ofensif dari Penasihat Khamenei

Mohammad Mokhber, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menulis lewat unggahan di X pada Kamis. Ia menyatakan strategi Iran akan menjadi “perang ofensif” jika syarat-syarat Teheran tidak terpenuhi.

“Jalan paling bertahan lama menuju tatanan regional baru terletak pada implementasi mekanisme ekonomi-keamanan Hormuz, independen dari jaminan militer Washington,” tulis Mokhber. Pernyataan ini tampaknya merujuk pada kesepakatan yang diharapkan antara Iran dan Oman untuk mengatur transit lewat Selat Hormuz.

Iran Tegaskan Syarat Pembukaan Kembali Selat

Terpisah pada Kamis, pejabat politik militer senior Rasoul Sanaei-Rad menyatakan Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut. Ia menegaskan syaratnya adalah pihak lain harus memenuhi komitmennya sesuai kesepakatan sementara.

Sanaei-Rad menambahkan pembukaan kembali jalur tersebut bukan sesuatu yang AS dapat capai secara sepihak, menurut laporan Fars News.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

Penumpang di stasiun kereta api PT KAI.
(Posnews/Net)

JABODETABEK

Jangan Salah Naik, 12 Perjalanan KRL Dibatalkan 7-30 September

Senin, 7 Sep 2026 - 07:24 WIB

Polisi mengungkap korban  Mozza Axillia dibunuh MDVA setelah cekcok akibat cemburu lalu jasadnya dibuang ke jurang Tol Jangli. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Misteri Mozza Terbongkar, Pelaku Ditangkap Saat Nonton Voli

Senin, 7 Sep 2026 - 06:05 WIB

Ilustrasi, Commuter Line tetap beroperasi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
(Posnews/KAI)

JABODETABEK

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Commuter Merak Tetap Jalan

Senin, 7 Sep 2026 - 05:51 WIB

Ilustrasi, cuaca cerah mendominasi Jabodetabek Senin 7 September 2026 dengan suhu hingga 35 derajat Celsius.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Senin 7 September, Jabodetabek Cerah tapi Suhu Bisa Menyengat

Senin, 7 Sep 2026 - 05:41 WIB