Israel Perluas Serangan Udara Saat Lebanon Terpecah Soal Negosiasi

Selasa, 28 April 2026 - 13:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan tanpa jeda di Lebanon. Israel terus membombardir wilayah selatan dan menuntut perlucutan senjata Hezbollah meskipun Donald Trump berupaya meredam konflik. Dok: REUTERS/Mohamed Azakir.

Ketegangan tanpa jeda di Lebanon. Israel terus membombardir wilayah selatan dan menuntut perlucutan senjata Hezbollah meskipun Donald Trump berupaya meredam konflik. Dok: REUTERS/Mohamed Azakir.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah berada di ambang kolaps setelah militer Israel memperluas jangkauan operasionalnya hingga ke wilayah Timur Lebanon pada Senin. Serangan udara tersebut menghantam Lembah Bekaa, area yang sebelumnya relatif tenang sejak kesepakatan penghentian permusuhan diberlakukan awal bulan ini.

Meskipun intensitas serangan sempat menurun secara global, baku tembak di wilayah perbatasan tidak pernah benar-benar berhenti. Ekspansi serangan ke wilayah Timur menunjukkan bahwa Israel tidak lagi membatasi operasinya hanya pada zona konflik di Lebanon Selatan.

Ekspansi Militer ke Lembah Bekaa

Pesawat tempur Israel menargetkan infrastruktur yang mereka klaim milik Hezbollah di dekat kota Nabi Chit, dekat perbatasan timur Lebanon dengan Suriah. Serangan ini menjadi momen pertama Lembah Bekaa terkena hantaman sejak gencatan senjata 16 April. Pihak militer Israel menegaskan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menghancurkan sarana pendukung kelompok bersenjata tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di saat yang sama, pasukan darat Israel masih menduduki jalur wilayah di selatan Lebanon. Militer Israel terus melakukan pembongkaran rumah-rumah warga yang mereka identifikasi sebagai markas operasional Hezbollah. Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan di wilayah selatan pada hari Senin telah menyebabkan setidaknya tiga warga sipil terluka.

Baca Juga :  Front Baru Perang Iran: AS dan Israel Galang Kekuatan Separatis Kurdi dan Baloch

Perlawanan Hezbollah dan Klaim Serangan Tank

Hezbollah merespons aktivitas militer Israel dengan tetap melancarkan serangan drone dan roket ke wilayah utara Israel dan posisi pasukan pendudukan di Lebanon Selatan. Pada Senin, kelompok yang didukung Iran tersebut mengklaim telah berhasil menyerang sebuah tank Israel menggunakan drone bunuh diri.

Juru bicara militer Israel mengonfirmasi adanya ledakan drone di dekat pasukan mereka, namun menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Saling balas serangan ini mempertegas kegagalan gencatan senjata dalam menciptakan stabilitas yang permanen bagi warga di kedua sisi perbatasan.

Retret Politik: Aoun vs Hezbollah Soal Negosiasi

Di Beirut, perang fisik di lapangan kini merembet menjadi perselisihan politik yang tajam. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, membela keputusan pemerintah untuk mengutus duta besarnya guna bertemu langsung dengan pihak Israel di Amerika Serikat. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membuka jalan bagi kesepakatan damai yang lebih permanen.

Langkah diplomatik ini mendapatkan penolakan keras dari pemimpin Hezbollah, Naim Qassem. Dalam pernyataan tertulisnya, Qassem menyebut negosiasi langsung tersebut sebagai sebuah “konsesi yang memalukan dan tidak perlu.” Ia menegaskan bahwa Hezbollah menganggap hasil dari perundingan tersebut tidak ada dan tidak mengikat bagi kelompoknya.

Baca Juga :  Tembok Ratapan: Saksi Bisu Peradaban dan Simbol Suci di Jantung Yerusalem

Tuduhan Pengkhianatan dan Konsensus Nasional

Menanggapi kritik Hezbollah, Presiden Joseph Aoun melontarkan serangan verbal yang cukup tajam tanpa menyebutkan nama kelompok tersebut secara langsung. Aoun menyatakan bahwa upaya pemerintah untuk bernegosiasi bukanlah sebuah pengkhianatan. Sebaliknya, ia menyindir pihak-pihak yang membawa negara ke dalam jurang peperangan demi kepentingan eksternal tanpa adanya konsensus nasional.

“Beberapa pihak meminta pertanggungjawaban kami karena memutuskan bernegosiasi dengan alasan kurangnya konsensus nasional. Saya bertanya: Saat Anda memutuskan untuk berperang, apakah Anda terlebih dahulu mendapatkan konsensus nasional?” tegas Aoun dalam pernyataan resmi dari kantornya.

Masa Depan Lebanon di Ujung Tanduk

Masa depan Lebanon kini bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menyeimbangkan tekanan militer Israel dan resistensi politik Hezbollah. Sejak 2 Maret, kampanye udara dan darat Israel telah meninggalkan sebagian besar wilayah Lebanon Selatan dalam reruntuhan dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Masyarakat internasional kini memantau apakah diplomasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat mampu menghasilkan kesepakatan yang ditaati oleh semua pihak. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, persimpangan antara kedaulatan nasional, resistensi bersenjata, dan kebutuhan akan perdamaian tetap menjadi medan tempur politik yang sengit bagi bangsa Lebanon.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis
Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya
14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:21 WIB

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:14 WIB

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Berita Terbaru

Putusan panggung hukum Buffalo. Juri federal menyatakan Hadi Matar bersalah atas aksi terorisme internasional terkait penikaman novelis Salman Rushdie. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Juri Menyatakan Hadi Matar Bersalah atas Penikaman Penulis

Jumat, 31 Jul 2026 - 16:21 WIB

Tragedi kematian massal satwa liar. Otoritas Kenya mencurigai racun sianida pada buah tomat di perbatasan Taman Nasional Amboseli sebagai pemicu kematian 15 gajah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Racun Sianida pada Tomat Diduga Tewaskan 15 Gajah di Kenya

Jumat, 31 Jul 2026 - 15:14 WIB