JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama lebih dari satu milenium, Konstantinopel berdiri gagah sebagai permata Kekaisaran Bizantium. Kota ini memiliki reputasi legendaris sebagai benteng yang tak tertembus. Tembok Theodosius yang berlapis tiga melindungi kota ini dari segala serangan musuh.
Banyak pasukan besar mencoba menaklukkannya, namun selalu gagal. Namun, sejarah berubah total pada musim semi tahun 1453. Seorang pemimpin muda berusia 21 tahun, Sultan Mehmed II dari Kesultanan Utsmaniyah, datang dengan tekad baja.
Ia tidak hanya membawa pasukan dalam jumlah masif. Justru, ia membawa visi dan teknologi perang yang melampaui zamannya. Peristiwa ini kelak akan menandai akhir dari Abad Pertengahan dan mengubah nasib dunia selamanya.
Meriam Raksasa dan Kapal di Atas Bukit
Strategi Mehmed II—yang kemudian bergelar Al-Fatih atau Sang Penakluk—sangatlah brilian. Ia menyadari bahwa tembok tebal membutuhkan solusi ekstrem. Lantas, ia menyewa insinyur Hungaria bernama Orban untuk membuat meriam terbesar yang pernah ada di dunia.
Meriam “Basilica” tersebut mampu melontarkan bola batu seberat 600 kilogram. Seketika, dentuman meriam itu meruntuhkan tembok yang telah berdiri kokoh selama seribu tahun.
Selain itu, Mehmed melakukan manuver taktis yang tidak masuk akal. Rantai besi raksasa memblokir akses kapal ke Teluk Golden Horn. Maka, ia memerintahkan pasukannya untuk memindahkan 70 kapal perang melalui daratan berbukit dalam satu malam.
Pagi harinya, penduduk Konstantinopel terbangun dengan horor. Kapal-kapal musuh sudah berada di perairan dalam kota mereka. Akhirnya, pada 29 Mei 1453, kota legendaris itu jatuh ke tangan Utsmaniyah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kiamat Bagi Jalur Dagang Eropa
Dampak geopolitik dari kejatuhan ini sangat dahsyat bagi Eropa. Konstantinopel adalah gerbang utama Jalur Sutra yang menghubungkan Eropa dengan kekayaan Asia.
Kini, gerbang itu berada di bawah kendali penguasa Muslim. Utsmaniyah menerapkan pajak tinggi dan membatasi akses bagi pedagang Kristen. Akibatnya, pasokan rempah-rempah, sutra, dan obat-obatan ke Eropa terhenti atau menjadi sangat mahal.
Eropa panik. Ekonomi mereka sangat bergantung pada komoditas tersebut. Mereka tidak punya pilihan lain. Oleh karena itu, mereka harus mencari jalan alternatif yang tidak melewati wilayah Utsmaniyah.
Terpaksa Menjelajah Samudra
Kondisi terjepit ini memicu keberanian nekat. Bangsa Spanyol dan Portugis memutar otak. Jika jalan darat tertutup, mereka harus mencari jalan laut.
Portugis memilih rute ke selatan, mengelilingi Benua Afrika untuk mencapai India dan Nusantara. Sementara itu, Christopher Columbus dari Spanyol memilih berlayar ke barat, menembus Samudra Atlantik yang misterius.
Tanpa sengaja, ambisi mencari lada dan cengkeh ini justru membawa mereka “menemukan” Benua Amerika. Era Penjelajahan Samudra (Age of Discovery) pun dimulai.
Pergeseran Pusat Dunia
Pada akhirnya, jatuhnya Konstantinopel adalah efek kupu-kupu terbesar dalam sejarah. Satu peristiwa di Mediterania memicu gelombang kolonialisme yang menjajah Asia, Afrika, dan Amerika selama berabad-abad.
Pusat gravitasi dunia bergeser. Mediterania yang dulu ramai mulai sepi. Sebaliknya, Samudra Atlantik dan Pasifik menjadi panggung utama perdagangan dan kekuasaan global baru. Sultan Mehmed II tidak hanya menaklukkan sebuah kota, tetapi ia secara tidak sengaja memaksa Eropa untuk menaklukkan dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















