TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang bersiap meluncurkan gelombang baru pelepasan cadangan minyak nasional pada bulan Mei mendatang. Langkah darurat ini bertujuan menjamin stabilitas pasokan energi di tengah situasi keamanan Timur Tengah yang masih sangat rapuh.
Dalam konteks ini, otoritas terkait berencana melepas volume minyak yang setara dengan 20 hari konsumsi domestik. Keputusan tersebut muncul karena Tokyo masih meragukan keamanan jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz di tahun 2026 ini.
Gencatan Senjata AS-Iran dan Dilema Keamanan
Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua pekan pada hari Selasa. Kesepakatan ini tercapai sesaat sebelum ultimatum Presiden Donald Trump untuk menghancurkan infrastruktur Iran berakhir. Namun, pengamat militer menilai situasi navigasi di Teluk belum sepenuhnya pulih.
Lebih lanjut, serangan udara Israel terhadap kelompok milisi Hezbollah di Lebanon terus berlanjut tanpa henti. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Iran mungkin akan mempertahankan blokade de facto di Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar. Oleh karena itu, Kementerian Industri Jepang memilih bersikap waspada dengan menyiapkan cadangan tambahan guna menghindari kelangkaan bahan bakar.
Rekor Pelepasan Cadangan: 80 Juta Barel
Jepang telah memulai pelepasan stok minyak terbesar dalam sejarahnya sejak pertengahan Maret lalu. Pemerintah memiliki target ambisius untuk menyuntikkan total 80 juta barel minyak ke pasar domestik. Angka ini setara dengan kebutuhan konsumsi nasional selama kurang lebih 50 hari.
Penyediaan minyak tersebut berasal dari tiga sumber utama:
- Cadangan strategis milik negara.
- Cadangan wajib yang dikelola sektor swasta.
- Cadangan bersama dengan negara-negara penghasil minyak di Teluk.
Secara khusus, minyak milik negara untuk kebutuhan 30 hari akan mengalir dari 11 pangkalan nasional pada akhir April. Sebagai hasilnya, Jepang berharap dapat meredam lonjakan harga bensin yang telah mencekik daya beli masyarakat sejak serangan 28 Februari lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketergantungan Energi dan Koordinasi IEA
Sebagai negara yang miskin sumber daya, Jepang sangat bergantung pada impor minyak mentah. Bahkan, lebih dari 90 persen pasokan energi nasional berasal dari wilayah Timur Tengah. Oleh sebab itu, stabilitas Selat Hormuz merupakan masalah kedaulatan ekonomi yang paling krusial bagi Tokyo.
Perdana Menteri Sanae Takaichi telah menegaskan dukungan penuh bagi pelepasan cadangan bersama International Energy Agency (IEA). Takaichi menyampaikan hal tersebut saat bertemu Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, di Tokyo bulan lalu. Negara-negara anggota IEA sendiri telah melepas lebih dari 400 juta barel minyak sejak Maret. Ini merupakan langkah koordinasi terbesar kedua setelah krisis Ukraina tahun 2022.
Menjaga Ketahanan Nasional
Masa depan ekonomi Jepang di sisa tahun 2026 sangat bergantung pada keberhasilan manajemen krisis energi ini. Pada akhirnya, pelepasan cadangan minyak merupakan benteng terakhir untuk mencegah kebangkrutan industri manufaktur nasional.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah diplomasi Takaichi mampu menekan harga energi dunia yang volatil. Tanpa adanya jaminan keamanan navigasi yang permanen di Teluk, Jepang kemungkinan besar akan terus menguras cadangan strategisnya demi menjaga lampu tetap menyala dan roda ekonomi tetap berputar.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















