Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Maret 2026 - 09:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

SYDNEY, POSNEWS.CO.ID – Sebuah laporan baru dari Institute for Economics & Peace (IEP) mengungkap pergeseran peta terorisme dunia pada tahun 2026. Meskipun angka kematian global mencapai titik terendah dalam sepuluh tahun, Nigeria dan Republik Demokratik Kongo (DRC) justru mengalami eskalasi kekerasan jihadis yang signifikan.

Nigeria kini menempati peringkat keempat dalam Indeks Terorisme Global, di belakang Pakistan, Burkina Faso, dan Niger. Total kematian akibat terorisme di Nigeria naik drastis dari 513 jiwa pada 2024 menjadi 750 jiwa sepanjang tahun lalu.

Krisis Multifaset di Nigeria: Munculnya Ancaman Baru

Negara dengan populasi terbesar di Afrika ini sedang berjuang menghadapi krisis keamanan yang sangat kompleks. Kelompok Boko Haram dan pecahannya terus berupaya menguasai wilayah di utara. Selain itu, kelompok teroris baru seperti Lakurawa mulai muncul dan memberikan ancaman tambahan bagi stabilitas nasional.

Kebrutalan konflik ini terlihat jelas pada tragedi di negara bagian Kwara bulan Februari lalu, di mana 162 orang tewas dalam satu serangan massal. Militer Nigeria melaporkan bahwa mereka baru saja berhasil memukul mundur serangan terkoordinasi di Borno dan menewaskan 80 pemberontak. Namun, serangan bom bunuh diri di Maiduguri yang menewaskan puluhan orang membuktikan bahwa sel-sel teroris masih sangat aktif.

Baca Juga :  Psikologi Video Game: Otak Kita Mencintai Tantangan Virtual?

Eskalasi di Kongo dan Lonjakan di Dunia Barat

Kondisi serupa terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC). Angka kematian terkait terorisme di sana naik 28% menjadi 467 jiwa pada tahun 2025. Kelompok Allied Democratic Forces (ADF) yang berafiliasi dengan ISIS menjadi penggerak utama kekerasan di wilayah pusat Afrika tersebut.

Kontras dengan tren di Afrika, negara-negara Barat mencatat lonjakan kematian sebesar 280% meskipun total angkanya masih relatif kecil (57 kematian). Amerika Serikat mencatat 28 kematian, angka tertinggi sejak 2019. IEP mengidentifikasi bahwa radikalisasi pemuda dan serangan “lone-wolf” menjadi pendorong utama meningkatnya ancaman di wilayah Barat.

Strategi “Hati dan Pikiran” di Sahel dan Penggunaan Drone

Kawasan Sahel tetap menjadi episentrum terorisme global dengan menyumbang lebih dari separuh kematian dunia. Namun, terjadi perubahan taktik yang unik di wilayah ini. Kelompok afiliasi Al-Qaeda, JNIM, mulai mengurangi serangan terhadap warga sipil guna memenangkan dukungan publik atau strategi “hati dan pikiran”.

Baca Juga :  Indonesia Kecam Serangan Israel ke Doha: 6 Tewas, Hukum Internasional Tertabrak

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Militan di Sahel kini lebih fokus mengincar target bernilai tinggi seperti personel militer dan tokoh politik. Selain itu, penggunaan teknologi drone meningkat drastis. JNIM tercatat menggunakan drone dalam lebih dari 100 insiden kekerasan selama tiga tahun terakhir. ISWAP juga mulai mengoperasikan drone untuk misi pengumpulan intelijen dan pengawasan guna mempersiapkan serangan darat.

Kesimpulan: Tatanan Dunia yang Retak

Pendiri IEP, Steve Killelea, memperingatkan bahwa pencapaian dalam melawan terorisme selama satu dekade terakhir kini berada dalam risiko. “Tatanan dunia yang retak berisiko menghapus kemajuan yang telah kita bangun dengan susah payah,” ujar Killelea.

Konsentrasi serangan kini semakin meningkat di wilayah perbatasan, terutama di area tri-border Sahel Tengah dan Cekungan Danau Chad. Tantangan bagi pemerintah di tahun 2026 bukan lagi sekadar memadamkan api pemberontakan, melainkan menghadapi adaptasi taktis kelompok militan yang semakin canggih dan terintegrasi secara teknologi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal
Cucu Mpok Nori Tewas di Cipayung, Mantan Suami Siri Emosi Usai Ditolak Rujuk
Dermaga Kali Adem Ramai, Polisi Fokus Pengamanan dan Keselamatan Penumpang
64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur
Baku Tembak TNI AL vs KKB di Maybrat, 2 Prajurit Gugur – Senjata Dirampas
Cuaca Jakarta 23 Maret 2026: Mayoritas Berawan, Kepulauan Seribu Hujan Ringan
Trump Beri Ultimatum 48 Jam, Iran Ancam Balas Infrastruktur Regional
Banjir Kampung Melayu Surut, Ditpolairud dan Warga Gotong Royong Bersihkan Lumpur

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 09:21 WIB

Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Maret 2026 - 08:15 WIB

ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Maret 2026 - 07:30 WIB

Cucu Mpok Nori Tewas di Cipayung, Mantan Suami Siri Emosi Usai Ditolak Rujuk

Senin, 23 Maret 2026 - 07:13 WIB

Dermaga Kali Adem Ramai, Polisi Fokus Pengamanan dan Keselamatan Penumpang

Senin, 23 Maret 2026 - 07:11 WIB

64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur

Berita Terbaru

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam

Senin, 23 Mar 2026 - 09:21 WIB

Runtuhnya kepastian hukum imigrasi. Seorang ibu asal Kanada dan putrinya yang menderita autisme kini mendekam di tahanan ICE selama sepekan. Otoritas memaksa mereka melakukan

INTERNASIONAL

ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Senin, 23 Mar 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi, Tragedi di zona medis. Serangan drone menghantam Rumah Sakit Pendidikan El-Daein di Darfur Timur, menewaskan puluhan pasien dan anak-anak di tengah krisis kemanusiaan Sudan yang kian memburuk. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

64 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Drone di Rumah Sakit Darfur

Senin, 23 Mar 2026 - 07:11 WIB