WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali mengeklaim bahwa kampanye militer terhadap Iran membuahkan kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbicara dalam konferensi pers di Pentagon pada hari Jumat, Hegseth menuduh media massa sengaja meremehkan pencapaian Washington di medan perang.
Dalam penjelasannya, Hegseth menyebut bahwa serangan udara gabungan AS-Israel telah menghantam lebih dari 15.000 target dalam 13 hari. Akibatnya, ia mengeklaim Iran kini tidak lagi memiliki angkatan udara, angkatan laut, maupun jaringan pertahanan rudal yang berfungsi. “Amerika Serikat sedang membinasakan militer rezim radikal Iran dengan cara yang belum pernah dunia lihat sebelumnya,” tegas Hegseth kepada wartawan.
Klaim “Lumpuh” vs Realitas di Teheran
Hegseth juga menyatakan bahwa kapasitas produksi rudal balistik Iran telah “kalah secara fungsional”. Bahkan, ia menyebut para pemimpin Iran kini bersembunyi di bawah tanah seperti “tikus”. Namun demikian, rekaman video terbaru justru menunjukkan Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sedang berjalan kaki di Teheran untuk merayakan Hari Quds.
Selain itu, Hegseth melontarkan klaim bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka parah dan cacat akibat serangan. Meskipun begitu, pihak independen belum memverifikasi klaim tersebut. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korban Garda Revolusi (IRGC) masih terus meluncurkan rentetan rudal dan drone ke instalasi militer AS di Teluk dan Israel.
Investigasi Serangan Sekolah dan Teknologi Rudal Baru
Di tengah klaim kemenangan tersebut, Hegseth mengonfirmasi bahwa militer AS sedang menyelidiki serangan udara terhadap sebuah sekolah perempuan yang menewaskan 175 orang. Laporan awal menunjukkan bahwa bom Amerika memang menghantam sekolah tersebut. Oleh karena itu, Pentagon menunjuk seorang jenderal di luar Komando Pusat AS untuk memimpin penyelidikan guna menjamin transparansi.
Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa AS telah menggunakan rudal presisi generasi terbaru untuk pertama kalinya dalam pertempuran. Senjata anti-kapal ini memiliki jangkauan lebih jauh dan tingkat akurasi yang lebih tinggi daripada versi sebelumnya. Secara simultan, Caine mengakui bahwa Selat Hormuz masih tertutup sebagian, dan operasi pengawalan kapal komersial belum dimulai.
Ketegangan dengan Media dan Seruan Relijius
Sepanjang konferensi pers, Hegseth berulang kali mengkritik liputan berita mengenai perang tersebut. Bahkan, ia sempat mengusulkan agar stasiun televisi menggunakan tajuk berita “Iran Semakin Putus Asa”. Ketegangan memuncak saat beberapa jurnalis dan fotografer dilarang masuk ke ruang pengarahan, yang kabarnya karena mereka pernah memublikasikan foto Hegseth yang dianggap “tidak menarik”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hegseth juga secara spesifik menyerang jaringan berita CNN. Sebagai penutup, ia mengakhiri pidatonya dengan seruan religius, meminta warga Amerika untuk tetap berdoa bagi pasukan AS. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya melayani Tuhan, pasukan, negara, konstitusi, dan Presiden Amerika Serikat. Dengan demikian, retorika agresif Washington ini menandakan bahwa AS belum berencana menghentikan gempuran militer dalam waktu dekat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















