Aturan Tak Tertulis yang Mengubah Dunia

Selasa, 28 Oktober 2025 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama ribuan tahun, orang menganggap perbudakan sebagai fakta ekonomi yang normal. Hari ini, kini orang menganggap praktik itu tabu secara universal dan mengecamnya sebagai kejahatan kemanusiaan. Mengapa? Di medan perang, bom konvensional yang menewaskan ribuan orang mungkin dianggap sah secara hukum, tetapi mengapa orang melarang keras penggunaan senjata kimia (yang juga membunuh) dan menganggapnya sebagai pelanggaran berat?

Jika Realis mengatakan kekuatan militer menguasai dunia, dan Liberalis menunjuk pada institusi, lalu mengapa bahkan negara terkuat takut pada “aturan tak tertulis” ini? Teori Konstruktivisme, khususnya yang berfokus pada norma, memberikan jawaban yang berbeda dan mendalam.

Kekuatan Norma Internasional

Teori Konstruktivisme berargumen bahwa realitas politik tidak bersifat material semata (bukan hanya soal tank dan uang). Sebaliknya, masyarakatlah yang membangun realitas itu secara sosial (socially constructed). Bagi mereka, identitas, keyakinan, dan norma (standar perilaku yang diterima) jauh lebih penting.

Baca Juga :  Daftar 10 Korban Tewas KRL vs Argo Bromo Terungkap, Semua Perempuan - Ini Identitasnya

Sebuah norma internasional adalah keyakinan kolektif tentang apa perilaku yang “benar” atau “wajar” bagi negara. Konstruktivis memperkenalkan konsep Siklus Hidup Norma (Norm Lifecycle) untuk menjelaskan bagaimana ide radikal bisa menjadi standar global:

  1. Norm Emergence: Norm entrepreneurs (pelaku norma), seperti aktivis, LSM, atau negara kecil, memunculkan sebuah ide baru (contoh: ide anti-perbudakan).
  2. Norm Cascade: Negara-negara penting mulai mengadopsi ide tersebut hingga mencapai titik kritis dan menyebar cepat.
  3. Internalization: Norma tersebut menjadi begitu lazim sehingga orang menaatinya secara otomatis. Orang kini menganggap pelanggaran norma itu “salah” atau “aneh”.

Dari Ranjau Darat hingga R2P

Contoh klasiknya adalah kampanye pelarangan ranjau darat pada 1990-an. Secara militer, ranjau darat adalah senjata murah dan efektif. Namun, koalisi LSM dan aktivis (norm entrepreneurs) berhasil membingkai ulang ranjau darat bukan sebagai senjata, tetapi sebagai pelanggaran kemanusiaan terhadap warga sipil. Mereka sukses menciptakan norma baru yang melarangnya.

Baca Juga :  Apel Kasatwil 2025 di Cikeas, 607 Pejabat Kepolisian Kumpul Rumuskan Arah Kebijakan Nasional

Pergeseran norma kedaulatan adalah contoh lain. Dulu, kedaulatan negara bersifat absolut. Namun, setelah genosida di Rwanda dan Balkan, muncul norma baru: Responsibility to Protect (R2P). Norma ini menyatakan bahwa jika sebuah negara membantai rakyatnya sendiri, komunitas internasional memiliki hak, bahkan kewajiban, untuk campur tangan.

Kesimpulan

Bagi kaum Konstruktivis, kekuatan terbesar di dunia bukanlah senjata, tapi ide yang berhasil mengubah persepsi kolektif tentang apa yang “benar” dan “salah”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senjata bisa memenangkan perang, tetapi norma-lah yang menentukan apa yang layak orang perjuangkan dan bagaimana mereka boleh melakukan perang itu. Teori ini mengingatkan kita bahwa realitas tidak tetap. Kita bisa mengubah dunia dengan terlebih dahulu mengubah keyakinan kolektif kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB