TANGERANG, POSNEWS.CO.ID – Aroma kopi, teh, dan kakao Indonesia bakal menjadi salah satu daya tarik utama Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41.
Kementerian Perdagangan menyiapkan zona khusus yang mempertemukan tiga komoditas perkebunan tersebut dalam satu area.
Zona bernama Kopi, Teh, dan Kakao (KoTeKa) itu akan hadir di Hall 3A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 14–18 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konsep tersebut menjadi strategi baru Kemendag untuk memudahkan buyer mancanegara menemukan produk Indonesia sesuai kebutuhan mereka.
Dengan begitu, pertemuan bisnis antara buyer dan pelaku usaha diharapkan berlangsung lebih cepat dan terarah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan pengelompokan produk berdasarkan zona tematik sengaja dilakukan untuk mempertemukan komoditas Indonesia dengan calon pembeli yang tepat.
“Melalui pengelompokan zona ini, kami ingin memastikan buyer internasional lebih mudah menemukan produk sesuai kebutuhan mereka. Dengan begitu, pembahasan bisnis dengan ekshibitor bisa lebih terarah dan kesepakatan bisnis bisa terjadi lebih cepat,” ujar Puntodewi.
6.597 Buyer dari 113 Negara Sudah Terdaftar
Antusiasme terhadap TEI 2026 juga terus meningkat. Hingga 29 September 2026, Kemendag mencatat 6.597 buyer dari 113 negara telah mendaftar untuk menghadiri pameran tersebut.
India menjadi salah satu negara dengan jumlah buyer terbanyak, yakni 680 orang. China, Nigeria, dan Malaysia juga masuk dalam negara dengan jumlah buyer terdaftar terbesar.
Sementara itu, jumlah pelaku usaha Indonesia yang telah mendaftar sebagai ekshibitor mencapai 1.533 perusahaan, termasuk UMKM.
Kemendag sendiri menargetkan TEI 2026 dapat menarik sekitar 8.000 buyer dari berbagai negara.
Kondisi tersebut membuat TEI 2026 bukan sekadar ajang pamer produk. Pameran ini menjadi ruang pertemuan langsung antara pelaku usaha nasional dan pasar global.
20 Pelaku Usaha Masuk Zona KoTeKa
Kemendag memfasilitasi 20 pelaku usaha hasil kurasi di Zona KoTeKa. Area tersebut terbagi menjadi dua paviliun.
Paviliun Kopi dan Teh menempati lahan seluas 108 meter persegi, sedangkan Paviliun Kakao memiliki luas 54 meter persegi.
Zona KoTeKa menjadi bagian dari Food, Beverage, and Agriculture Products, salah satu zona dengan jumlah ekshibitor terbanyak di TEI 2026. Total terdapat 754 ekshibitor di zona tersebut.
Untuk kopi, pelaku usaha yang tampil mewakili empat daerah sentra, yakni Aceh, Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Lampung.
Mengusung konsep “Coffee from Indonesia to the World”, paviliun kopi akan memperkenalkan keberagaman asal, karakter, dan kualitas kopi Indonesia kepada buyer internasional.
Pameran itu juga mempertemukan perusahaan eksportir dengan koperasi petani dari sejumlah daerah sentra kopi.
“Kopi Indonesia memiliki kekuatan dari keragaman daerah asal, kualitas, dan karakter produknya. Melalui TEI, kami terus mendorong pelaku usaha untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat citra kopi Indonesia di pasar global,” kata Puntodewi.
Ekspor Kopi Cetak Rekor
Potensi tersebut bukan tanpa alasan. Data Kemendag menunjukkan ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai rekor USD2,51 miliar dengan volume 510.759 ton.
Nilai tersebut meningkat 53,2 persen dibandingkan 2024. Capaian itu sekaligus menempatkan Indonesia sebagai eksportir kopi terbesar kedelapan dunia dengan pangsa pasar 3,50 persen.
Karena itu, TEI menjadi momentum untuk mendorong komoditas kopi Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga semakin kuat di pasar internasional.
Teh dan Kakao Ikut Bidik Pasar Global
Selain kopi, empat pelaku usaha akan mengisi paviliun teh. Mereka adalah PT Havelindo Vita Lestari, PT Bukit Sari, PT Arafa Arinaya Asia, dan PT Induk Prima Makmur.
Kemendag melihat peluang pengembangan teh Indonesia masih terbuka, terutama pada segmen teh hijau dan specialty tea yang memiliki permintaan global.
Selanjutnya, Paviliun Kakao menghadirkan produk dari sektor hulu hingga hilir. Bahkan, produk cokelat artisan ikut diperkenalkan kepada buyer.
Enam ekshibitor yang tampil yakni PT Morinuka Alam Nusantara, PT Nutri Choco Nusantara, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, PT nDalem Value Creation Indonesia, CV Mimpi Masa Kecil Anak Indonesia, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
Sektor kakao juga menunjukkan performa ekspor yang kuat. Pada 2025, ekspor kakao dan produk turunannya mencapai sekitar USD3,50 miliar, menjadi capaian tertinggi dan menempatkan Indonesia sebagai eksportir kakao terbesar ketujuh dunia.
Ada Kontes Kopi hingga Seminar Bisnis
Zona KoTeKa tidak hanya menjadi tempat memajang produk. Kemendag juga menyiapkan berbagai kegiatan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan buyer secara lebih aktif.
Salah satunya Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) ke-18 yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2026.
Selain itu, akan digelar seminar dan lokakarya yang membahas perkembangan industri sekaligus peluang bisnis kopi, teh, dan kakao Indonesia.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, buyer tidak hanya melihat produk. Mereka juga bisa mengenal lebih jauh potensi komoditas, karakter produk, hingga peluang kerja sama dengan pelaku usaha Indonesia.
TEI 2026 Bidik Transaksi Perdagangan
Secara keseluruhan, TEI 2026 mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”.
Kemendag menargetkan TEI tahun ini mampu menghasilkan transaksi sebesar USD17,5 miliar. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target TEI tahun sebelumnya sebesar USD16,5 miliar.
Namun, capaian TEI 2025 menjadi pembanding yang cukup kuat. Nilai transaksi saat itu mencapai USD22,83 miliar, melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
Dengan persiapan business matching, zona tematik, dan kehadiran ribuan buyer dari berbagai negara, Kemendag berharap TEI 2026 tidak berhenti sebagai pameran.
Lebih jauh, ajang ini diharapkan membuka kontrak baru, memperluas pasar ekspor, serta membawa produk kopi, teh, kakao, dan berbagai komoditas unggulan Indonesia semakin dikenal dunia. **
Editor : Hadwan













