Krisis Haiti Memuncak: Dewan Transisi Ngotot Pecat PM Fils-Aime

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perebutan kekuasaan meledak di Port-au-Prince. Dewan Transisi bergerak menggulingkan Perdana Menteri meski Washington memberi peringatan keras tentang konsekuensinya. Dok: Istimewa.

Perebutan kekuasaan meledak di Port-au-Prince. Dewan Transisi bergerak menggulingkan Perdana Menteri meski Washington memberi peringatan keras tentang konsekuensinya. Dok: Istimewa.

PORT-AU-PRINCE, POSNEWS.CO.ID – Gejolak politik di Haiti memasuki babak baru yang berbahaya. Pada hari Jumat (24/1), dua pemimpin Dewan Presiden Transisi (CPT) menegaskan niat mereka untuk melanjutkan rencana pemecatan Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime.

Mereka mengambil langkah ini dengan menantang peringatan keras dari Amerika Serikat, donor utama dan kekuatan berpengaruh di wilayah tersebut.

Leslie Voltaire, anggota Dewan Transisi, menegaskan otoritas lembaganya dalam konferensi pers. “Kamilah yang menunjuk Didier Fils-Aime pada November 2024. Kamilah yang bekerja dengannya selama setahun, dan terserah pada kami untuk mengeluarkan keputusan baru yang menunjuk perdana menteri baru,” tegas Voltaire.

Dewan ini, yang bertindak sebagai eksekutif tertinggi negara, memiliki rekam jejak bongkar-pasang kabinet. Sebelumnya, mereka memecat perdana menteri pertama mereka hanya enam bulan setelah menjabat.

“Kriminal Berdasi” vs “Kriminal Bersandal Jepit”

Sementara itu, Fils-Aime tidak tinggal diam. Berbicara di sebuah acara kepolisian pada hari yang sama, ia melontarkan serangan balik yang tajam. Ia menegaskan bahwa “kriminal berdasi atau kriminal bersandal jepit”—merujuk pada politisi korup dan anggota geng jalanan—tidak akan mendikte hukum.

Baca Juga :  Iran Siap Negosiasi, Trump Tetapkan Deadline Rahasia

“Siapa pun yang melawan polisi atau negara akan menghadapi respons tegas tanpa kelemahan, tanpa kompromi,” ancam Fils-Aime.

Di acara tersebut, Kuasa Usaha AS Henry Wooster memberikan dukungan terbuka. Ia menyebut “penting” bagi Fils-Aime untuk tetap menjabat. Tujuannya adalah menjaga kelangsungan perang melawan geng bersenjata yang telah melumpuhkan ibu kota.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Telepon Panas dari Marco Rubio

Ketegangan ini menarik perhatian langsung Washington. Juru bicara pemerintah AS mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah melakukan panggilan telepon dengan Fils-Aime pada Jumat pagi.

Rubio menekankan pentingnya stabilitas dan mendesak pembubaran dewan pada akhir mandatnya, yakni 7 Februari mendatang. Selanjutnya, Rubio juga melontarkan ancaman serius: akan ada “harga mahal” (steep cost) bagi politisi yang Washington anggap korup.

Akan tetapi, Dewan Transisi tampaknya mengabaikan ancaman itu. Voltaire dan rekannya, Edgard Leblanc Fils, mengecam komentar AS sebagai tindakan yang tidak menghormati kedaulatan negara.

Baca Juga :  Xi Jinping dan To Lam Sahkan Kemitraan Strategis Tingkat Tinggi

Skenario Pengganti dan Tuduhan Korupsi

Laporan menyebutkan bahwa lima dari sembilan anggota dewan telah menandatangani resolusi pemecatan Fils-Aime. Louis Gerard-Gilles, salah satu anggota yang mendukung langkah tersebut, berbicara kepada Radio Kiskeya. Ia menyebut Menteri Keuangan Alfred Metellus—seorang veteran sektor publik—sebagai pengganti potensial.

Meskipun demikian, resolusi itu belum sah secara hukum karena pihak berwenang belum menerbitkannya dalam lembaran negara resmi (official gazette).

Dewan Transisi sendiri tidak sepi dari skandal. Sejak mulai bertugas pada April 2024 untuk mengawasi transisi menuju pemilu, pertikaian internal dan tuduhan korupsi mewarnai masa jabatan mereka.

Tahun lalu, pengadilan Haiti membatalkan panggilan terhadap tiga anggota dewan yang menghadapi tuduhan korupsi dengan alasan kekebalan jabatan. Ironisnya, dua dari tiga anggota yang terlindungi hukum tersebut kini menjadi penanda tangan resolusi untuk menggulingkan Perdana Menteri.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK
Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65
Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green
AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz
Review MacBook Pro M5, Laptop Workstation Paling Bertenaga di Tahun 2026
Jerome Powell Bertahan di Dewan Setelah Jabatan Berakhir guna Melawan Tekanan Trump
AS Tuding China Langgar Kedaulatan, Beijing Sebut Trump Munafik

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:10 WIB

Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:30 WIB

Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:15 WIB

Libur Panjang May Day, Contraflow Tol Jakarta-Cikampek Diperpanjang hingga KM 47–65

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga tinggi. PM Keir Starmer menjanjikan tindakan tegas terhadap ekstremisme dan pendanaan keamanan tambahan sebesar ÂŁ25 juta setelah serangan penikaman brutal yang menargetkan komunitas Yahudi di London Utara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Keir Starmer Desak Publik Buka Mata Pasca-Teror Golders Green

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:19 WIB

Ketegangan di jalur nadi dunia. Amerika Serikat menggalang kekuatan internasional melalui Maritime Freedom Construct (MFC) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang tersumbat, sementara harga minyak Brent melonjak hingga USD 126 per barel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Bentuk Koalisi Internasional untuk Paksa Buka Selat Hormuz

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:58 WIB