POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON – Pentagon melontarkan tuduhan serius terhadap mantan perencana militer utama, Letnan Jenderal Angkatan Darat Brett Sylvia.
Pihak Kementerian Pertahanan AS menuduh Sylvia membocorkan informasi rahasia sensitif terkait Perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina kepada jurnalis.
Tuduhan ini muncul hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencopot Sylvia dari jabatannya sebagai Kepala J5 Staf Gabungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa Brett Sylvia telah gagal dalam tiga kali pengujian detektor kebohongan (polygraph test).
Juru Bicara Utama Pentagon Sean Parnell mengonfirmasi bahwa Departemen Pertahanan telah merujuk kasus ini ke Kementerian Kehakiman untuk tindakan hukum.
Pembatalan Pernyataan Resmi Staf Gabungan Dan Komentar Presiden Donald Trump
Staf Gabungan militer AS secara mendadak menarik kembali ucapan terima kasih atas 32 tahun pengabdian Sylvia yang dirilis sebelumnya.
Pihak Staf Gabungan menilai ucapan selamat purna tugas tersebut tidak lagi mencerminkan situasi dan fakta sebenarnya.
Presiden Donald Trump menegaskan komitmen pemerintahannya untuk memburu para pembocor rahasia negara saat menjawab pertanyaan wartawan pada Kamis.
Meskipun demikian, Trump sempat keliru mengidentifikasi Sylvia sebagai seorang wanita dalam penjelasannya kepada awak media.
Pemecatan ini berlangsung sangat krusial saat Presiden Trump sedang mempertimbangkan potensi serangan balasan baru ke wilayah Iran.
Gelombang Pembersihan Perwira Tinggi Serta Pembatasan Akses Media Di Pentagon
Letjen Brett Sylvia merupakan veteran perang berprestasi yang memegang enam medali Bronze Star serta penghargaan Purple Heart.
Pencopotan Sylvia menambah panjang daftar hampir dua lusin jenderal dan pimpinan militer yang disingkirkan di bawah kepemimpinan Hegseth.
Tahun lalu, Hegseth juga memecat tiga pembantu dekatnya atas tuduhan serupa setelah melangsungkan uji polygraph secara internal.
Selain memangkas jajaran perwira tinggi, Pentagon di bawah Hegseth turut memperketat dan membatasi ruang gerak jurnalis media.
Pentagon kini mewajibkan pengawalan bagi jurnalis di area gedung serta menetapkan ruang pers sebagai kawasan tertutup rahasia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













