BRUSSELS/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Planet Bumi baru saja mencatatkan rekor suhu yang mengkhawatirkan. Para ilmuwan Uni Eropa pada hari Rabu mengonfirmasi bahwa tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga sepanjang sejarah pencatatan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, suhu rata-rata global telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celcius selama tiga tahun berturut-turut. Ini adalah periode terpanjang sejak pencatatan dimulai.
Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa (ECMWF) merilis data tersebut. Mereka menemukan bahwa tiga tahun terakhir adalah yang terpanas bagi planet ini. Tahun 2024 memegang rekor sebagai yang terpanas. Sementara itu, suhu tahun 2025 tercatat sedikit lebih sejuk, hanya selisih 0,01 derajat Celcius dibandingkan tahun 2023.
Layanan Cuaca Nasional Inggris, UK Met Office, juga mengonfirmasi temuan ini. Data mereka menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga dalam catatan yang dimulai sejak 1850.
Batas 1,5 Derajat Bukan Lagi “Tebing”
ECMWF mencatat sejarah baru. Planet ini baru saja mengalami periode tiga tahun pertama di mana suhu rata-rata global berada 1,5 derajat Celcius di atas era pra-industri. Para ilmuwan sebelumnya menetapkan angka ini sebagai batas aman untuk menghindari dampak bencana yang tidak dapat diubah.
Samantha Burgess, pemimpin strategis untuk iklim di ECMWF, memberikan peringatan.
“1,5 C bukanlah tepi tebing. Namun, kita tahu bahwa setiap pecahan derajat sangat berarti, terutama untuk memperburuk peristiwa cuaca ekstrem,” jelas Burgess.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah dunia sebelumnya berjanji dalam Perjanjian Paris 2015. Mereka sepakat mencoba menghindari pemanasan global melebihi 1,5 derajat Celcius. Namun, kegagalan mengurangi emisi gas rumah kaca membuat target itu terancam gagal total sebelum 2030—satu dekade lebih cepat dari prediksi awal.
“Kita pasti akan melewatinya,” kata Carlo Buontempo, direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus UE. “Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana mengelola pelampauan yang tak terelakkan ini dan konsekuensinya.”
Bencana Nyata di Depan Mata
Melampaui batas 1,5 C membawa dampak nyata. Dunia menghadapi gelombang panas yang lebih lama, badai yang lebih kuat, dan banjir yang lebih parah.
Tahun 2025 menjadi saksi bisu amukan alam. Kebakaran hutan di Eropa menghasilkan total emisi tertinggi yang pernah tercatat. Studi ilmiah juga mengonfirmasi bahwa perubahan iklim memperburuk peristiwa cuaca tertentu.
Contoh nyatanya adalah Badai Melissa di Karibia. Selain itu, hujan monsun di Pakistan menyebabkan banjir dahsyat yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Trump Tarik Mundur AS
Meskipun dampak iklim makin memburuk, sains justru menghadapi penolakan politik yang keras. Presiden AS Donald Trump kembali membuat langkah kontroversial. Ia menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar”.
Pekan lalu, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari puluhan entitas PBB. Salah satunya adalah Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang berisi para ilmuwan top dunia.
Padahal, konsensus ilmuwan dunia sudah bulat. Perubahan iklim adalah nyata, sebagian besar akibat ulah manusia, dan kondisinya makin memburuk. Penyebab utamanya jelas: emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















