AS Jajaki Pemindahan 1.100 Pengungsi Afghanistan ke DR Kongo

Jumat, 24 April 2026 - 11:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

DOHA, POSNEWS.CO.ID – Nasib seribu lebih warga Afghanistan yang membantu misi perang Amerika Serikat kini berada dalam ketidakpastian ekstrem. Pemerintah AS dilaporkan sedang bernegosiasi guna memindahkan mereka ke Republik Demokratik (DR) Kongo.

Dalam konteks ini, para pengungsi tersebut telah terdampar di Camp As-Sayliyah, Doha, selama lebih dari satu tahun. Oleh karena itu, rencana relokasi ke negara pihak ketiga ini dipandang sebagai upaya Washington guna menyelesaikan komitmen masa perang tanpa harus membawa mereka masuk ke wilayah Amerika Serikat pada tahun 2026.

Antara Perang Saudara dan Ancaman Taliban

Kelompok pengungsi ini mencakup figur-figur krusial yang pernah bekerja sebagai penerjemah dan personel operasi khusus. Selain itu, terdapat keluarga dari 150 anggota militer aktif AS yang ikut terjebak dalam limbo birokrasi di Qatar.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Shawn VanDiver, pimpinan koalisi #AfghanEvac, melontarkan kritik pedas terhadap opsi yang pemerintah berikan. Selain dikirim ke Kongo, pengungsi ditawarkan opsi untuk kembali ke Afghanistan dengan imbalan uang. “Anda tidak bisa menyebut pilihan ini bersifat sukarela jika opsinya adalah Kongo atau Taliban,” tegas VanDiver. Akibatnya, ia melabeli kebijakan ini sebagai pengakuan yang diekstraksi di bawah paksaan, mengingat risiko hukuman mati yang menanti mereka di tangan Taliban.

DR Kongo: Pusat Darurat Kemanusiaan Dunia

Penunjukan DR Kongo sebagai tujuan relokasi memicu alarm bahaya dari komunitas internasional. PBB mengklasifikasikan negara Afrika tersebut sebagai salah satu zona darurat kemanusiaan paling akut di Bumi.

Baca Juga :  Solidaritas Teheran-Islamabad: Pezeshkian Tegaskan Hak Bela Diri Iran di Hadapan PM Shehbaz Sharif

Secara khusus, wilayah timur Kongo masih hancur akibat pertempuran puluhan tahun antara pasukan pemerintah dan pemberontak yang didukung negara tetangga. Bahkan, Jon Finer, mantan penasihat keamanan nasional, memperingatkan bahwa mengirim sekutu AS ke Kongo adalah tindakan yang sangat berisiko. “Basis di Doha dirancang sebagai titik transit, namun bukan berarti kita mengirim orang-orang yang sudah melalui proses verifikasi ketat ke tempat di mana PBB masih menghitung jumlah korban tewas setiap harinya,” ujar Finer.

Diplomasi Transaksional dan Pemotongan Bantuan

DR Kongo merupakan satu dari delapan negara Afrika yang telah menyepakati kontrak jutaan dolar dengan administrasi Trump guna menerima deportan dari AS. Dalam hal ini, kebijakan luar negeri Washington tampak menggunakan isu migrasi sebagai alat tawar ekonomi yang kaku.

Terlebih lagi, kebijakan ini bersifat kontradiktif dengan pemotongan bantuan luar negeri. Amerika Serikat sebelumnya memasok 70% bantuan kemanusiaan bagi Kongo. Namun, pemangkasan anggaran oleh administrasi saat ini telah menyebabkan lonjakan angka kematian yang sebenarnya dapat dicegah di wilayah konflik tersebut. Oleh sebab itu, para aktivis menuduh Washington sedang mengekspor beban kemanusiaannya ke negara-negara yang paling tidak mampu menanggungnya.

Baca Juga :  Bareskrim Bongkar TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun, Rumah dan Toko Emas Digeledah

Kesaksian Keluarga: Hidup dalam Ketakutan

Keresahan mendalam dirasakan oleh keluarga para pengungsi. Negina Khalili, mantan jaksa Afghanistan, mengaku belum menerima pembaruan status bagi ayah dan saudara laki-lakinya sejak tiba di Doha pada Januari 2025.

Di sisi lain, Sean Jamshidi, seorang veteran militer AS yang pernah bertugas di Kongo, menyatakan ketakutannya atas nasib saudaranya. “Saya sudah melihat langsung kamp pengungsian di sana. DR Kongo bukan tempat untuk mengirim sekutu kita dan anak-anak mereka,” tegas Jamshidi. Pada akhirnya, ketiadaan informasi yang transparan dari Departemen Luar Negeri AS memperparah trauma psikologis ribuan pengungsi yang merasa dikhianati oleh negara yang pernah mereka bela.

Kesimpulan: Menanti Kepastian di Panggung Global

Masa depan 1.100 “pahlawan terlupakan” ini kini bergantung pada hasil negosiasi Washington-Kinshasa. Pada akhirnya, kredibilitas janji masa perang Amerika Serikat sedang diuji di hadapan mata dunia.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah prinsip kemanusiaan masih memiliki ruang dalam kebijakan luar negeri AS di tahun 2026. Tanpa adanya jalur permukiman yang aman dan bermartabat, krisis di Doha berisiko menjadi catatan hitam dalam sejarah diplomasi Amerika di sisa dekade ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis
Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek
Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori
Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi
Laporan GAO Ungkap Borok Pangkalan Imigrasi Texas
Wabah Ebola: AS Desak Eropa Perketat Aturan Imigrasi
Kasus Air Keras Aktivis KontraS, Dua Prajurit BAIS TNI Dipecat dari Dinas Militer

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:43 WIB

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:00 WIB

Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:38 WIB

Kapolri Siapkan Nobar Piala Dunia 2026 Gratis di Mabes, Polda hingga Polsek

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:35 WIB

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:21 WIB

Tak Mau Bayar Makan, 2 Pria Keroyok Pedagang Sate di Rawasari Diciduk Polisi

Berita Terbaru

Duka di Mindanao. Tim penyelamat menyisir puing-puing bangunan komersial di General Santos pasca-gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang menewaskan puluhan warga. Dok: REUTERS/Noel Celis

INTERNASIONAL

Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos

Rabu, 10 Jun 2026 - 18:43 WIB

Persaingan ketat di Andes. Roberto Sánchez memimpin sangat tipis atas Keiko Fujimori dalam penghitungan suara pemilihan presiden Peru yang berjalan lambat. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Roberto Sánchez Unggul Tipis Atas Keiko Fujimori

Rabu, 10 Jun 2026 - 17:35 WIB