MANILA, POSNEWS.CO.ID – Para diplomat senior Asia Tenggara berkumpul di Manila.
Selanjutnya, mereka menggelar pertemuan penting mulai hari Selasa.
Dalam hal ini, ketegangan militer di Timur Tengah menjadi fokus utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebab, perang Amerika Serikat dan Iran mengancam stabilitas global.
Sementara itu, Filipina memegang keketuaan ASEAN pada tahun ini.
Oleh karena itu, Manila menjadi tuan rumah konferensi selama tiga hari.
Pertemuan akbar ini menghadirkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Selain itu, utusan China Foreign Minister Wang Yi juga hadir.
Bahkan, diplomat senior Rusia Sergey Lavrov turut meramaikan acara.
Di sisi lain, perwakilan Ukraina Andrii Sybiha menerima undangan khusus.
Namun, Sybiha tidak mengikuti agenda utama KTT ASEAN.
Hingga saat ini, Rubio dan Lavrov belum merencanakan pertemuan bilateral.
Dampak Konflik Energi bagi ASEAN
Rencananya, para menteri akan merilis pernyataan bersama hari Selasa.
Langkah ini menunjukkan kecemasan mendalam wilayah regional.
Oleh sebab itu, ASEAN mendesak kedua pihak segera menghentikan pertempuran.
Apalagi, konflik bersenjata mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.
Padahal, selat tersebut menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia.
Akibatnya, masyarakat Asia Tenggara sangat bergantung pada minyak bumi.
Sebab, perang memicu lonjakan harga barang pokok secara drastis.
Bahkan, Filipina menetapkan darurat energi nasional Maret lalu.
Tentu saja, langkah darurat ini bertujuan mengamankan pasokan kebutuhan warga.
Komitmen Amerika Serikat di Pasifik
Di sisi lain, perang Timur Tengah memecah fokus militer Amerika Serikat.
Alhasil, kondisi ini memicu kekhawatiran sekutu di Asia-Pasifik.
Terutama karena China terus meningkatkan agresivitas di Laut China Selatan.
Selain itu, Beijing juga terus menekan wilayah kedaulatan Taiwan.
Oleh karena itu, kehadiran Marco Rubio bertujuan memberikan jaminan keamanan baru.
Sebab, AS berkomitmen menjaga kestabilan kawasan Indo-Pasifik bebas.
Selanjutnya, Rubio juga akan memimpin pertemuan aliansi keamanan Quad.
Sebagai catatan, aliansi Quad beranggotakan AS, India, Jepang, dan Australia.
Namun, China berulang kali mengkritik keras aliansi tersebut.
Penyelesaian Krisis Myanmar
Sementara itu, ASEAN juga menghadapi tantangan internal yang sangat berat.
Sebab, perang sipil di Myanmar terus memakan korban jiwa.
Apalagi, militer merebut kekuasaan sah sejak tahun 2021 lalu.
Sejauh ini, pertempuran menewaskan lebih dari delapan ribu warga sipil.
Bahkan, otoritas menahan hampir dua puluh dua ribu orang.
Namun, rencana perdamaian lima poin ASEAN belum membuahkan hasil.
Sebab, pemerintah militer mengabaikan kesepakatan damai tersebut secara sepihak.
Oleh karena itu, ASEAN melarang kehadiran delegasi politik Myanmar di Manila.
Meskipun begitu, Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro tetap memimpin perundingan.
Sebelumnya, Lazaro menemui perwakilan Myanmar secara khusus di Bangkok.
Sayangnya, langkah diplomasi ini memicu kritik keras organisasi kemanusiaan.
Sebab, aktivis menilai pertemuan tersebut memberikan panggung bagi militer.
Namun demikian, Lazaro menegaskan pentingnya diplomasi dengan semua pihak.
Kode Etik Laut China Selatan
Selain agenda tersebut, para menteri juga akan menemui Menlu Wang Yi.
Tujuannya, mereka membahas percepatan kesepakatan kode etik pelayaran.
Sebab, aturan ini bertujuan mencegah bentrokan militer di laut.
Saat ini, sengketa wilayah melibatkan China, Brunei, Malaysia, dan Vietnam.
Bahkan, Filipina dan Taiwan juga mengklaim kepemilikan wilayah tersebut.
Alhasil, ketegangan terus meningkat antara pasukan Filipina dan China.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













