TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan bahwa Jepang akan mulai melepas cadangan minyaknya pada Senin depan. Langkah ini bertujuan menangani potensi lonjakan tajam harga bensin dan produk minyak bumi lainnya. Takaichi menegaskan bahwa Jepang tidak akan menunggu keputusan koordinasi dari Badan Energi Internasional (IEA).
Pemerintah akan melepas cadangan minyak milik sektor swasta setara dengan kebutuhan 15 hari. Setelah itu, Jepang akan menarik cadangan milik pemerintah untuk kebutuhan satu bulan. Ini merupakan momen bersejarah karena untuk pertama kalinya Jepang melepas cadangan pemerintah secara mandiri sejak negara tersebut memulai sistem penimbunan pada tahun 1978.
Melindungi Domestik dari Ketergantungan Timur Tengah
Takaichi menyebut ketergantungan Jepang terhadap minyak mentah Timur Tengah sangat tinggi dibandingkan negara lain. Pemerintah memperkirakan volume impor akan turun drastis pada akhir bulan ini. Oleh karena itu, kabinet mengambil langkah darurat guna mencegah gangguan pasokan bensin dan barang-barang minyak lainnya.
Harga bensin eceran domestik berisiko melampaui angka 200 yen (sekitar $1,26) per liter. Takaichi menargetkan harga bensin tetap berada di kisaran 170 yen melalui pemanfaatan dana bantuan pemerintah. Meskipun harga sempat menyentuh 154,70 yen pada Januari, angka tersebut terus merangkak naik hingga mencapai 161,80 yen per liter pada Senin lalu.
Kekuatan Cadangan Minyak Jepang
Hingga akhir Desember, Jepang memiliki total cadangan minyak sebanyak 470 juta barel. Jumlah ini setara dengan konsumsi domestik selama 254 hari. Dari total tersebut, pemerintah memiliki cadangan untuk 146 hari, sementara sektor swasta memegang cadangan untuk 101 hari. Pemerintah menyimpan sisanya bersama dengan negara-negara penghasil minyak.
Blokade Selat Hormuz menjadi pemicu utama kerentanan energi Jepang. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menyebabkan penghentian transportasi minyak dan gas dari Teluk Persia. Takaichi berjanji akan terus meninjau langkah-langkah dukungan secara fleksibel. Ia ingin memastikan masyarakat mendapatkan bantuan berkelanjutan meskipun situasi Timur Tengah berlangsung lama.
Perbandingan dengan Krisis Masa Lalu
Pada tahun 2022, anggota IEA secara kolektif melepas cadangan minyak saat Rusia memulai invasi ke Ukraina. Kala itu, Jepang menyumbang 12,5 persen atau sekitar 22,5 juta barel dari total 180 juta barel yang anggota IEA lepas secara global. Namun, dalam krisis kali ini, Jepang memilih untuk bergerak lebih cepat demi mengamankan ekonomi dalam negerinya terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keputusan Takaichi menunjukkan pergeseran strategi keamanan energi Jepang. Fokus utama kini beralih pada kemampuan ekstraksi sumber daya domestik untuk memenangkan dukungan publik. Dengan menjaga stabilitas harga energi, pemerintah berharap dapat meredam dampak inflasi akibat konflik global.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















