Matinya Institusi Internasional? Mengapa Realisme Menganggap PBB Hanya Alat Kepentingan Negara Besar

Kamis, 12 Maret 2026 - 12:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menjunjung tinggi supremasi hukum. Legalisme Internasional membuktikan bahwa perjanjian dan pengadilan global tetap menjadi benteng terakhir kemanusiaan di dunia yang anarki. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menjunjung tinggi supremasi hukum. Legalisme Internasional membuktikan bahwa perjanjian dan pengadilan global tetap menjadi benteng terakhir kemanusiaan di dunia yang anarki. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Konflik global yang terus memanas pada tahun 2026 kembali mempertanyakan relevansi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyak pihak merasa institusi ini gagal menghentikan peperangan besar. Namun, bagi penganut teori Realisme, fenomena ini bukanlah hal yang mengejutkan.

Kaum Realis memandang institusi internasional hanya sebagai cerminan dari distribusi kekuatan dunia. Mereka tidak percaya bahwa organisasi internasional memiliki otoritas mandiri untuk mendikte perilaku negara. Dalam pandangan ini, PBB hanyalah sebuah instrumen diplomasi bagi negara-negara kuat.

Kekuatan di Balik Teks Hukum Internasional

Realisme menekankan bahwa hukum internasional hanya berlaku jika selaras dengan kepentingan negara-negara dominan. Tanpa dukungan kekuatan militer atau sanksi ekonomi yang efektif, teks-teks hukum di PBB hanyalah sekadar kertas tanpa makna. Negara akan mematuhi hukum internasional hanya selama hukum tersebut menguntungkan posisi mereka.

Saat sebuah aturan membatasi ruang gerak negara besar, mereka sering kali mengabaikannya tanpa konsekuensi yang berarti. Kekuatan fisik tetap menjadi penentu utama dalam anarki internasional. Oleh karena itu, hukum internasional sebenarnya adalah perpanjangan tangan dari kekuasaan (power) negara-negara besar di panggung dunia.

Hak Veto: Belenggu di Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB sering kali mengalami kelumpuhan saat menghadapi krisis besar. Hal ini terjadi karena mekanisme hak veto yang dimiliki oleh lima anggota tetap (Great Powers). Struktur ini membuktikan argumen Realis bahwa institusi internasional dirancang untuk menjaga kepentingan para pemenang perang.

Hak veto memungkinkan negara besar untuk melindungi diri mereka atau sekutu mereka dari tindakan kolektif. Akibatnya, PBB sering kali hanya bertindak pada konflik-konflik kecil yang tidak melibatkan kepentingan langsung negara besar. Dalam kacamata HI, Dewan Keamanan berfungsi sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan nasional, bukan sebagai polisi dunia yang netral.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Pengepungan Minyak Venezuela, Maduro Siap Melawan

Kerapuhan Kerja Sama dan Dilema Pengkhianatan

Kerja sama internasional menurut Realisme bersifat sementara dan sangat rapuh. Negara-negara selalu mengkhawatirkan “keuntungan relatif” (relative gains). Mereka tidak hanya bertanya apakah mereka untung, tetapi apakah tetangga atau lawan mereka untung lebih banyak. Ketakutan ini menghambat kolaborasi jangka panjang.

Negara akan segera mengkhianati atau keluar dari perjanjian internasional saat kepentingan nasional mereka terancam. Di tahun 2026, kita melihat banyak negara menarik diri dari komitmen iklim atau pakta senjata karena alasan keamanan dalam negeri. Kelangsungan hidup negara (survival) selalu mengalahkan janji-janji diplomatik di meja perundingan internasional.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali
Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Berita Terbaru

Tabrakan kereta cepat RENFE dan IRYO di Toledo Spanyol menewaskan 68 orang. Simak kronologi kegagalan sinyal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Jumat, 30 Okt 2026 - 08:40 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi dan Kanselir Jerman Friedrich Merz sepakat bekerja sama amankan pasokan mineral kritis. Simak detail strategi de-risking kedua negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Jumat, 30 Okt 2026 - 07:32 WIB