JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia Islam saat ini sedang berada pada titik persimpangan yang krusial. Perbedaan mazhab yang seharusnya menjadi rahmat intelektual sering kali berubah menjadi instrumen politik yang membelah masyarakat.
Oleh karena itu, pencarian titik temu antar-mazhab bukan lagi sekadar wacana teologis, melainkan kebutuhan keamanan global yang mendesak. Melalui berbagai inisiatif internasional, para pemimpin agama berupaya mengembalikan esensi persatuan di tengah kemajemukan tradisi Islam.
1. Risalah Amman: Deklarasi Keabsahan Mazhab
Salah satu tonggak sejarah terpenting dalam rekonsiliasi intra-agama adalah munculnya Risalah Amman (Amman Message) pada tahun 2004/2005. Inisiatif yang diprakarsai oleh Raja Abdullah II dari Yordania ini berhasil mengumpulkan konsensus dari 500 lebih ulama dari 84 negara.
Selanjutnya, dokumen ini secara eksplisit mengakui keabsahan delapan mazhab utama dalam Islam, termasuk empat mazhab Sunni, dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi, serta mazhab Thahiri. Alhasil, Risalah Amman menetapkan bahwa siapa pun yang mengikuti salah satu dari mazhab tersebut adalah Muslim sejati dan tidak boleh ada pihak yang mengafirkan mereka. Langkah ini bertujuan untuk memotong akar radikalisme yang sering kali bermula dari penolakan terhadap eksistensi kelompok lain.
2. Peran Al-Azhar dalam Menjembatani Dialog
Sebagai institusi pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh, Al-Azhar di Mesir terus memegang peran sentral sebagai penengah. Syekh Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb, secara konsisten mempromosikan visi Islam moderat (Wasathiyah).
Bahkan, Al-Azhar telah melakukan langkah-langkah berani guna menjalin komunikasi dengan lembaga-lembaga Syiah di Iran dan Irak. Pasalnya, kesadaran bahwa musuh bersama umat bukanlah perbedaan mazhab, melainkan kemiskinan dan ketidaktahuan, menjadi penggerak utama dialog tersebut. Melalui pertukaran pelajar dan forum ilmiah, Al-Azhar berupaya menghapus stigma negatif dan membangun rasa saling menghormati di antara para penganut tradisi yang berbeda.
3. Tantangan Digital: Fenomena Takfiri dan Ekstremisme
Meskipun diplomasi di tingkat atas berjalan positif, realitas di akar rumput sering kali terdistorsi oleh narasi di ruang siber. Media sosial kini menjadi medan tempur baru bagi praktik takfiri atau tindakan saling mengafirkan antar-kelompok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa faktor pemicu eskalasi digital antara lain:
- Algoritma Echo Chamber: Media sosial cenderung menyuguhkan konten yang hanya memperkuat kebencian terhadap kelompok lain.
- Anonimitas: Memudahkan individu untuk menyebarkan kebencian tanpa rasa takut akan konsekuensi hukum atau sosial.
- Kurangnya Literasi Agama: Banyak pengguna menelan mentah-mentah kutipan teks yang dilepaskan dari konteks sejarah dan teologisnya.
Dengan demikian, tantangan terbesar bagi rekonsiliasi saat ini adalah bagaimana mentransformasikan pesan-pesan damai dari meja perundingan menjadi perilaku santun di kolom komentar netizen.
4. Ukhuwah Islamiyah di Tengah Islamofobia Global
Pentingnya persatuan umat (ukhuwah Islamiyah) semakin terasa nyata saat dunia menghadapi lonjakan sentimen Islamofobia. Di berbagai negara Barat, diskriminasi terhadap Muslim tidak membedakan apakah seseorang beraliran Sunni, Syiah, atau mazhab lainnya.
Oleh sebab itu, krisis eksternal ini seharusnya menjadi katalis bagi konsolidasi internal. Pasalnya, pelemahan di dalam tubuh umat hanya akan menguntungkan pihak-pihak yang ingin meminggirkan peran Islam dalam peradaban global. Fokus pada tantangan bersama—seperti perlindungan hak asasi manusia, perubahan iklim, dan keadilan ekonomi—terbukti jauh lebih produktif daripada menghabiskan energi pada perdebatan ranting hukum yang telah tuntas sejak ribuan tahun lalu.
Menuju Masa Depan yang Inklusif
Rekonsiliasi antar-mazhab adalah sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan kejujuran intelektual. Pada akhirnya, kedamaian hanya akan terwujud jika kita mampu memandang perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ancaman.
Dengan mengimplementasikan semangat Risalah Amman dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat membangun fondasi peradaban yang lebih kokoh. Dunia menanti kontribusi Islam yang bersatu guna memberikan solusi bagi berbagai permasalahan kemanusiaan. Mari kita jadikan dialog sebagai tradisi, sehingga perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan pintu untuk saling mengenal lebih dalam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















