Akar Sejarah Pembelahan Sunni-Syiah: Dari Suksesi Kepemimpinan hingga Peristiwa Karbala

Minggu, 1 Maret 2026 - 21:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menelusuri jejak perpecahan terbesar. Pembelahan Sunni dan Syiah bukan sekadar perbedaan cara ibadah, melainkan sebuah sengketa politik. Dok: Istimewa.

Menelusuri jejak perpecahan terbesar. Pembelahan Sunni dan Syiah bukan sekadar perbedaan cara ibadah, melainkan sebuah sengketa politik. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia Islam mengenal dua kelompok besar yang telah berdampingan selama lebih dari 1.400 tahun: Sunni dan Syiah. Meskipun keduanya menyembah Tuhan yang sama dan berkiblat pada Kakbah yang sama, sejarah mencatat adanya luka perpecahan yang sangat dalam dan kompleks.

Perbedaan ini tidak bermula dari masalah akidah mendasar, melainkan dari sebuah pertanyaan politis yang sangat praktis: “Siapa yang paling berhak memimpin umat Islam setelah Nabi wafat?”. Jawaban atas pertanyaan inilah yang kemudian membelah sejarah peradaban Islam menjadi dua arus utama.

1. Krisis di Saqifah: Khalifah vs Imam

Segera setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 Hijriah (632 M), para sahabat berkumpul di sebuah lokasi bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan pemimpin baru. Saat itu, jenazah Nabi masih dalam proses pengurusan oleh keluarga dekatnya, termasuk Ali bin Abi Thalib.

Dalam pertemuan tersebut, terjadi perdebatan antara kaum Ansar (penduduk Madinah) dan Muhajirun (pendatang dari Mekah). Mayoritas sahabat akhirnya menyepakati Abu Bakr Ash-Shiddiq sebagai pemimpin melalui mekanisme konsensus. Namun demikian, sekelompok kecil sahabat meyakini bahwa Nabi telah mengisyaratkan Ali bin Abi Thalib—sepupu sekaligus menantu Nabi—sebagai penerus sah melalui wasiat ilahi.

Peristiwa ini melahirkan dua konsep otoritas:

  • Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah): Menekankan pada Khilafah, di mana pemimpin adalah sosok yang terpilih melalui musyawarah atau konsensus umat.
  • Syiah (Syi’atu Ali): Menekankan pada Imamah, di mana pemimpin harus berasal dari Ahlul Bayt (keluarga Nabi) dan memiliki otoritas spiritual yang bersifat turun-temurun dan maksum (terjaga dari dosa).
Baca Juga :  Polda Metro Jaya Tegaskan Penertiban Pendemo, Kelompok Anarkis Dipisah dari Mahasiswa & Buruh

2. Perang Shiffin dan Kristalisasi “Syi’atu Ali”

Ketegangan politik ini mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656–661 M). Ali harus menghadapi tantangan dari Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Suriah saat itu, yang berujung pada Perang Shiffin.

Selanjutnya, perang tersebut berakhir dengan proses arbitrase (Tahkim) yang kontroversial. Peristiwa ini sangat krusial karena menyebabkan kelompok pendukung Ali, yang disebut sebagai Syi’atu Ali (Partai Ali), mulai mengkristal secara politik dan identitas. Di sisi lain, muncul pula kelompok Khawarij yang keluar dari barisan Ali karena menolak proses arbitrase tersebut. Pembunuhan Ali oleh seorang anggota Khawarij pada tahun 661 M secara praktis mengakhiri era Khulafaur Rasyidin dan memulai dominasi Dinasti Umayyah di bawah Muawiyah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

3. Tragedi Karbala: Titik Balik Emosional

Peristiwa paling menentukan dalam identitas Syiah terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah (680 M). Cucu Nabi, Husain bin Ali, menolak memberikan sumpah setia kepada Yazid bin Muawiyah yang ia anggap sebagai penguasa zalim.

Husain bersama keluarga dan pengikut setianya yang berjumlah sedikit kemudian dihadang oleh ribuan pasukan Yazid di padang Karbala, Irak. Akibatnya, Husain dan hampir seluruh anggota keluarganya tewas secara tragis. Oleh karena itu, Tragedi Karbala bertransformasi dari sekadar kekalahan militer menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan bagi kaum Syiah. Syahidnya Husain memberikan dimensi emosional yang mendalam bagi pengikut Syiah, yang hingga kini mereka peringati setiap tahun sebagai momen duka dan refleksi identitas.

Baca Juga :  Motor Hilang, Warga Tanggamus Kaget Pelakunya Anak Kandung Sendiri

4. Evolusi Hadits dan Praktik Ibadah

Seiring berjalannya waktu, perbedaan politik ini merambah ke aspek hukum dan ritual harian. Pasalnya, kedua kelompok mulai mengembangkan metodologi yang berbeda dalam memverifikasi sumber hukum Islam.

Selain itu, perbedaan mencolok terlihat pada penggunaan Hadits:

  • Sunni: Mengandalkan enam kitab hadits utama (Kutubus Sittah), dengan penekanan pada validitas perawi dari kalangan sahabat Nabi tanpa kecuali.
  • Syiah: Hanya menerima hadits yang diriwayatkan melalui jalur keluarga Nabi (Ahlul Bayt). Mereka memiliki kitab rujukan utama seperti Al-Kafi.

Perbedaan sumber ini menyebabkan variasi dalam praktik ibadah, seperti tata cara wudu, posisi tangan dalam shalat, hingga durasi waktu berbuka puasa. Meskipun begitu, kedua sekte ini tetap memiliki fondasi yang sama dalam Rukun Iman dan Rukun Islam.

Kesimpulan: Diplomasi di Atas Perbedaan

Akar sejarah Sunni-Syiah membuktikan bahwa agama dan politik sering kali berkelindan dalam membentuk sejarah dunia. Pada akhirnya, memahami akar pembelahan ini bukan bertujuan untuk memperlebar jurang pemisah, melainkan untuk membangun empati dan pemahaman lintas batas.

Sebab, di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah saat ini, pemahaman sejarah yang objektif menjadi tameng utama terhadap provokasi yang ingin memicu konflik sektarian demi kepentingan kekuasaan sesaat. Kedamaian sejati hanya akan terwujud saat kedua kelompok mampu menghargai perbedaan sejarah tersebut sebagai bagian dari kekayaan tradisi intelektual Islam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB