JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kebohongan dan misinformasi tampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Meskipun sering dianggap sebagai masalah modern akibat internet, fenomena ini sebenarnya sudah ada setua peradaban manusia.
Orang telah berbohong satu sama lain sejak bahasa tercipta. Menipu orang lain sering kali memberikan keuntungan strategis atau melindungi ikatan sosial. Namun, kita kini hidup di era yang berbeda. Teknologi memungkinkan informasi—benar atau salah—menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik.
Potensi dampak buruknya pun membengkak. Peneliti seperti Stephan Lewandowsky dan Elizabeth Marsh memperingatkan bahwa misinformasi dapat memengaruhi sikap dan perilaku kita secara tidak sadar. Akibatnya, kerukunan sosial dan iklim politik menjadi korban utamanya.
Otak Kita “Naif” Sejak Lahir
Mengapa kita begitu rentan terhadap hoaks? Jawabannya terletak pada cara kerja otak kita. Perdebatan filosofis klasik antara René Descartes dan Baruch Spinoza pada abad ke-17 memberikan petunjuk penting.
Descartes berpendapat bahwa manusia hanya menerima informasi setelah memverifikasi kebenarannya. Sebaliknya, Spinoza memiliki pandangan yang lebih pesimis namun akurat. Ia berargumen bahwa manusia secara default menerima semua informasi sebagai kebenaran terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita memverifikasi atau menolaknya lewat proses kognitif terpisah.
Penelitian modern mendukung teori Spinoza. Ternyata, otak kita memproses skeptisisme di bagian yang berbeda dari bagian pemrosesan informasi. Oleh karena itu, saat kita lelah atau teralihkan, kita cenderung menelan mentah-mentah apa pun yang kita baca sebagai fakta.
Media Gagal Memblokir Sejak Awal
Masalah kedua terletak pada sistem media kita. Media elektronik dan cetak sering kali gagal memblokir misinformasi sebelum mencapai audiens.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Amerika Serikat, misalnya, badan regulasi seperti FDA cenderung fokus pada deteksi pasca-kejadian (post hoc detection). Mereka memantau iklan obat yang menyesatkan setelah iklan tersebut tayang, bukan menyensornya sejak awal.
Meskipun ada program pelaporan seperti ‘Bad Ad’, kerusakan sering kali sudah terjadi. Informasi palsu sudah terlanjur menyebar dan memengaruhi persepsi publik sebelum sempat ditarik.
Mahal dan Sulitnya Meluruskan Fakta
Poin ketiga adalah yang paling menantang. Meluruskan misinformasi (countering misinformation) ternyata jauh lebih sulit dan mahal daripada menyebarkannya.
Kampanye korektif membutuhkan sumber daya besar untuk mencapai jangkauan yang sama luasnya dengan hoaks yang viral. Selain itu, audiens harus mampu memahami pesan koreksi tersebut.
Sayangnya, literasi media masyarakat masih rendah. Banyak orang bahkan tidak bisa membedakan antara berita palsu yang jelas salah dengan berita fakta saat membaca sekilas.
Pada akhirnya, perang melawan misinformasi adalah perjalanan panjang. Tidak ada solusi instan atau peluru perak. Kita membutuhkan upaya terkoordinasi yang terus-menerus, mulai dari pendidikan literasi sejak dini hingga pengembangan alat pemantauan yang lebih canggih.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















