WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 menyaksikan paradox keamanan yang sangat mencolok. Amerika Serikat tetap tenang meskipun Inggris memiliki ratusan hulu ledak nuklir yang mampu menghancurkan New York. Namun, Washington meluncurkan perang besar hanya untuk mencegah Iran memiliki satu perangkat nuklir.
Mengapa reaksi ini sangat berbeda? Konstruktivisme menjelaskan bahwa ancaman bukanlah sekadar masalah fisik atau jumlah senjata. Dalam konteks ini, ancaman adalah hasil dari konstruksi sosial dan persepsi identitas antarnegara.
Makna di Balik Senjata: Bukan Sekadar Angka
Pandangan Realisme tradisional selalu menghitung kekuatan berdasarkan jumlah tank, pesawat, dan rudal. Namun, realitas menunjukkan bahwa angka-angka tersebut tidak memiliki makna tanpa konteks sosial. Alexander Wendt menegaskan bahwa “makna” di balik senjata jauh lebih penting daripada senjata itu sendiri.
Inggris memiliki ratusan rudal nuklir, tetapi Amerika Serikat tidak pernah merasa terancam. Oleh karena itu, kekuatan militer Inggris dipandang sebagai “kekuatan kawan” yang justru memperkuat keamanan Amerika. Sebaliknya, kemajuan teknologi nuklir Iran dianggap sebagai ancaman eksistensial. Perbedaan ini membuktikan bahwa identitas aktor yang memegang senjata lebih menentukan daripada daya ledak senjata tersebut.
Identitas “Kawan” yang Menghapus Ketakutan
Persahabatan antara AS dan Inggris tidak tumbuh secara instan. Identitas sebagai “Negara Demokrasi Barat” menciptakan rasa saling percaya yang mendalam selama puluhan tahun. Akibatnya, kedua negara tidak lagi memandang satu sama lain melalui kacamata persaingan militer.
Dalam hal ini, identitas kolektif sebagai sekutu strategis mengubah fungsi senjata nuklir. Senjata Inggris menjadi instrumen perlindungan bersama dalam persepsi Washington. Selanjutnya, kesamaan nilai budaya dan sistem politik memperkuat keyakinan bahwa Inggris tidak akan pernah menyerang AS. Identitas “kawan” secara otomatis menurunkan status senjata mematikan menjadi simbol kerja sama pertahanan.
Narasi Sejarah dan Konstruksi Musuh
Berbeda dengan Inggris, hubungan AS-Iran terjebak dalam memori konflik yang kelam sejak Revolusi 1979. Oleh sebab itu, setiap langkah teknologi Iran selalu mendapatkan label negatif oleh elit politik di Washington. Narasi sejarah yang penuh kecurigaan membangun identitas Iran sebagai “lawan” atau “negara nakal” (rogue state).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, media dan pemerintah AS secara konsisten membingkai Iran sebagai aktor yang tidak rasional. Secara simultan, narasi ini menciptakan persepsi sosial bahwa Iran akan segera menggunakan nuklir jika memilikinya. Konstruksi ancaman ini menjadi pembenaran bagi aksi militer yang masif di tahun 2026. Padahal, kalkulasi militer murni menunjukkan bahwa Iran mungkin tidak akan pernah menggunakan senjata tersebut karena risiko balasan yang mematikan.
Keamanan adalah Masalah Persepsi
Kasus nuklir Inggris dan Iran menunjukkan bahwa anarki internasional tidak memaksa negara untuk selalu curiga. Pada akhirnya, cara kita melihat satu sama lain menentukan apakah sebuah senjata menjadi jaminan keamanan atau pemicu perang. Oleh karena itu, diplomasi seharusnya fokus pada perbaikan identitas dan hubungan sosial, bukan sekadar membatasi jumlah hulu ledak. Dengan demikian, dunia dapat menjadi lebih damai jika kita mampu mendobrak konstruksi ancaman yang berakar pada prasangka masa lalu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















