LONDON, POSNEWS.CO.ID – Semua orang ingin bahagia. Itu naluri dasar manusia. Namun, apa sebenarnya resep untuk mencapai kondisi tersebut? Jawaban dari dunia sains ternyata jauh dari klise kartu ucapan motivasi.
Banyak psikolog kini menggunakan metode ilmiah untuk memahami sifat dasar kebahagiaan. Temuan mereka mungkin akan mengejutkan Anda.
Fakta pertama yang paling menohok: Kebahagiaan ternyata adalah sifat konstitusional. Studi terhadap anak kembar (identik dan non-identik) memungkinkan ilmuwan menghitung bahwa 50-60% dari kebahagiaan yang dirasakan seseorang bergantung pada gen.
Orang-orang yang secara genetik stabil secara emosional, mudah bergaul, dan teliti, cenderung lebih bahagia. Jadi, sebagian dari “bakat bahagia” memang sudah tertulis dalam DNA kita sejak lahir.
Mitos Uang dan Jebakan Hedonisme
Banyak orang percaya uang adalah kunci kebahagiaan. Sains membantahnya dengan tegas.
Tentu, keluar dari kemiskinan meningkatkan kebahagiaan. Namun, begitu kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan kekayaan tidak otomatis meningkatkan kebahagiaan.
Ambil contoh pemenang lotre. Mereka mungkin merasakan lonjakan kegembiraan sesaat. Namun, studi menunjukkan bahwa kegembiraan itu tidak bertahan lama. Mereka segera terbiasa (habituated) dengan uang tersebut. Parahnya, kekayaan mendadak sering kali menjauhkan mereka dari teman lama, pekerjaan, dan identitas yang selama ini memberi makna hidup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Belanja? Sama saja. Membeli barang hanya memberikan letupan kesenangan jangka pendek. Satu-satunya jenis belanja yang terbukti memberikan kebahagiaan jangka panjang adalah saat kita membelikan sesuatu untuk orang lain.
Bukan Pil atau Botol
Kebahagiaan juga tidak datang dalam bentuk cair atau tablet. Alkohol mungkin meringankan suasana hati sesaat di pesta, tetapi penyalahgunaannya menghancurkan tubuh dan hubungan. Demikian pula obat-obatan terlarang seperti kokain; mereka memberikan euforia singkat dengan harga mahal yang harus dibayar saat efeknya hilang.
Resep Nyata: Makna dan Kendali Diri
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan 40-50% sisa kebahagiaan yang berada dalam kendali kita?
- Ambil Kendali: Sadari bahwa kita bukan korban pasif. Adopsi sikap positif dan bangun harga diri.
- Kurangi Kekhawatiran: Jika masalah bisa diselesaikan, lakukan. Jika tidak, berhenti mengkhawatirkannya. Rasa humor adalah penawar ampuh untuk depresi.
- Temukan Makna: Orang bahagia tidak sekadar menjalani hidup mengalir. Mereka memiliki tujuan—baik itu iman, nilai keluarga, atau ambisi karier—yang memberi identitas.
- Tetap Aktif: Sibuklah dengan kegiatan yang memuaskan kebutuhan batin, bukan sekadar sibuk. Menjadi sukarelawan atau membantu orang lain terbukti ampuh menciptakan kebahagiaan, terutama bagi lansia.
Paradoks terbesar dari semuanya adalah: Orang yang paling bahagia tampaknya adalah mereka yang tidak secara aktif mengejarnya. “Mengejar kebahagiaan” bisa menjadi kontraproduktif. Kebahagiaan sering kali muncul sebagai produk sampingan dari siapa kita dan apa yang kita lakukan untuk orang lain.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















