Mengapa Uang Tidak Membeli Kegembiraan dan Gen Menentukan 50% Nasibmu?

Minggu, 25 Januari 2026 - 19:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pemenang lotre ternyata tidak lebih bahagia daripada orang biasa. Psikolog mengungkap bahwa kebahagiaan sebagian besar adalah

Ilustrasi, Pemenang lotre ternyata tidak lebih bahagia daripada orang biasa. Psikolog mengungkap bahwa kebahagiaan sebagian besar adalah "bakat" genetik, bukan hasil belanja. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Semua orang ingin bahagia. Itu naluri dasar manusia. Namun, apa sebenarnya resep untuk mencapai kondisi tersebut? Jawaban dari dunia sains ternyata jauh dari klise kartu ucapan motivasi.

Banyak psikolog kini menggunakan metode ilmiah untuk memahami sifat dasar kebahagiaan. Temuan mereka mungkin akan mengejutkan Anda.

Fakta pertama yang paling menohok: Kebahagiaan ternyata adalah sifat konstitusional. Studi terhadap anak kembar (identik dan non-identik) memungkinkan ilmuwan menghitung bahwa 50-60% dari kebahagiaan yang dirasakan seseorang bergantung pada gen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang-orang yang secara genetik stabil secara emosional, mudah bergaul, dan teliti, cenderung lebih bahagia. Jadi, sebagian dari “bakat bahagia” memang sudah tertulis dalam DNA kita sejak lahir.

Mitos Uang dan Jebakan Hedonisme

Banyak orang percaya uang adalah kunci kebahagiaan. Sains membantahnya dengan tegas.

Baca Juga :  Gelombang Maut Mengintai, BMKG Warning Siklon 96S - Warga Pesisir Diminta Siaga Total

Tentu, keluar dari kemiskinan meningkatkan kebahagiaan. Namun, begitu kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan kekayaan tidak otomatis meningkatkan kebahagiaan.

Ambil contoh pemenang lotre. Mereka mungkin merasakan lonjakan kegembiraan sesaat. Namun, studi menunjukkan bahwa kegembiraan itu tidak bertahan lama. Mereka segera terbiasa (habituated) dengan uang tersebut. Parahnya, kekayaan mendadak sering kali menjauhkan mereka dari teman lama, pekerjaan, dan identitas yang selama ini memberi makna hidup.

Belanja? Sama saja. Membeli barang hanya memberikan letupan kesenangan jangka pendek. Satu-satunya jenis belanja yang terbukti memberikan kebahagiaan jangka panjang adalah saat kita membelikan sesuatu untuk orang lain.

Bukan Pil atau Botol

Kebahagiaan juga tidak datang dalam bentuk cair atau tablet. Alkohol mungkin meringankan suasana hati sesaat di pesta, tetapi penyalahgunaannya menghancurkan tubuh dan hubungan. Demikian pula obat-obatan terlarang seperti kokain; mereka memberikan euforia singkat dengan harga mahal yang harus dibayar saat efeknya hilang.

Baca Juga :  Inovasi Rumah Kaca Air Laut Charlie Paton Hijaukan Gurun

Resep Nyata: Makna dan Kendali Diri

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan 40-50% sisa kebahagiaan yang berada dalam kendali kita?

  1. Ambil Kendali: Sadari bahwa kita bukan korban pasif. Adopsi sikap positif dan bangun harga diri.
  2. Kurangi Kekhawatiran: Jika masalah bisa diselesaikan, lakukan. Jika tidak, berhenti mengkhawatirkannya. Rasa humor adalah penawar ampuh untuk depresi.
  3. Temukan Makna: Orang bahagia tidak sekadar menjalani hidup mengalir. Mereka memiliki tujuan—baik itu iman, nilai keluarga, atau ambisi karier—yang memberi identitas.
  4. Tetap Aktif: Sibuklah dengan kegiatan yang memuaskan kebutuhan batin, bukan sekadar sibuk. Menjadi sukarelawan atau membantu orang lain terbukti ampuh menciptakan kebahagiaan, terutama bagi lansia.

Paradoks terbesar dari semuanya adalah: Orang yang paling bahagia tampaknya adalah mereka yang tidak secara aktif mengejarnya. “Mengejar kebahagiaan” bisa menjadi kontraproduktif. Kebahagiaan sering kali muncul sebagai produk sampingan dari siapa kita dan apa yang kita lakukan untuk orang lain.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela

Berita Terbaru