BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Tiongkok resmi meningkatkan belanja militernya sebesar 7 persen pada tahun 2026. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan upaya sistematis Beijing untuk memodernisasi militer secara total pada tahun 2035.
Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan rencana tersebut dalam pembukaan pertemuan tahunan parlemen. Tiongkok mengalokasikan anggaran sebesar 1,91 triliun yuan (sekitar $277 miliar). Meskipun angka ini tergolong besar bagi kawasan Asia, nilai tersebut hanya sekitar seperempat dari anggaran pertahanan Amerika Serikat yang mencapai $1 triliun di bawah Presiden Donald Trump.
Fokus pada Kesiapan Tempur dan Modernisasi
Pemerintah Tiongkok berkomitmen untuk meningkatkan kesiapan tempur pasukannya secara signifikan. Li Qiang menekankan perlunya percepatan pengembangan “kemampuan tempur tingkat lanjut”.
Oleh karena itu, anggaran ini akan mengalir untuk pengembangan rudal, kapal perang, kapal selam, dan metode pengawasan mutakhir. “Langkah-langkah ini akan memperkuat kapasitas strategis kami untuk menjaga kedaulatan dan keamanan Tiongkok,” ujar Li Qiang. Ia juga menegaskan kembali kepemimpinan absolut Partai Komunis atas seluruh angkatan bersenjata Tiongkok.
Pembersihan Korupsi dan Stabilitas Komando
Kenaikan anggaran ini berlangsung di tengah gelombang pembersihan besar-besaran di jajaran perwira tinggi militer. Investigasi disipliner telah menjerat dua jenderal paling senior dalam beberapa bulan terakhir.
Zhang Youxia dan He Weidong kini resmi keluar dari struktur komando. Alhasil, Komisi Militer Pusat yang berkuasa kini hanya menyisakan dua dari tujuh anggota aslinya, termasuk Presiden Xi Jinping sebagai ketua. Meskipun pembersihan ini menciptakan celah dalam struktur komando, International Institute for Strategic Studies (IISS) menilai bahwa modernisasi militer Tiongkok akan tetap berlanjut tanpa hambatan berarti.
Garis Merah Taiwan dan Reaksi Jepang
Terkait isu Taiwan, Tiongkok tetap memegang posisi yang tidak kenal kompromi. Li Qiang bersumpah untuk melawan kekuatan separatis yang bertujuan memerdekakan Taiwan serta menolak segala bentuk campur tangan pihak asing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun begitu, Li menggunakan nada yang sedikit lebih lunak mengenai lingkungan internasional dengan menyebutnya sebagai “kompleks dan menantang”. Di Tokyo, Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengkritik kurangnya transparansi Beijing mengenai belanja pertahanan tersebut. Jepang berjanji akan terus memantau penguatan kapasitas militer Tiongkok sembari tetap berupaya membangun hubungan bilateral yang stabil dan konstruktif.
Dominasi Militer di Asia
Pertumbuhan anggaran militer Tiongkok secara konsisten melampaui negara-negara lain di Asia. Laporan IISS mencatat bahwa pangsa pengeluaran militer Tiongkok terhadap total belanja pertahanan di Asia tumbuh menjadi hampir 44 persen pada tahun 2025.
Dengan demikian, Beijing kini memantapkan posisinya sebagai kekuatan militer dominan di kawasan. Fokus utama dunia internasional saat ini adalah apakah peningkatan kapasitas ini akan memicu lebih banyak latihan militer di sekitar Selat Taiwan menjelang peringatan 100 tahun berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada tahun depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















