Nepal Peringatkan Potensi Banjir Susulan

Selasa, 1 September 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

Korban hilang banjir bandang Himalaya capai 3.044 orang dengan 750 tewas, sementara bantuan internasional terus mengalir ke Nepal. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, KATHMANDU — Otoritas Nepal memperingatkan potensi banjir susulan pada Minggu. Karena itu, mereka mendesak warga di distrik terdampak banjir agar tetap waspada tinggi setelah ketinggian air Sungai Bhotekoshi meningkat.

Notifikasi peringatan banjir dikirim ke ponsel warga pada Minggu pagi. Bersamaan dengan itu, tim penyelamat bekerja membersihkan jalan raya utama yang menghubungkan Kathmandu dengan salah satu wilayah paling parah terdampak banjir bandang dahsyat pada Rabu lalu. Banjir tersebut menewaskan sedikitnya 800 orang dan membuat lebih dari 3.000 orang hilang di Nepal dan Tibet.

Peningkatan Debit Air Picu Peringatan Baru

Peringatan terbaru muncul setelah otoritas China menginformasikan peningkatan debit air di hulu sungai kepada pihak Nepal. Dharam Raj Uprety, kepala eksekutif Badan Pengurangan dan Pengelolaan Risiko Bencana Nasional Nepal, menyampaikan hal tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, kantor berita resmi China, Xinhua, mengutip Kementerian Sumber Daya Air negara itu yang menyatakan sebuah danau baru yang terbentuk usai banjir Rabu di kawasan pegunungan sebagian besar telah surut. Namun, kementerian tersebut memperingatkan sebuah kawah sejauh 5,6 kilometer di hulu, yang menampung sekitar 1,4 juta meter kubik air, masih menyimpan risiko dan memerlukan pemantauan ketat.

Korban Tewas Bertambah, Ratusan WNA Masih Hilang

Badan penanggulangan bencana Nepal menyatakan pada Minggu jumlah korban tewas naik menjadi 788 orang dengan 2.502 orang masih hilang. Sementara itu, otoritas China melaporkan 16 orang tewas dan 546 orang hilang di sisi perbatasan mereka.

Di antara korban hilang, terdapat ratusan orang dari lebih selusin negara yang tengah bekerja, berwisata, atau berziarah ke gunung suci di kawasan tersebut. Pada Minggu, media pemerintah China menyebut 261 warga negara asing hilang di Tibet, termasuk lebih dari seratus warga Nepal dan warga negara lain dari berbagai penjuru dunia.

Baca Juga :  Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Internasional Sekaligus

Warga Dhading Mulai Kembali ke Rumah yang Hancur

Di Dhading, salah satu wilayah paling parah terdampak di Nepal, sebagian warga mulai kembali ke rumah mereka yang hancur untuk mencari barang yang masih bisa diselamatkan. Mereka duduk di rumah dengan dinding yang tersapu banjir sambil menyekop lumpur dan puing dari balkon maupun bingkai jendela.

Sebagian lainnya menyisir tanah untuk mencari barang yang bisa diambil dan dibersihkan dari lumpur. Seorang warga bahkan kembali untuk mencari ayam peliharaannya yang ternyata masih hidup, lalu mengikatnya dan membawanya di kabin truk.

Sharmila Tamang, warga Dhading yang berusaha menyelamatkan barang-barangnya, mengaku hampir semua miliknya hilang, termasuk rumahnya sendiri.

Di sebuah pembangkit listrik penting yang rusak parah akibat banjir, para pekerja mulai memeriksa fasilitas pada Minggu untuk menilai kerusakan. Pembangkit ini melayani lebih dari 20.000 orang di empat distrik.

Warga Waspadai Sungai yang Masih Deras

Di Kota Galchhi, sekelompok warga mencari dataran tinggi di sebuah jembatan terdekat sambil menyaksikan derasnya arus sungai. Sebagian menunjuk bebatuan besar yang terbawa arus sejak banjir sebelumnya, sementara warga lain di jembatan gantung diperingatkan lewat suara peluit agar segera menjauh.

Di sepanjang sungai, rumah, kendaraan, dan traktor pertanian tampak menyembul dari endapan lumpur tebal berwarna cokelat keabu-abuan yang menutupi sejumlah desa. Sebagian teras sawah di tepi sungai bahkan runtuh ke sungai akibat longsor.

Rumah dan tempat usaha yang masih utuh pun tetap tanpa listrik hingga Minggu, sementara tiang dan kabel listrik yang bengkok tergeletak terjerat di dalam lumpur.

Warga Kelelahan Hadapi Peringatan Berulang

Warga di desa-desa terdampak mengaku kesulitan memahami rentetan alarm peringatan yang terus mereka terima sejak banjir pertama melanda. Govind Shreshta, salah satu warga, mengaku harus berlari ke dataran tinggi setiap kali ada peringatan baru, bahkan pada malam hari saat hujan turun.

Ia menambahkan dirinya harus menggendong kedua orang tuanya yang berusia 72 dan 70 tahun setiap kali mengungsi, sehingga membuatnya kelelahan. Menurutnya, kondisi ini terus berulang bagi mereka yang masih bertahan hidup.

Baca Juga :  Gerakan Tanah Guncang Jawa Tengah, 76 KK Mengungsi - Rumah Retak dan Roboh

Sementara itu, sejumlah jembatan beton besar maupun jembatan gantung kecil turut hancur. Akibatnya, warga di seberang sungai kehilangan akses yang mudah ke wilayah lain.

Sattan Singh Tamang, pria 47 tahun yang tengah bekerja dekat sebuah jembatan saat banjir Rabu terjadi, mengatakan warga di kedua sisi sungai kini sama-sama terjebak dan menghadapi situasi yang sangat sulit.

Longsoran Gletser Jadi Pemicu Bencana

Banjir bandang pada Rabu bermula dari longsoran gletser di kawasan pegunungan Himalaya. Para ilmuwan yang meneliti citra satelit menemukan batuan dasar di bawah sebuah gletser runtuh dan menyeret sebagian gletser tersebut. Longsoran ini bahkan begitu dahsyat hingga tercatat setara gempa berkekuatan magnitudo 5,2.

Batuan dan lelehan air kemudian membesarkan aliran sungai di lembah-lembah di bawahnya. Akibatnya, terjadi terjangan air yang menyapu bangunan, jembatan, dan tanah ke hilir di Tibet maupun Nepal.

Nepal Serukan Respons Global untuk Perubahan Iklim

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyerukan respons global terhadap perubahan iklim. Ia menyebut Nepal menanggung dampak yang tidak sebanding dengan kontribusinya terhadap emisi global.

Pada Sabtu, Khanal menyampaikan bahwa Nepal hanya menyumbang 0,1 persen emisi global, namun warganya justru menjadi korban utama dampak perubahan iklim.

Para ilmuwan menyatakan masih terlalu dini untuk menarik kaitan langsung antara pemanasan global dengan bencana Rabu tersebut. Meski begitu, mereka menjelaskan peningkatan suhu bumi akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran minyak, gas, dan batu bara, memperbesar peluang terjadinya bencana serupa, khususnya di pegunungan Himalaya yang memanas jauh lebih cepat dibanding kawasan lain di dunia.

Malaysia Kirim Bantuan dan Tim Pencarian

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan pada Minggu negaranya akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan ke Nepal. Tim ini akan membantu upaya bantuan sekaligus mengevakuasi warga Malaysia yang terdampak bencana.

Selain itu, Malaysia turut menjanjikan bantuan dana sebesar USD 1 juta kepada Nepal, menurut pernyataan resmi Anwar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

Polisi mengungkap korban  Mozza Axillia dibunuh MDVA setelah cekcok akibat cemburu lalu jasadnya dibuang ke jurang Tol Jangli. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Misteri Mozza Terbongkar, Pelaku Ditangkap Saat Nonton Voli

Senin, 7 Sep 2026 - 06:05 WIB

Ilustrasi, Commuter Line tetap beroperasi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
(Posnews/KAI)

JABODETABEK

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Commuter Merak Tetap Jalan

Senin, 7 Sep 2026 - 05:51 WIB

Ilustrasi, cuaca cerah mendominasi Jabodetabek Senin 7 September 2026 dengan suhu hingga 35 derajat Celsius.
(Posnews/Ist)

JABODETABEK

Senin 7 September, Jabodetabek Cerah tapi Suhu Bisa Menyengat

Senin, 7 Sep 2026 - 05:41 WIB

Polisi membagikan masker kepada warga Bekasi untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Abu Anak Krakatau Menerpa Bekasi, Pengendara Dibagikan Masker

Minggu, 6 Sep 2026 - 21:17 WIB