JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pecinta kopi wajib mampir ke Kopi Bemo, kios legendaris yang berdiri sejak 1965 di Pasar Rawamangun, Jalan Pegambiran, Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Kini, pengunjung bisa menikmati 30 varian kopi Nusantara dengan harga ramah kantong, selain berbelanja sayur dan kue.
Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto, bersama Kepala Suku Dinas KPKP Taufik Yulianto dan Wakil Camat Pulo Gadung Agus Purwanto, sempat mencicipi kopi di sini.
“Menarik sekali. Di tengah pasar tradisional, ada barista kopi legendaris,” kata Kusmanto, Sabtu (26/9/2025). Ia berharap Kopi Bemo bisa mendongkrak jumlah pengunjung dan menghidupkan gairah pasar.
Sejarah dan Inspirasi Nama Kopi Bemo
Pemilik Kopi Bemo, Edward Nurjadi (49), generasi kedua penerus usaha pamannya, menjelaskan kios buka setiap hari pukul 06.00–16.00 WIB, kecuali hari libur hanya sampai pukul 14.00 WIB.
Nama Kopi Bemo terinspirasi dari pangkalan bemo di depan pasar, tempat sopir bemo sering mampir minum kopi sebelum kopi sachet populer.
Produksi dan Persaingan Kopi Nusantara
Dulu, Edward menggiling 100–120 kilogram biji kopi per hari: Robusta Lampung, Robusta Toraja, Arabica Toraja, Robusta Jawa Timur/Dampit, dan special blend.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, produksinya turun sekitar 30 kilogram per hari karena persaingan kopi sachet dan warung keliling. Belum termasuk pesanan Horeka dari luar Pulau Jawa.
Untuk tetap bersaing, Edward menyiapkan 30 varian kopi grade 1 dan 2 dari seluruh Nusantara. Harga per kilogram berkisar Rp160.000–Rp400.000, dari Robusta Lampung hingga Arabica Ijen.
Varian favorit antara lain Robusta Sidikalang Premium, Robusta Dampit, Robusta Vietnam (cocok dicampur susu), dan Robusta Aceh.
Kopi Bemo, Tempat Belajar Cita Rasa Kopi
Edward menekankan, Kopi Bemo bukan sekadar kios, tapi juga tempat belajar mengenal cita rasa kopi Nusantara.
“Setiap pembeli wajib mencicipi tester secangkir kopi sebelum membeli,” ucapnya.
Kedepannya, Edward berencana membuka kedai di lantai dasar dan melakukan roasting sendiri agar Pasar Rawamangun dikenal sebagai pusat kuliner kopi Nusantara.
“Harapannya, usaha ini bisa melestarikan dan mempromosikan kopi lokal yang kualitasnya setara kopi impor,” tutup Edward. (red)





















