Israel Bangun dan Putuskan Jalur Utama Lebanon Selatan

Jumat, 10 April 2026 - 09:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Serangan udara Israel menewaskan sepuluh warga sipil termasuk tenaga medis di Lebanon Selatan, sementara Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat tinggi keamanan Lebanon. Dok: Istimewa.

Serangan udara Israel menewaskan sepuluh warga sipil termasuk tenaga medis di Lebanon Selatan, sementara Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat tinggi keamanan Lebanon. Dok: Istimewa.

TEL AVIV, POSNEWS.CO.ID – Militer Israel merombak total peta kedaulatan di perbatasan utara melalui operasi pemutusan jalur logistik permanen. Langkah ini secara resmi menempatkan wilayah Lebanon Selatan ke dalam kondisi “perang abadi” di bawah doktrin keamanan baru Israel.

Dalam konteks ini, pasukan pertahanan kini fokus pada penyitaan teritorial melalui penghancuran infrastruktur strategis. Strategi ini merupakan bentuk pengakuan dari para pejabat militer bahwa musuh regional mereka tidak dapat pemerintah hilangkan sepenuhnya dalam waktu singkat.

Penghancuran Jembatan Terakhir di Sungai Litani

Jet tempur Israel menghancurkan jembatan terakhir yang menghubungkan Lebanon Selatan dengan wilayah utara pada hari Rabu. Jembatan yang membentang di atas Sungai Litani tersebut merupakan urat nadi logistik sipil dan militer yang tersisa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa area selatan Litani kini secara fisik telah “terputus dari Lebanon”. Sebagai hasilnya, Israel berupaya membangun kontrol mutlak di wilayah yang mencakup 15 persen luas negara tetangganya tersebut. Warga sipil yang masih bertahan di sana kini menghadapi kelangkaan pangan dan obat-obatan yang sangat akut akibat isolasi total tersebut.

Baca Juga :  Kepingan Logam di Gunung Takachiho yang Menyatukan Keluarga Korban PD II

Kemelut Gencatan Senjata: Antara “Hadiah” dan Agresi

Proses perdamaian yang diprakarsai Presiden Donald Trump menghadapi hambatan serius pada hari Rabu malam. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengancam akan membatalkan pembicaraan yang dijadwalkan mulai Sabtu depan.

Akibatnya, muncul sengketa mengenai cakupan gencatan senjata. Pihak Iran, Pakistan, dan Hezbollah meyakini bahwa kesepakatan tersebut mencakup wilayah Lebanon. Sebaliknya, Washington dan Tel Aviv bersikeras bahwa gencatan senjata dua pekan hanya berlaku antara AS dan Iran. Wakil Presiden JD Vance menyebut situasi ini sebagai “kesalahpahaman yang sah” dan menegaskan bahwa serangan terhadap Hezbollah tidak akan berhenti.

Tragedi Kemanusiaan dan “Gaza-isasi” Beirut

Kekerasan di lapangan telah merenggut nyawa lebih dari 1.500 orang di Lebanon, termasuk sedikitnya 130 anak-anak. Gempuran terbaru pada Rabu menyasar pusat kota Beirut tanpa peringatan dini, yang memaksa warga melarikan diri di tengah mimpi buruk ledakan.

Seorang warga, Naim Chebbo (51), menceritakan kepanikannya saat menyapu serpihan kaca jendela yang hancur. “Malam ini saya tidak akan tidur karena takut hal itu terjadi lagi. Saya hidup dalam mimpi buruk,” ujarnya kepada Reuters. Terlebih lagi, otoritas medis melaporkan jatuhnya korban di kalangan petugas medis dan jurnalis yang kian membengkak.

Baca Juga :  Trump Tolak Negosiasi Saat Korban Sipil Tembus 1.332 Jiwa

Risiko Hukum Internasional dan Beban Militer

Meskipun demikian, strategi zona penyangga ini mengundang kritik tajam dari para pakar hukum internasional. Penghancuran sistematis terhadap properti sipil dan rumah sakit di selatan dianggap melanggar norma hukum perang global. Presiden Perancis Emmanuel Macron telah menyatakan kesiapannya guna melakukan tekanan diplomatik baru agar Lebanon masuk ke dalam cakupan gencatan senjata.

Secara simultan, pengerahan ribuan personel untuk menjaga front di empat wilayah sekaligus mulai membebani kapasitas militer nasional Israel. Analis keamanan memperingatkan bahwa mempertahankan pos-pos di luar perbatasan internasional akan menguras sumber daya manusia secara signifikan. Pada akhirnya, kedaulatan militer Israel akan diuji oleh seberapa lama mereka mampu menanggung beban perang tanpa akhir ini di tengah kecaman diplomatik global tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Solusi Hukum dan Kebijakan Keterlanjutan Sawit
Respons Cepat Polairud Polda Metro, Lansia Sakit Dievakuasi ke Puskesmas Pulau Tidung
Panduan Mengurus STDB dan Perizinan Sawit Rakyat
Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Jakarta dan Bekasi Berawan, Bogor Hujan Ringan
Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang
KAI Tawarkan Tiket Murah 30 Persen Libur Sekolah, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Marco Rubio Kecam Sensor Ketat Tiongkok Jelang Peringatan Tragedi 1989
Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:07 WIB

Solusi Hukum dan Kebijakan Keterlanjutan Sawit

Sabtu, 6 Juni 2026 - 07:48 WIB

Respons Cepat Polairud Polda Metro, Lansia Sakit Dievakuasi ke Puskesmas Pulau Tidung

Sabtu, 6 Juni 2026 - 07:01 WIB

Panduan Mengurus STDB dan Perizinan Sawit Rakyat

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:37 WIB

Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Jakarta dan Bekasi Berawan, Bogor Hujan Ringan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:31 WIB

Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang

Berita Terbaru

Resolusi tumpang tindih lahan sawit. Pemerintah menerapkan skema penyelesaian hukum keterlanjutan kebun kelapa sawit di dalam kawasan hutan demi kepastian investasi hulu. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Solusi Hukum dan Kebijakan Keterlanjutan Sawit

Sabtu, 6 Jun 2026 - 08:07 WIB

Legalitas hulu kelapa sawit rakyat. Panduan teknis pengurusan STDB bagi petani swadaya guna mengamankan rantai pasok dan akses bantuan dana PSR. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Panduan Mengurus STDB dan Perizinan Sawit Rakyat

Sabtu, 6 Jun 2026 - 07:01 WIB

Ilustrasi, Pencarian di tengah ketidakpastian. Polisi dan sukarelawan Jepang menyisir pegunungan timur Kyoto untuk mencari James

INTERNASIONAL

Mahasiswa Asal AS James Higginbotham Hilang

Sabtu, 6 Jun 2026 - 06:31 WIB