Otoritas Kesehatan Lacak Penumpang MV Hondius

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membendung epidemi. Pejabat kesehatan di 12 negara melakukan pelacakan kontak besar-besaran terhadap penumpang kapal pesiar MV Hondius guna mengantisipasi penyebaran hantavirus strain Andes yang langka dan mematikan. Dok: Istimewa.

Membendung epidemi. Pejabat kesehatan di 12 negara melakukan pelacakan kontak besar-besaran terhadap penumpang kapal pesiar MV Hondius guna mengantisipasi penyebaran hantavirus strain Andes yang langka dan mematikan. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pejabat kesehatan di berbagai negara kini berada dalam siaga tinggi guna membendung potensi penyebaran hantavirus. Upaya ini muncul sebagai respons atas wabah mematikan di atas kapal pesiar yang telah merenggut tiga nyawa penumpang.

Meskipun hantavirus umumnya tidak mudah menular antarmanusia, pihak berwenang tidak ingin mengambil risiko. Oleh karena itu, mereka melakukan pelacakan kontak secara agresif untuk mengidentifikasi siapa saja yang pernah berinteraksi dengan korban meninggal atau pasien yang sakit selama pelayaran berlangsung.

Karakteristik Virus: Ancaman Strain Andes

Secara umum, manusia terinfeksi hantavirus melalui penghirupan residu kotoran pengerat yang terkontaminasi. Namun, wabah pada kapal pesiar ini melibatkan virus strain Andes yang berasal dari Amerika Selatan. Para ilmuwan meyakini bahwa strain ini merupakan salah satu dari sedikit jenis hantavirus yang mampu menyebar antarmanusia dalam kasus langka.

“Virus dapat berubah, dan kami mencoba mempelajari bagaimana tepatnya virus ini menyebar,” ujar seorang ahli penyakit menular. Saat ini, terdapat lima kasus yang terkonfirmasi, namun jumlah orang yang terpapar diprediksi jauh lebih besar. Meskipun demikian, sekitar 140 orang yang masih berada di atas kapal menuju Kepulauan Kanari dilaporkan tidak menunjukkan gejala sakit.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek 6–7 Januari 2026, Hujan Ringan hingga Lebat Mengintai

Pelacakan Internasional: Dari St. Helena ke Singapura

Otoritas di St. Helena, wilayah vulkanik Inggris di Atlantik Selatan, memantau sejumlah kecil orang yang terkategori sebagai “kontak risiko tinggi”. Mereka mewajibkan individu tersebut untuk menjalani isolasi selama 45 hari. Selain itu, Inggris melaporkan dua mantan penumpang yang terbang pulang di tengah perjalanan kini sedang mengisolasi diri secara mandiri.

Di Asia, otoritas kesehatan Singapura memantau dua pria yang turun di St. Helena sebelum terbang ke Afrika Selatan dan kembali ke Singapura. Kedua pria tersebut kini menjalani tes hantavirus dan berada dalam ruang isolasi di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular (NCID). Selanjutnya, otoritas di Texas, Amerika Serikat, berhasil menjangkau dua orang yang meninggalkan kapal pada 24 April. Keduanya menyatakan tidak memiliki gejala namun berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan suhu tubuh setiap hari.

Jejak Awal di Ushuaia, Argentina

Kementerian Kesehatan Argentina menduga kasus pertama bermula dari sebuah perjalanan pengamatan burung (birdwatching) di kota selatan Ushuaia. Tim ilmuwan dari Institut Malbrán berencana untuk segera bertolak ke wilayah tersebut dalam beberapa hari mendatang guna melakukan investigasi lapangan.

Baca Juga :  Minneapolis Lumpuh: Pemuka Agama Ditangkap

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, para ilmuwan sedang menganalisis genetika virus untuk melihat apakah telah terjadi mutasi yang membuatnya lebih mudah menular. Dr. Jeanne Marrazzo dari Infectious Diseases Society of America menjelaskan bahwa penularan kemungkinan besar terjadi melalui partikel cairan kecil yang keluar saat orang yang terinfeksi berbicara, batuk, atau bersin.

Menghadapi Ketidakpastian Transmisi

Proses pelacakan kontak ini menghadapi tantangan besar karena mobilitas manusia yang sangat tinggi di tahun 2026. Singkatnya, keberhasilan pencegahan epidemi ini bergantung pada kepatuhan individu untuk melaporkan gejala sekecil apa pun kepada otoritas medis.

Masyarakat internasional kini menanti hasil analisis laboratorium mengenai tingkat penularan virus ini. Dengan demikian, koordinasi lintas negara tetap menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa krisis di atas kapal MV Hondius tidak meluas menjadi ancaman kesehatan publik yang tidak terkendali di daratan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz
Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi
Erupsi Gunung Dukono Hari Ini: Puluhan Pendaki Tersesat dan Terluka, 2 WNA Dievakuasi
Kapal Selam Domestik Taiwan Narwhal Sukses Uji Tembak Torpedo
Hati-Hati Modus Penipuan Nobar Piala Dunia 2026, Polri Siapkan Hotline 110
CFD Jakarta Mulai Jam 05.30 WIB per 1 Juni 2026, Rasuna Said Jadi Lokasi Baru
Kebakaran Jagakarsa Tewaskan Anggota BPK Haerul Saleh, Diduga Dipicu Sisa Tiner Renovasi
Menelusuri Jejak Serangan AS yang Menewaskan 120 Anak

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:43 WIB

AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:29 WIB

Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:26 WIB

Erupsi Gunung Dukono Hari Ini: Puluhan Pendaki Tersesat dan Terluka, 2 WNA Dievakuasi

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:17 WIB

Kapal Selam Domestik Taiwan Narwhal Sukses Uji Tembak Torpedo

Jumat, 8 Mei 2026 - 12:35 WIB

Hati-Hati Modus Penipuan Nobar Piala Dunia 2026, Polri Siapkan Hotline 110

Berita Terbaru

Ujian stabilitas Teluk. Amerika Serikat dan Iran saling melepaskan tembakan dalam insiden paling serius sejak gencatan senjata April lalu, memicu kekhawatiran akan runtuhnya upaya damai saat Washington menanti respons nuklir Teheran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS dan Iran Terlibat Kontak Senjata Sengit di Selat Hormuz

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:43 WIB

Konsekuensi dari kekhalifahan. Tiga wanita Australia menghadapi ancaman penjara puluhan tahun setelah kembali dari kamp pengungsian Suriah. Dua di antaranya dituduh membeli budak wanita Yazidi seharga puluhan ribu dolar. Dok:   (Joel Carrett/AAP Image via AP)

INTERNASIONAL

Tiga Wanita Australia Didakwa Atas Kasus Perbudakan Yazidi

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:29 WIB

Langkah besar kedaulatan laut. Taiwan secara resmi merampungkan uji coba penembakan torpedo perdana pada kapal selam buatan sendiri,

INTERNASIONAL

Kapal Selam Domestik Taiwan Narwhal Sukses Uji Tembak Torpedo

Jumat, 8 Mei 2026 - 13:17 WIB