GOWA, POSNEWS.CO.ID – Jalanan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mendadak berubah menjadi tempat mengerikan.
Seorang pelajar SMA berusia 16 tahun dan seorang sales roti menjadi korban sabetan senjata tajam ketika melintas di Jalan Nuhung, Kelurahan Kale Bajeng, Kecamatan Bajeng.
Keduanya tidak sedang terlibat masalah. Mereka hanya berada di jalan ketika sekelompok pelajar berkonvoi menggunakan sepeda motor dan diduga mengayunkan senjata tajam ke arah pengguna jalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibat serangan tersebut, MS (16) mengalami luka robek sekitar 9 sentimeter pada bahunya. Korban bahkan harus menerima 18 jahitan di Puskesmas Bajeng.
Sementara itu, Akmal (28) mengalami luka pada bagian punggung dan juga membutuhkan penanganan medis.
Pulang Sekolah Malah Jadi Korban Bacokan
Peristiwa itu terjadi pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 17.00 WITA. Saat itu, MS sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti kegiatan di sekolah.
Situasi berubah dalam hitungan detik ketika korban berpapasan dengan kelompok pengendara motor. Salah seorang pelaku diduga mengayunkan senjata tajam hingga mengenai bahu korban.
MS kemudian dilarikan ke Puskesmas Bajeng. Luka sepanjang sekitar sembilan sentimeter membuat tenaga medis harus memberikan 18 jahitan.
Yang lebih memprihatinkan, serangan tersebut ternyata tidak berhenti pada satu korban. Akmal, sales roti yang juga melintas di lokasi, terkena sabetan senjata tajam pada bagian punggung.
Pelaku Diduga Serang Pengendara Secara Acak
Keterangan warga menyebut kelompok tersebut bergerak menggunakan sepeda motor sambil membawa senjata tajam. Mereka diduga mengayunkan senjata kepada pengendara yang berpapasan di jalan.
Informasi lain menyebut para pelaku mengenakan seragam sekolah. Namun, identitas mereka belum diketahui secara pasti.
Karena itu, polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan siapa saja yang terlibat dan bagaimana rangkaian kejadian sebenarnya.
Kasat Reskrim Polresta Gowa AKP Muhalis Hairuddin mengatakan penyidik telah mendatangi lokasi kejadian dan memeriksa kamera pengawas untuk mencari petunjuk.
“Penyidik telah mendatangi TKP untuk menemukan pelaku dengan memeriksa kamera. Pelaku ada empat orang,” kata Muhalis, Rabu (9/9/2026).
CCTV Jadi Kunci Pemburu Empat Pelaku
Kini polisi memburu empat orang yang diduga terlibat dalam aksi tersebut. Penyidik memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi dan meminta keterangan sejumlah saksi.
Langkah itu penting karena polisi perlu memastikan identitas setiap pelaku sebelum melakukan tindakan hukum. Selain itu, penyidik masih mendalami motif penyerangan.
Sampai pembaruan terbaru, belum ada informasi terverifikasi mengenai penangkapan keempat pelaku.
Dengan demikian, masyarakat diminta tidak menyebarkan identitas atau menuduh orang tertentu sebelum polisi memastikan berdasarkan bukti.
Geng Motor Jadi Ancaman Serius bagi Pengguna Jalan
Kasus ini kembali memperlihatkan bahaya aksi kriminal jalanan yang melibatkan remaja.
Senjata tajam yang dibawa ke jalan bukan hanya mengancam target tertentu, tetapi juga dapat melukai siapa saja yang kebetulan berada di jalur mereka.
Sebelumnya, Polresta Gowa juga menangkap 19 remaja yang diduga terlibat aksi geng motor setelah adanya laporan warga mengenai ancaman menggunakan senjata tajam dan busur panah.
Sebanyak 18 dari 19 remaja tersebut masih di bawah umur.
Kondisi ini menjadi alarm bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pengawasan terhadap pergaulan remaja perlu diperkuat, terutama ketika muncul indikasi membawa senjata tajam, melakukan konvoi, atau terlibat kelompok yang berpotensi melakukan kekerasan.
Sekolah juga dapat memperkuat edukasi mengenai konsekuensi hukum dan keselamatan ketika terjadi tawuran atau kekerasan jalanan.
Sementara itu, orang tua perlu membuka komunikasi dengan anak agar perubahan perilaku dapat diketahui sejak awal.
Warga Minta Patroli Diperkuat
Warga berharap kepolisian meningkatkan patroli, terutama pada jam pulang sekolah dan malam hari. Kehadiran petugas dinilai penting untuk mencegah aksi serupa kembali terjadi.
Bagi pengguna jalan, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan. Jika melihat kelompok yang membawa senjata tajam atau melakukan tindakan mencurigakan, masyarakat sebaiknya tidak melakukan konfrontasi. Segera mencari tempat aman dan menghubungi aparat.
Kasus pembacokan di Bajeng bukan sekadar kriminalitas biasa.
Seorang remaja yang seharusnya pulang dengan selamat justru harus menerima 18 jahitan, sementara seorang pekerja yang sedang mencari nafkah ikut menjadi korban.
Jalan raya semestinya menjadi ruang aman bagi semua orang. Karena itu, tindakan brutal dengan senjata tajam tidak boleh dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Polisi harus mengungkap pelakunya, sementara keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bersama-sama mencegah kekerasan serupa agar tidak kembali memakan korban. **
Editor : Hadwan













