Selat Hormuz: Iran dan Amerika Serikat Saling Serang

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jalan buntu di Doha. Delegasi Amerika Serikat dan Iran mengakhiri perundingan tidak langsung tanpa menghasilkan kemajuan perdamaian yang nyata. Dok: REUTERS/Stringer

Jalan buntu di Doha. Delegasi Amerika Serikat dan Iran mengakhiri perundingan tidak langsung tanpa menghasilkan kemajuan perdamaian yang nyata. Dok: REUTERS/Stringer

MANAMA, POSNEWS.CO.ID – Satu kapal tanker melaporkan hantaman proyektil misterius di Selat Hormuz pada hari Sabtu. Insiden ini memicu aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran, sekaligus menandai eskalasi terburuk sejak kedua negara menandatangani kesepakatan damai sementara.

Saling Tuding Pelanggaran Komitmen Damai

Kedua pihak yang bertikai saling menuduh lawan melanggar kesepakatan damai yang baru berusia dua minggu guna mengakhiri konflik empat bulan tersebut. Washington mengonfirmasi serangan udara militer AS menghantam sasaran-sasaran Iran sepanjang malam.

Sebaliknya, Teheran mengklaim pasukannya membalas dengan menyerang target yang memiliki hubungan dengan pasukan AS pada hari Sabtu. Serangan terhadap kapal tanker tersebut menyusul insiden serupa yang menimpa kapal kargo pada hari Kamis, yang menyulut eskalasi terbaru ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ambisi Iran Menguasai Jalur Energi Global

Iran kini melancarkan upaya baru untuk menegaskan kendali atas rute pelayaran energi terpenting di dunia tersebut. Jalur vital ini sebenarnya mulai beroperasi kembali selama dua pekan terakhir pasca gangguan berbulan-bulan akibat perang.

Badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi ledakan tersebut merusak bagian anjungan kapal tanker, meski seluruh kru selamat. Pusat Informasi Maritim Bersama—koalisi angkatan laut pelindung pelayaran komersial—langsung menaikkan tingkat ancaman keamanan akibat rentetan insiden terbaru ini.

Meskipun Iran tidak memberikan komentar langsung mengenai serangan spesifik tersebut, televisi pemerintah Iran melaporkan Garda Revolusi meluncurkan “tembakan peringatan” terhadap kapal-kapal tertentu. Pasukan Iran menargetkan kapal komersial yang mencoba melewati jalur pelayaran tanpa persetujuan Teheran. Langkah agresif ini memaksa kapal-kapal lain mencari izin pelayaran dari Iran sebelum melintasi selat tersebut.

Baca Juga :  Langit Jabodetabek Gelap, BMKG Ingatkan Potensi Hujan dan Angin Kencang

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran mengklaim pasukannya meluncurkan serangan “defensif” ke pangkalan militer yang terkoneksi dengan AS. Sementara itu, Bahrain, yang menampung markas besar Angkatan Laut AS di kawasan tersebut, melaporkan serangan drone Iran. Militer AS sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini.

Kegagalan Gencatan Senjata Regional

Iran menuduh Amerika Serikat gagal mematuhi kesepakatan sementara, terutama karena Washington gagal mempertahankan gencatan senjata di Lebanon. Sebab, sekutu AS, Israel, menginvasi Lebanon pada bulan Maret lalu guna memburu kelompok militer Hezbollah yang menerima dukungan penuh dari Iran.

Israel dan Lebanon berulang kali menyetujui gencatan senjata rancangan AS, termasuk kesepakatan terbaru pada hari Jumat. Namun, kesepakatan tersebut sejauh ini hanya memberikan dampak kecil secara keseluruhan. Israel bersikeras menolak menarik pasukan dari wilayah yang mereka kuasai, sementara Hezbollah berulang kali menolak seruan untuk menyerahkan senjata selama tentara Israel masih berada di wilayah Lebanon.

Penasihat Pemimpin Agung Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan Washington melanggar nota kesepahaman penghentian perang karena terus mendukung pasukan proksi di kawasan dan menciptakan ketegangan di Selat Hormuz. Selama konflik berlangsung, Iran membalas serangan AS dengan menggempur negara-negara tetangga di Teluk yang menampung pangkalan militer besar milik Amerika Serikat.

Televisi pemerintah Iran menyatakan Garda Revolusi memberikan “respons tegas” setelah pasukan AS menyerang menara komunikasi di kota pelabuhan Sirik. Sebaliknya, kantor berita Iran Mehr melaporkan pelabuhan tersebut tetap beroperasi normal tanpa mengalami kerusakan pada fasilitas atau peralatan. Di pihak lain, Bahrain menyebut serangan terbaru Iran melanggar nota kesepahaman damai.

Perebutan Rute Pelayaran dan Dampak Ekonomi

Blokade militer menahan ratusan kapal komersial, termasuk kapal tanker bermuatan minyak, di dalam kawasan Teluk sejak perang pecah. Saat kapal-kapal tersebut mulai melintasi selat selama dua minggu terakhir, harga minyak dunia langsung merosot mendekati level sebelum perang akibat lonjakan pasokan yang melimpah.

Baca Juga :  Rusia Menghantam Jembatan Utama di Kyiv Dua Hari

Namun, penyelesaian krisis energi global secara menyeluruh membutuhkan jaminan keamanan lalu lintas dua arah di selat tersebut. Washington kini menawarkan jalur pelayaran selatan sepanjang pantai Oman demi menghindari dominasi Iran. Sebaliknya, Teheran—yang berambisi menarik biaya lintasan selat—memaksa kapal komersial menggunakan rute utara melewati perairan di bawah kendali penuh mereka.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan pada hari Sabtu bahwa pasukannya akan menindak tegas setiap kapal yang melanggar instruksi pelayaran Iran.

Peringatan Keras JD Vance: Kekerasan Membalas Kekerasan

Wakil Presiden AS JD Vance selaku negosiator utama Amerika Serikat langsung melayangkan peringatan keras melalui media sosial X. Vance menegaskan bahwa pihak Amerika tetap menghormati kesepakatan damai, dan menuduh balik Iran sebagai dalang kegagalan gencatan senjata ini.

“Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Kami menghormatinya. Jika mereka memiliki ketidaksepahaman tentang penerapan nota kesepahaman ini, mereka bisa menelepon kami. Namun, kekerasan akan membalas kekerasan,” tulis Vance.

Sebagaimana pola yang sering terjadi sepanjang perang, eskalasi ini membara pada akhir pekan saat pasar keuangan tutup. Situasi ini memberikan waktu dua hari bagi kedua belah pihak untuk memperkeras posisi tawar dan saling balas tembakan tanpa langsung memengaruhi harga minyak dunia.

Sebelumnya, sikap keras pada hari Jumat dan Sabtu biasanya mereda menjelang pembukaan pasar pada hari Senin. Sebelum gelombang kekerasan baru ini pecah, harga minyak mentah sempat turun sekitar 3% pada hari Jumat, menuju penurunan mingguan yang cukup tajam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal
Donald Trump Fokus Renovasi Kolam Menjelang Pemilu
Mahkamah Agung AS Menolak Gugatan Pemerintah Trump
Korea Utara Bantah Tuduhan Amerika Serikat Terkait Pencurian
Presiden Pengadilan Internasional Merespons Sanksi
Ribuan Warga India Protes Kebijakan Penghapusan Daftar Pemilih
PM Kanada Dan Presiden AS Bahas Kesepakatan Perdagangan
Polisi Israel Bebaskan Tersangka Suap Pemilih, Upaya Likud

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 15:00 WIB

Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal

Kamis, 5 November 2026 - 13:49 WIB

Mahkamah Agung AS Menolak Gugatan Pemerintah Trump

Kamis, 5 November 2026 - 13:41 WIB

Korea Utara Bantah Tuduhan Amerika Serikat Terkait Pencurian

Kamis, 5 November 2026 - 10:38 WIB

Presiden Pengadilan Internasional Merespons Sanksi

Rabu, 4 November 2026 - 06:25 WIB

Ribuan Warga India Protes Kebijakan Penghapusan Daftar Pemilih

Berita Terbaru

Petugas gabungan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan menggunakan helikopter water bombing.

NASIONAL

1.468 Titik Panas Karhutla, Kalteng Paling Mengkhawatirkan

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:04 WIB

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman. (Posnews/Gerindra)

NASIONAL

DPR Dorong RUU Penyadapan, Privasi Warga Jadi Sorotan

Kamis, 5 Nov 2026 - 16:55 WIB

Kapolri Suyudi Ario Seto bersama Ketua Komisi Yudisial Abdul Chair Ramadhan membahas pengamanan hakim dan pengadilan. (Posnews/Humas Polri)

NASIONAL

Komisi Yudisial dan Polri Bahas Polisi Khusus Pengadilan

Kamis, 5 Nov 2026 - 16:44 WIB

PP Polri mendukung Kapolri Suyudi menangani kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit dan dua pejabat Polri. (Posnews/Humas Polri)

NASIONAL

Purnawirawan Polri Dukung Kapolri di Tengah Kasus Penyadapan

Kamis, 5 Nov 2026 - 16:13 WIB

Pemerintah Inggris memperpanjang masa tunggu izin tinggal tetap imigran menjadi sepuluh tahun. Simak aturan baru dan pengecualiannya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintah Inggris Gandakan Waktu Tunggu Izin Tinggal

Kamis, 5 Nov 2026 - 15:00 WIB