JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Beberapa tahun lalu, para pengamat memprediksi kematian industri buku cetak. Mereka yakin buku elektronik (e-book) dan gawai akan membunuh toko buku fisik. Namun, prediksi tersebut meleset total.
Penyelamat industri ini datang dari tempat yang paling tidak terduga. Bukan dari perpustakaan sunyi atau ulasan koran bergengsi, melainkan dari aplikasi video pendek yang berisik: TikTok.
Sebuah sudut kecil di internet bernama “BookTok” telah mengubah segalanya. Tagar ini telah mengumpulkan miliaran penonton. Seketika, novel-novel fisik kembali menjadi barang buruan panas di kalangan anak muda Gen Z.
Marketing Air Mata: Emosi di Atas Analisis
Cara orang merekomendasikan buku telah berubah drastis. Dulu, ulasan buku berfokus pada analisis plot, gaya bahasa, atau metafora sastra yang rumit.
Kini, BookTok menawarkan pendekatan yang jauh lebih visceral. Kreator konten merekam diri mereka sendiri yang sedang menangis tersedu-sedu setelah membaca bab terakhir sebuah novel.
Mereka melempar buku ke kasur karena frustrasi atau memeluknya erat sambil tersenyum. Lantas, reaksi emosional yang mentah inilah yang memicu viralitas. Penonton tidak peduli dengan teknik penulisan. Sebaliknya, mereka hanya ingin merasakan gejolak emosi yang sama.
Colleen Hoover dan Trope “Enemies to Lovers”
Dampak fenomena ini pada angka penjualan sungguh ajaib. Penulis lama yang bukunya sempat “tidur” di rak, tiba-tiba menjadi best-seller global. Colleen Hoover adalah contoh paling nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Novelnya yang rilis tahun 2016, It Ends with Us, meledak kembali bertahun-tahun kemudian berkat algoritma TikTok. Akibatnya, penerbit kewalahan mencetak ulang buku tersebut demi memenuhi permintaan pasar.
Selain itu, BookTok mengubah cara pembaca mencari buku. Mereka tidak lagi mencari berdasarkan genre luas seperti “romansa”.
Justru, mereka mencari berdasarkan trope atau pola cerita spesifik. Istilah seperti “enemies to lovers” (musuh jadi cinta) atau “fake dating” (pacaran pura-pura) kini menjadi kata kunci utama dalam pemasaran buku.
Literasi atau Sekadar Estetika?
Meskipun demikian, tren ini tidak lepas dari kritik pedas. Kaum puritan sastra sering kali memandang sebelah mata. Mereka menuduh BookTok hanya mempromosikan buku-buku pop yang “ringan” dan kurang berbobot.
Kritik lain menyasar pada aspek konsumerisme. Banyak pengguna membeli buku hanya demi estetika sampul (cover) yang cantik. Tujuannya, agar buku itu terlihat bagus saat mereka pajang di rak video mereka.
Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar membacanya? Fenomena tsundoku (menumpuk buku tanpa membacanya) tampaknya semakin subur di era ini.
Penyelamat di Era Digital
Pada akhirnya, kita tidak bisa menyangkal dampak positifnya. Toko buku yang dulu sepi kini kembali ramai oleh remaja. Mereka antusias mendiskusikan karakter fiksi favorit mereka.
BookTok berhasil membuat kegiatan membaca terlihat “keren” kembali. Maka, terlepas dari motifnya, aplikasi video pendek ini telah melakukan jasa besar. Ia membuktikan bahwa di dunia yang serba digital, kita masih merindukan aroma kertas dan kisah yang menyentuh hati.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















